Logo

UNUJA - Lembaga Pusat Layanan Masyarakat

PEMBERDAYAAN SANTRI DALAM PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH MELALUI PEMERIKSAAN JENTIK NYAMUK DAN EDUKASI KESEHATAN DI PONDOK PESANTREN NURUL JADID

Bagikan:

Rabu, 20 Mei 2026

Diakses: 0 kali

Responsive image

LAPORAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

 

 

 

PEMBERDAYAAN SANTRI DALAM PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH MELALUI PEMERIKSAAN JENTIK NYAMUK

DAN EDUKASI KESEHATAN DI PONDOK

PESANTREN NURUL JADID

 

Disusun Oleh:

Ketua Tim

:

Handono Fatkhur Rahman

0721068701

Anggota

:

Salman Alfarisi

2231800038

Anggota

:

Agus Kurniawan

2231800044

Anggota

:

Ahmad Darwis Ar Rauyani

2231800071

Anggota

:

Ali Wafa

2231800043

Anggota

:

Ananda Bintang Ramadhan

2231800074

Anggota

:

Andika Ainul Yakin

2231800021

Anggota

:

Ega Lazuardi Imani

2231800003

 

 

 

Lembaga Penerbitan, Pengabdian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M)

Universitas Nurul Jadid

Paiton Probolinggo

Tahun 2025

PEMBERDAYAAN SANTRI DALAM PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH MELALUI PEMERIKSAAN JENTIK NYAMUK DAN EDUKASI

KESEHATAN DI PONDOK PESANTREN NURUL JADID

 

ABSTRAK

 

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada lingkungan padat hunian seperti pesantren. Pondok Pesantren Nurul Jadid memiliki risiko tinggi terhadap penyebaran DBD karena kepadatan santri dan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan santri dalam pencegahan DBD melalui edukasi kesehatan dan pemeriksaan jentik nyamuk. Metode pelaksanaan meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok, pelatihan pemeriksaan jentik, dan praktik lapangan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre–post test serta pengamatan langsung keterlibatan santri. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan Angka Bebas Jentik (ABJ) dari 72,4% sebelum edukasi menjadi 89,7% setelah edukasi. Pengetahuan santri tentang pencegahan DBD juga meningkat, dari kategori baik sebesar 36% menjadi 73% setelah intervensi. Selain itu, 85% santri aktif melakukan pemeriksaan jentik mandiri dan menginisiasi kegiatan rutin “Jum’at Bersih”. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan partisipatif melalui edukasi kesehatan efektif dalam meningkatkan kesadaran dan perilaku pencegahan DBD, sekaligus membentuk kader santri peduli kesehatan sebagai agen perubahan di lingkungan pesantren.

 

Kata kunci: Demam Berdarah Dengue, edukasi kesehatan, pemberdayaan santri, pemeriksaan jentik, pesantren

 

 

 

 

ABSTRACT

 

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a significant public health problem in Indonesia, particularly in densely populated environments such as Islamic boarding schools (pesantren). Nurul Jadid Islamic Boarding School faces a high risk of DHF transmission due to its large number of students and environmental conditions that support the breeding of Aedes aegypti mosquitoes. This community service program aimed to improve students’ knowledge, attitudes, and skills in DHF prevention through health education and larval inspection activities. The methods included interactive lectures, group discussions, larval inspection training, and field practice. Evaluation was conducted using pre–post tests and direct observation of students’ participation. The results showed a significant increase in the Larvae-Free Index (LFI) from 72.4% before education to 89.7% after education. Students’ knowledge regarding DHF prevention also improved, with those in the “good” category increasing from 36% to 73% after the intervention. Furthermore, 85% of students actively performed independent larval inspections and initiated routine “Clean Friday” (Jum’at Bersih) activities. These findings highlight that a participatory approach through health education is effective in enhancing awareness and preventive behaviors against DHF, while also fostering student health cadres to act as agents of change within the pesantren environment.

Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever, health education, student empowerment, larval inspection, pesantren

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Halaman

ABSTRAK.. ii

ABSTRACT. iii

DAFTAR ISI iv

BAB 1. PENDAHULUAN.. 1

A.    Latar Belakang. 1

B.     Tujuan Pengabdian Kepada Masyarakat 2

C.     Manfaat Pengabdian Kepada Masyarakat 3

BAB 2. METODE PELAKSANAAN.. 4

BAB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN.. 6

A.    Hasil 6

B.     Pembahasan. 8

BAB 4. PENUTUP. 14

A.    Kesimpulan. 14

B.     Saran. 14

DAFTAR PUSTAKA.. 16

 

 

 

 

 

 

 

BAB 1. PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia (Utamo dkk., 2024) Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (Arkeman dkk., 2020). Kasus DBD cenderung meningkat pada musim hujan dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan nyamuk, seperti adanya genangan air, tempat penampungan air yang tidak tertutup, dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) (Priwahyuni & Lestari, 2020)

 

Pondok Pesantren (PP) Nurul Jadid sebagai salah satu institusi pendidikan berbasis asrama dengan jumlah santri yang besar, memiliki potensi risiko tinggi terhadap penyebaran penyakit menular, termasuk DBD (Dewi dkk., 2024). Aktivitas para santri yang padat dan lingkungan asrama yang padat menjadikan upaya promotif dan preventif sangat penting untuk menjaga kesehatan komunitas pesantren (Nugroho dkk., 2021).

 

Salah satu upaya preventif yang efektif dalam menekan angka kejadian DBD adalah dengan pemeriksaan jentik nyamuk dan edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) (Yuliana dkk., 2022). Melalui kegiatan ini, santri diharapkan tidak hanya memahami pentingnya pencegahan DBD, tetapi juga memiliki kemampuan untuk melakukan deteksi dini dan tindakan nyata dalam pengendalian vektor DBD di lingkungan mereka.

