Logo

UNUJA - Lembaga Pusat Layanan Masyarakat

PKM Pelatihan Etika Komunikasi Profesional bagi Santri SP3 untuk Penguatan Seni Berbicara

Bagikan:

Kamis, 21 Mei 2026

Diakses: 2 kali

Responsive image

L A P O R A N   A K H I R

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PKM Pelatihan Etika Komunikasi Profesional bagi Santri SP3 untuk Penguatan Seni Berbicara

 

 

 

 

Disusun oleh:

 

Ketua Tim

:

Durratul Hikmah, S.S., M.Pd

NIDN. 0716078901

Anggota

:

Adelia Citra Ramadani

NIM. 2242300032

 

 

 

 

 

Lembaga Penerbitan, Pengabdian, dan

Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M)

Universitas Nurul Jadid

Paiton Probolinggo

Tahun 2025

 

PKM Pelatihan Etika Komunikasi Profesional bagi Santri SP3 untuk Penguatan Seni Berbicara

 

Abstrak. Santri Patriot Panji Pelopor (SP3) merupakan komunitas santri terpilih yang memiliki peran strategis dalam dinamika kelembagaan pesantren. Mereka diberi tanggung jawab sebagai pengurus harian, petugas protokoler, pendamping santri baru, hingga representatif pesantren dalam berbagai forum internal dan eksternal. Dalam menjalankan peran-peran tersebut, santri SP3 dituntut memiliki keterampilan komunikasi yang profesional, santun, dan sesuai dengan nilai-nilai pesantren. Namun, observasi dan diskusi awal dengan mitra menunjukkan bahwa sebagian besar santri SP3 masih menghadapi berbagai kendala dalam aspek komunikasi, antara lain kurangnya pemahaman tentang prinsip etika komunikasi, gaya berbicara yang cenderung informal, serta kurang percaya diri dalam situasi komunikasi formal. Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, tim pengabdian melaksanakan pelatihan etika komunikasi profesional dengan pendekatan partisipatif dan kontekstual. Pelatihan dilaksanakan dalam satu sesi berdurasi 60 menit, diikuti oleh 114 santri SP3, dan bertempat di Pantai Duta. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, storytelling, permainan kolaboratif, dan refleksi. Materi pelatihan mencakup lima prinsip utama etika komunikasi: kejujuran, kesopanan, ketepatan waktu, menghargai perbedaan, dan tanggung jawab. Evaluasi dilakukan melalui refleksi tertulis dan lisan dari peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta mengalami peningkatan pemahaman, kesadaran, dan komitmen terhadap praktik komunikasi yang lebih baik. Kalimat-kalimat reflektif yang dituliskan peserta menunjukkan niat kuat untuk memperbaiki gaya komunikasi mereka, serta memahami pentingnya tanggung jawab dalam menyampaikan pesan. Mitra juga menyampaikan apresiasi dan mencatat adanya perubahan perilaku positif dari beberapa santri setelah pelatihan. Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal pembinaan komunikasi berkelanjutan di lingkungan SP3, serta mendukung penguatan karakter santri sebagai komunikator pesantren yang unggul.

 

Katakunci: etika komunikasi; pelatihan; santri

 

Abstract. Santri Patriot Panji Pelopor (SP3) is a community of selected students entrusted with strategic roles within the institutional structure of the pesantren. They are responsible for tasks such as daily management, serving as protocol officers, mentoring new students, and representing the pesantren in both internal and external forums. To fulfill these roles effectively, SP3 members are expected to possess professional communication skills that are not only effective and structured but also aligned with the values of the pesantren. However, initial observations and discussions with institutional partners revealed several challenges faced by the santri, including a limited understanding of communication ethics, informal speaking styles in formal settings, and a lack of confidence in public speaking. In response to these issues, a community service program was conducted in the form of a professional communication ethics training session. The training lasted for 60 minutes and involved 114 SP3 participants, taking place at Pantai Duta. The session employed a participatory and contextual approach, integrating interactive lectures, storytelling, collaborative games, and reflective activities. The training content emphasized five key principles of communication ethics: honesty, politeness, punctuality, respect for differences, and responsibility. Evaluation was carried out through both written and oral reflections by participants. The results indicated a significant increase in awareness, understanding, and commitment to ethical communication practices. Reflections written by the participants demonstrated a genuine intention to improve their communication style and a deeper appreciation of their responsibility in delivering messages. The pesantren management also expressed appreciation and noted observable positive behavioral changes among the santri following the training. This program is expected to serve as a foundational step toward continuous communication development within SP3, strengthening their identity as ethical and effective communicators who embody the pesantren's mission in broader social and institutional settings.

 

Keywords: communication ethics; santri; training;

.

 

BAB I

LATAR BELAKANG

 

  1. Analisis Situasi

Santri Patriot Panji Pelopor (SP3) merupakan komunitas santri pilihan yang terdiri atas mahasiswa aktif di lingkungan pesantren. Mereka dipersiapkan secara khusus untuk menjadi pion utama dalam berbagai lini kegiatan pesantren, mulai dari kepengurusan kelembagaan, tim protokoler pada acara resmi, event organizer, hingga peran sebagai komunikator internal dan eksternal(Shalihah & Tohet, 2020). Dalam kapasitas tersebut, mereka tidak hanya dituntut untuk memiliki integritas dan pemahaman keagamaan yang kuat, tetapi juga keterampilan komunikasi yang baik, karena mereka menjadi representasi langsung dari nilai dan citra pesantren di hadapan publik.

Kemampuan berkomunikasi bukan hanya soal berbicara, tetapi juga mencakup bagaimana menyampaikan pesan dengan cara yang tepat, etis, dan efektif sesuai konteks (Imelda et al., 2025). Dalam lingkungan pesantren yang kini semakin terbuka dan terlibat dalam kerja sama dengan berbagai pihak eksternal, keterampilan komunikasi profesional menjadi kebutuhan mendesak. Santri perlu mampu berbicara dengan penuh kepercayaan diri, namun tetap santun dan mencerminkan nilai-nilai pesantren (Ma’ruf & Purwanto, 2021). Tanpa kemampuan tersebut, peran strategis yang mereka emban berpotensi tidak maksimal, bahkan bisa menimbulkan miskomunikasi yang merugikan institusi (Mabaroh et al., 2021).

Komunikasi yang sehat dan menyenangkan akan tercipta apabila didasari oleh sikap saling menghargai antara para pelaku komunikasi (Siregar et al., 2022). Kesediaan untuk dengan rendah hati mendengarkan pendapat orang lain menjadi salah satu kunci penting dalam membangun komunikasi yang bermakna. Proses komunikasi akan lebih bernilai apabila pesan dan isi hati dapat disampaikan dengan tulus kepada lawan bicara (Putra et al., 2023). Untuk itu, suasana dan lingkungan tempat berkomunikasi juga perlu diperhatikan, karena komunikasi yang dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat akan menghasilkan interaksi yang lebih efektif dan memuaskan. Beberapa prinsip penting dalam komunikasi meliputi fokus pada lawan bicara, pembahasan yang terpusat pada inti masalah, tidak menyela saat orang lain berbicara, saling menghargai, serta menyisipkan humor seperlunya (Aulia et al., 2023). Sebaliknya, hal-hal yang sebaiknya dihindari dalam komunikasi antara lain penggunaan bahasa tidak baku, berbicara sambil melakukan aktivitas lain, terlalu banyak basa-basi, berbicara dengan nada tinggi, serta gaya bicara yang memerintah atau menghakimi (Nurhasanah et al., 2023). Etika komunikasi mencakup penggunaan bahasa sebagai simbol verbal, serta pesan-pesan nonverbal yang meskipun tidak menggunakan kata, tetap berperan penting dalam menyampaikan makna (Rambe et al., 2023). Dengan demikian, etika berbahasa tidak dapat dipisahkan dari komunikasi itu sendiri (Undari et al., 2022). Di sisi lain, maraknya penggunaan teknologi seperti e-learning dalam proses pembelajaran memunculkan tantangan baru, yaitu menurunnya nilai-nilai sosial dan etika komunikasi di kalangan siswa, baik dalam interaksi antar sesama maupun antara siswa dengan guru.

Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi dengan pihak pesantren, terdapat sejumlah permasalahan utama yang dihadapi SP3, antara lain:

  1. Santri belum memiliki pemahaman yang utuh mengenai prinsip-prinsip komunikasi profesional, terutama dalam konteks kelembagaan.
  2. Gaya komunikasi yang digunakan cenderung informal dan kurang memperhatikan norma kesantunan berbicara dalam situasi formal.
  3. Minimnya pelatihan khusus yang membekali santri dengan keterampilan berbicara yang efektif dan etis, baik dalam forum internal maupun eksternal.
  4. Beberapa santri mengalami kesulitan dalam mengelola intonasi, diksi, dan struktur kalimat saat berbicara di depan umum, sehingga pesan yang disampaikan tidak tersampaikan secara optimal.

Melalui kegiatan pelatihan seni berbicara dan etika komunikasi profesional ini, diharapkan para santri dapat meningkatkan kualitas komunikasi mereka secara signifikan, sehingga mampu mendukung peran strategis yang mereka jalankan di lingkungan pesantren dengan lebih percaya diri, efektif, dan profesional.

  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana meningkatkan kemampuan berbicara santri SP3 agar sesuai dengan prinsip etika komunikasi profesional dalam konteks kelembagaan pesantren?
  2. Apa bentuk pelatihan yang efektif untuk membekali santri SP3 dengan keterampilan berbicara yang santun, terstruktur, dan mencerminkan nilai-nilai pesantren?

 

  1. Tujuan dan Manfaat Pengabdian
  1. Meningkatkan keterampilan berbicara santri SP3 melalui pelatihan etika komunikasi profesional yang sesuai dengan kebutuhan tugas kelembagaan mereka.
  2. Mengembangkan model pelatihan yang efektif untuk membentuk gaya komunikasi santri SP3 yang santun, terarah, dan merepresentasikan nilai-nilai pesantren secara positif.

Melalui pendekatan yang integratif antara teori dan praktik, pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri, memperbaiki gaya komunikasi, serta menguatkan kesadaran santri terhadap pentingnya etika dalam berbahasa dan berinteraksi. Secara manfaat, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi langsung dalam meningkatkan kapasitas komunikasi santri SP3 sebagai bagian dari penguatan kelembagaan pesantren. Manfaat jangka panjangnya adalah terciptanya budaya komunikasi yang lebih sehat, efektif, dan beretika di lingkungan pesantren, sekaligus memperkuat citra pesantren sebagai lembaga yang adaptif dan profesional dalam menjawab tantangan zaman.

 

 

BAB II

METODE PELAKSANAAN

 

  1. Tahapan Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dirancang secara sistematis untuk menjawab kebutuhan mitra, yaitu Santri Patriot Panji Pelopor (SP3), dalam meningkatkan keterampilan komunikasi profesional. Kegiatan ini dilaksanakan dalam empat tahapan utama.

  1. Tahap pertama adalah koordinasi dan perencanaan. Kegiatan dimulai dengan koordinasi intensif antara tim pengabdi dan pihak mitra, yakni pengurus pesantren dan pembina SP3. Pada tahap ini, dilakukan diskusi untuk menyepakati bentuk pelatihan, menetapkan waktu dan tempat kegiatan, serta menetapkan daftar peserta. Tahap ini menjadi pondasi penting untuk memastikan keterlibatan aktif mitra sejak awal, serta mengintegrasikan pelatihan dengan agenda kelembagaan pesantren.
  2. Tahap kedua adalah penyusunan rencana sesi pelatihan. Tim pengabdi menyusun rencana pelatihan dalam bentuk satu sesi utama berdurasi 60 menit, dengan materi inti mengenai etika komunikasi profesional. Rencana sesi dirancang berbasis pendekatan partisipatif, dengan menggabungkan metode ceramah interaktif, storytelling, ice breaking, permainan kolaboratif, dan refleksi peserta. Materi berfokus pada lima prinsip dasar komunikasi etis: kejujuran, kesopanan, ketepatan waktu, menghargai perbedaan, dan tanggung jawab. Seluruh metode dan media pelatihan, seperti kertas metaplan, spidol, dan microphone, telah disiapkan dan diuji sebelum pelaksanaan.
  3. Tahap ketiga adalah pelaksanaan dan refleksi. Pelatihan dilaksanakan sesuai rencana di Pantai Duta dan diikuti oleh 114 santri SP3. Fasilitator membangun suasana pelatihan yang interaktif dan menyenangkan sejak awal dengan membagi peserta dalam kelompok dan melakukan permainan komunikasi nonverbal. Materi inti disampaikan melalui cerita yang relevan dengan pengalaman peserta, kemudian dilanjutkan dengan diskusi nilai-nilai komunikasi yang baik dan buruk. Puncak pelatihan adalah permainan pesan berantai yang menjadi sarana bagi peserta untuk memahami secara langsung pentingnya kejelasan, keakuratan, dan tanggung jawab dalam menyampaikan pesan.
  4. Pelatihan ditutup dengan sesi refleksi, di mana peserta diminta menuliskan satu kalimat komitmen tentang perubahan yang akan mereka lakukan dalam berkomunikasi. Komitmen tersebut kemudian dibacakan bersama dan ditempelkan sebagai simbol tanggung jawab pribadi dan kolektif. Tidak dilakukan pre-test atau post-test dalam pelatihan ini. Sebagai gantinya, refleksi peserta secara lisan dan tertulis digunakan sebagai instrumen utama untuk mengevaluasi capaian pelatihan, yang menunjukkan adanya kesadaran baru serta keinginan untuk memperbaiki praktik komunikasi mereka.
  1. Paritipasi Mitra

Partisipasi mitra dalam kegiatan ini sangat aktif dan terencana sejak tahap awal hingga pelaksanaan dan evaluasi. Pihak pengurus pesantren berperan dalam memberikan data awal mengenai peserta SP3, membantu menyusun jadwal pelatihan, serta menyediakan fasilitas dan sarana pelatihan. Selain itu, mitra juga mendampingi jalannya pelatihan dan memberikan masukan selama proses berlangsung. Keterlibatan aktif ini menjadikan kegiatan lebih relevan, kontekstual, dan selaras dengan kebutuhan serta budaya kelembagaan pesantren. Mitra juga menjadi penilai langsung terhadap dampak yang dirasakan peserta setelah mengikuti pelatihan.

  1. Pembagian Peran

Tim pelaksana pengabdian terdiri atas dosen sebagai ketua tim dan mahasiswa sebagai anggota. Ketua tim bertanggung jawab atas keseluruhan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Ia menyusun materi pelatihan, memfasilitasi jalannya sesi pelatihan, serta mengoordinasikan komunikasi dengan mitra. Ketua tim juga bertindak sebagai fasilitator utama dalam praktik simulasi dan refleksi akhir peserta.

Anggota tim, yang merupakan mahasiswa, mendukung kegiatan sebagai asisten pelatih. Tugas mereka mencakup pendataan peserta, dokumentasi kegiatan, serta membantu peserta saat sesi latihan berlangsung. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung tentang komunikasi profesional dan kontribusi sosial melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Pembagian tugas yang proporsional ini menjamin efektivitas kegiatan, sekaligus memberikan pengalaman praktis bagi anggota tim sesuai bidang keilmuan dan peran masing-masing.

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Implementasi Seni Berbicara melalui Pelatihan Etika Komunikasi Profesional bagi Santri Patriot Panji Pelopor (SP3)” telah terlaksana dengan baik dan sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi profesional para santri yang memiliki peran strategis di lingkungan pesantren, khususnya dalam tugas-tugas kelembagaan seperti menjadi pengurus, protokoler, dan komunikator dalam berbagai forum. Seluruh rangkaian kegiatan telah dilaksanakan melalui pendekatan yang sistematis, kolaboratif, dan partisipatif.

1. Koordinasi dan Perencanaan

Kegiatan diawali dengan proses koordinasi antara tim pengabdi dan pihak mitra, dalam hal ini pengurus pesantren dan pembina SP3. Koordinasi bertujuan untuk menyamakan persepsi mengenai urgensi dan bentuk kegiatan, menentukan waktu dan tempat pelaksanaan, serta membahas teknis pelibatan peserta. Mitra menunjukkan antusiasme dan dukungan penuh terhadap kegiatan ini karena sejalan dengan misi mereka dalam menyiapkan santri yang tidak hanya religius, tetapi juga komunikatif dan profesional.

Figure 1 Koordinasi dengan Pengurus pesantren

Tim pengabdi kemudian menyusun rencana pelatihan yang berbasis kebutuhan mitra dan karakteristik peserta. Rencana pelatihan dirancang dengan satu sesi utama yang mencakup pengenalan prinsip-prinsip dasar etika komunikasi profesional serta praktik komunikasi melalui permainan dan refleksi. Materi disusun agar mudah dipahami, aplikatif, dan kontekstual dengan kehidupan santri.

2. Pelaksanaan Kegiatan

Pelatihan dilaksanakan Pada Kamis, 01 Mei 2025 dalam satu sesi berdurasi 60 menit dan diikuti oleh 114 santri SP3. Kegiatan berlangsung di Pantai Duta dan dipandu langsung oleh fasilitator dari tim pengabdian. Sesi dimulai dengan pengantar ringan dan pembentukan kelompok kecil melalui permainan isyarat sebagai ice breaking. Tujuan dari kegiatan awal ini adalah untuk membangun suasana santai, membuka interaksi, serta menggugah kesadaran peserta akan pentingnya kejelasan dalam komunikasi.

Figure 2 Kegiatan Awal Pelatihan

Materi inti pelatihan disampaikan secara storytelling untuk memperkuat keterkaitan antara teori dan pengalaman nyata peserta. Fasilitator memperkenalkan lima prinsip utama etika komunikasi profesional, yaitu: kejujuran, kesopanan, ketepatan waktu, menghargai perbedaan, dan tanggung jawab. Masing-masing prinsip dijelaskan melalui cerita kontekstual yang dekat dengan keseharian santri, seperti komunikasi dalam kamar, koordinasi kegiatan, hingga komunikasi dengan pimpinan pesantren.

Peserta aktif berdialog dan berbagi pandangan terhadap contoh-contoh kasus yang disampaikan. Antusiasme peserta tampak dari partisipasi mereka dalam menjawab pertanyaan, memberikan komentar, serta menceritakan pengalaman pribadi yang relevan. Diskusi berlangsung hangat dan menunjukkan adanya kesadaran kritis terhadap pentingnya membangun komunikasi yang bukan hanya efektif, tetapi juga bermartabat.

Figure 3 Pesan Berantai

Pada bagian akhir pelatihan, peserta mengikuti permainan kolaboratif berupa “pesan berantai” (Figure 3) untuk menguji akurasi penyampaian informasi. Peserta menyadari bahwa pesan yang disampaikan tanpa memperhatikan etika, kejelasan, dan tanggung jawab berpotensi berubah makna, bahkan menimbulkan kesalahpahaman. Aktivitas ini menjadi momen penting dalam menginternalisasi nilai-nilai etika komunikasi secara praktis.

3. Refleksi dan Komitmen Peserta

Setelah seluruh kegiatan selesai, peserta diminta menuliskan satu kalimat komitmen tentang bagaimana mereka akan memperbaiki gaya komunikasi mereka ke depan. Kertas metaplan berisi komitmen tersebut kemudian dibacakan bersama dan ditempel sebagai simbol tanggung jawab bersama. Beberapa kalimat komitmen yang muncul antara lain: “Saya akan belajar mendengarkan sebelum berbicara,” “Saya akan menjaga sopan santun saat berbicara dengan teman dan guru,” dan “Saya akan bertanggung jawab atas semua ucapan saya.

Selain penulisan komitmen, sesi refleksi juga dilakukan secara lisan. Beberapa peserta secara sukarela membagikan pengalaman mereka selama mengikuti pelatihan, termasuk kesalahan komunikasi yang pernah mereka lakukan dan upaya perbaikan yang ingin mereka lakukan setelah mengikuti sesi ini. Refleksi ini menjadi indikator bahwa pelatihan telah menyentuh aspek afektif dan mampu mendorong transformasi sikap peserta terhadap praktik komunikasi mereka sehari-hari.

4. Respons Mitra dan Dampak Kegiatan

Mitra menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan ini, baik dari sisi substansi materi maupun metode penyampaian. Pembina SP3 menyatakan bahwa pelatihan ini sangat relevan dengan kebutuhan santri yang kerap tampil di depan publik atau berinteraksi secara kelembagaan. Mereka juga mengamati adanya peningkatan kepercayaan diri dan kesadaran etis dalam berkomunikasi pada sejumlah santri yang telah mengikuti pelatihan.

Seusai kegiatan, beberapa santri yang sebelumnya kurang percaya diri ketika tampil di forum resmi, mulai menunjukkan inisiatif untuk terlibat dalam tugas-tugas komunikasi seperti menjadi MC kegiatan pesantren, memimpin doa bersama, atau menyampaikan laporan di depan pembina. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga mendorong perubahan nyata dalam perilaku dan kesiapan peserta.

Selain itu, pelatihan ini turut memperkuat hubungan antara tim pengabdi dan pihak mitra, yang membuka peluang untuk pelaksanaan kegiatan kolaboratif lainnya di masa mendatang. Mitra bahkan menyatakan keinginan untuk mengembangkan pelatihan serupa secara internal dalam format mingguan atau bulanan sebagai bagian dari pembinaan SP3.

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

Program Pengabdian kepada Masyarakat dengan judul “Pelatihan Etika Komunikasi Profesional bagi Santri SP3 untuk Penguatan Seni Berbicara” telah dilaksanakan sesuai dengan rencana dan mencapai sasaran yang diharapkan. Pelatihan ini didesain dalam satu sesi interaktif yang memadukan metode ceramah partisipatif, storytelling, permainan kolaboratif, dan refleksi diri. Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini adalah 114 santri Patriot Panji Pelopor (SP3), yang memiliki peran strategis dalam dinamika kelembagaan pesantren.

Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai lima prinsip dasar etika komunikasi profesional, yaitu kejujuran, kesopanan, ketepatan waktu, menghargai perbedaan, dan tanggung jawab. Seluruh materi disampaikan dalam suasana yang menyenangkan dan kontekstual dengan kehidupan santri, sehingga memudahkan peserta dalam menyerap dan menginternalisasi nilai-nilai yang disampaikan.

Respon peserta sangat positif, yang tercermin melalui antusiasme mereka selama pelatihan, keterlibatan dalam diskusi dan simulasi, serta pernyataan reflektif yang mengandung komitmen untuk memperbaiki gaya komunikasi mereka. Pihak mitra, dalam hal ini pengurus pesantren dan pembina SP3, juga memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan dan menilai bahwa pelatihan ini telah memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas komunikasi para santri.

Adapun ketercapaian kegiatan tidak hanya terlihat dari aspek kognitif dan afektif, tetapi juga pada perubahan perilaku peserta yang mulai menunjukkan inisiatif dalam mengambil peran komunikasi di forum kelembagaan. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan yang dilaksanakan telah memenuhi tujuan program, yakni memberikan kontribusi terhadap peningkatan kapasitas santri dalam seni berbicara yang etis dan profesional.

Sebagai tindak lanjut, tim pengabdi merekomendasikan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkala, baik dalam bentuk pelatihan lanjutan maupun pendampingan tematik yang lebih spesifik. Selain itu, pembentukan komunitas belajar komunikasi internal di kalangan SP3 juga menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan dampak program.

Dengan pelaksanaan kegiatan ini, diharapkan akan tercipta budaya komunikasi yang lebih sehat, etis, dan efektif di lingkungan pesantren, serta mendukung pembentukan santri yang tidak hanya cakap secara spiritual dan intelektual, tetapi juga unggul dalam keterampilan sosial dan profesional.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aulia, S., Meicella, F., Joenice, A., & Herman, S. (2023). EDUKASI ETIKA KOMUNIKASI SISWA SEKOLAH SANGGAR SAJA. Jurnal Serina Abdimas, 1(4), Article 4. https://doi.org/10.24912/jsa.v1i4.28473

Imelda, B., Syafi’i, C. M., Palguna, D. S., Rahayu, D. D., & Chumaeson, W. (2025). Pentingnya Etika Berkomunikasi: Implementasi Seni Berbicara Anti Toxic. Journal Of Human And Education (JAHE), 5(1), Article 1. https://doi.org/10.31004/jh.v5i1.2097

Mabaroh, B., Bariroh, W., & Islamiyah, Z. (2021). PELATIHAN PUBLIC SPEAKING BAGI SANTRI PONDOK PESANTREN BAYT AL HIKMAH PASURUAN UNTUK BERKOMPETISI DI MUSABAQAH SYARHIL QURâ€TMAN. Jurnal PengaMAS, 4(1), 1–11. https://doi.org/10.33387/pengamas.v4i1.2152

Ma’ruf, M. A., & Purwanto, P. (2021). PENDAMPINGAN DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN PUBLIC SPEAKING SANTRI DI PONDOK PESANTREN MAMBA’UL HUDA KALIABU. Khidmatan, 9–14. https://doi.org/10.61136/khid.v1i1.3

Nurhasanah, S., Wulaningrum, R., Amirudin, A., & Kadafi, M. (2023). Sosialisasi Etika Berkomunikasi. Jurnal ETAM, 3(2), 241–245. https://doi.org/10.46964/etam.v3i2.533

Putra, S. K., Hafid, E., & Ahmad, A. (2023). Etika Berkomunikasi Dalam Presfektif Hadis. Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Sosial, 2(2), 79–89. https://doi.org/10.58540/jipsi.v2i2.218

Rambe, N. U., Khoiri, N., & Qarai, W. (2023). Etika Komunikasi di Media Sosial Tiktok Untuk Mengantisipasi Fenomena Bullying. Jurnal Manajemen Akuntansi (JUMSI), 4(1), 133–138. https://doi.org/10.36987/jumsi.v4i1.4753

Shalihah, H., & Tohet, M. (2020). IMPLEMENTASI TRILOGI SANTRI DALAM MENUMBUHKAN KESADARAN BERBANGSA DAN BERNEGARA DI PONDOK PESANTREN NURUL JADID PAITON PROBOLINGGO. Inspiratif Pendidikan, 9(2), 53. https://doi.org/10.24252/ip.v9i2.14620

Siregar, N. S. S., Vita, N. I., & Sari, W. P. (2022). Peningkatan Keterampilan Public Speaking dan Etika Komunikasi Bagi Pengurus dan Anggota Tim Penggerak PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga) se Kota Medan. Pelita Masyarakat, 4(1), 23–32. https://doi.org/10.31289/pelitamasyarakat.v4i1.6953

Undari, R., Muthali’in, A., & Prasetiyo, W. H. (2022). Etika komunikasi siswa dalam pembelajaran daring: Studi kualitatif pada pembelajaran PPKn. Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 3(1), 74–89. https://doi.org/10.23917/sosial.v3i1.623

 

Berita Terkait

PKM Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah Berbasis AI untuk Mahasiswa MPI Universitas Nurul Jadid

Kamis, 21 Mei 2026

PKM Pelatihan Pembuatan Sistem Penerangan Smart Street Lights Bertenaga Surya dengan Aplikasi Blynk Berbasis Internet of Things (IoT)

Rabu, 20 Mei 2026

PKM Pelatihan Sistem Informasi Berbasis Website untuk Pendataan Barang di Biro Kepesantrenan Nurul Jadid

Kamis, 21 Mei 2026

PEMBERDAYAAN SANTRI DALAM PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH MELALUI PEMERIKSAAN JENTIK NYAMUK DAN EDUKASI KESEHATAN DI PONDOK PESANTREN NURUL JADID

Rabu, 20 Mei 2026

Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291

Lembaga Pusat Layanan Masyarakat

© 2023 Universitas Nurul Jadid