 

Berdasarkan pengamatan awal dan komunikasi dengan pengelola PP. Nurul Jadid, ditemukan bahwa kesadaran dan pengetahuan santri mengenai DBD dan pengendalian jentik nyamuk masih tergolong rendah. Selain itu, kegiatan pemeriksaan jentik nyamuk belum menjadi rutinitas yang dilakukan secara berkala di lingkungan pondok. Kondisi fisik lingkungan, seperti adanya tempat penampungan air terbuka, potensi genangan air, dan penggunaan bak mandi tanpa penutup, dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.

 

Melalui pendekatan partisipatif dan edukatif, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas santri dan pengurus pondok dalam memahami bahaya DBD, melakukan pemeriksaan jentik mandiri, serta menerapkan 3M Plus secara konsisten. Selain itu, kegiatan ini akan menjadi sarana pembentukan kader kesehatan santri yang diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam upaya pencegahan DBD di lingkungan pondok dan masyarakat sekitarnya.

 

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan santri serta pengelola Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam upaya pencegahan dan pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui pendekatan promotif dan preventif. Secara khusus, tujuan kegiatan ini meliputi:

    1. Meningkatkan Pengetahuan tentang Demam Berdarah Dengue (DBD).
  1. Memberikan pemahaman kepada santri dan pengurus pondok mengenai penyebab, gejala, penularan, dan dampak dari penyakit DBD.
  2. Menjelaskan siklus hidup nyamuk Aedes aegypti serta faktor lingkungan yang mendukung perkembangbiakannya.
    1. Meningkatkan Kesadaran Pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
  1. Mendorong partisipasi aktif santri dalam menjaga kebersihan lingkungan asrama dan sekitarnya.
  2. Menanamkan kebiasaan pencegahan DBD melalui penerapan 3M Plus (Menguras, Menutup, dan Mengubur + penggunaan larvasida atau abatisasi, penggunaan kelambu, dan pengawasan jentik).
    1. Melatih Santri Melakukan Pemeriksaan Jentik Nyamuk Secara Mandiri
  1. Membekali santri dengan keterampilan teknis dalam memeriksa tempat-tempat penampungan air dan mendeteksi adanya jentik nyamuk.
  2. Menyediakan pelatihan praktis mengenai metode identifikasi jentik dan pencatatan hasil pemeriksaan.
    1. Menciptakan Lingkungan Pondok yang Bebas Jentik dan Ramah Kesehatan
  1. Melakukan pemetaan dan pengawasan lingkungan pondok untuk mengetahui titik-titik rawan jentik nyamuk.
  2. Menyusun rekomendasi berbasis temuan lapangan guna mendukung kebijakan internal pondok dalam pengendalian DBD.

 

  1. Tujuan Pengabdian Kepada Masyarakat
    1. Tujuan Umum

Meningkatkan kapasitas dan peran aktif santri Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui kegiatan pemeriksaan jentik nyamuk secara rutin dan edukasi kesehatan yang berkesinambungan.

 

    1. Tujuan Khusus
  1. Meningkatkan pengetahuan santri tentang penyebab, penularan, dan pencegahan penyakit DBD.
  2. Melatih keterampilan santri dalam melakukan pemeriksaan jentik nyamuk di lingkungan pesantren.
  3. Mendorong perubahan perilaku santri agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan dan pengendalian vektor nyamuk.
  4. Membangun kader kesehatan santri yang mampu menjadi penggerak kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara mandiri dan berkelanjutan.
  5. Mengurangi risiko kejadian DBD di lingkungan Pondok Pesantren melalui penerapan hasil edukasi dan kegiatan pemeriksaan jentik secara rutin.

 

  1. Manfaat Pengabdian Kepada Masyarakat
    1. Manfaat bagi Santri
  1. Meningkatkan wawasan dan kesadaran tentang pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD).
  2. Memperoleh keterampilan praktis dalam pemeriksaan jentik nyamuk dan penerapan 3M Plus.
  3. Terbentuknya kader santri peduli kesehatan yang dapat menjadi agen perubahan di lingkungan pesantren.
    1. Manfaat bagi Pondok Pesantren
  1. Lingkungan pesantren menjadi lebih bersih, sehat, dan bebas jentik nyamuk.
  2. Terciptanya sistem pemantauan jentik nyamuk secara rutin yang dikelola oleh santri sendiri.
  3. Menurunkan risiko kejadian DBD di lingkungan pesantren.
    1. Manfaat bagi Masyarakat Sekitar
  1. Santri dapat menjadi role model dalam upaya pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan rumah masing-masing.
  2. Terbentuk jejaring edukasi kesehatan antara pesantren dan masyarakat.
    1. Manfaat bagi Tim Pelaksana dan Institusi
  1. Meningkatkan kontribusi nyata perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi.
  2. Memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi, pesantren, dan masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit berbasis lingkungan.

 

 

 

 

 

 

BAB 2. METODE PELAKSANAAN

 

Tahapan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat sebagai berikut ini

No

Tahap

Kegiatan

1

Persiapan

  1. Koordinasi dengan pengurus PP. Nurul Jadid
  2. Survei awal Lokasi
  3. Penyusunan materi edukasi dan alat peraga

2

Pelaksanaan Edukasi

  1. Penyampaian materi tentang DBD dan PHBS
  2. Pemutaran video edukatif
  3. Diskusi interaktif dan kuis

3

Pelatihan Pemeriksaan Jentik dan Pelaksanaan

Pemeriksaan Jentik

  1. Demonstrasi cara pemeriksaan jentik
  2. Praktik langsung oleh santri

4

Evaluasi   dan                Tindak Lanjut

  1. Penyusunan laporan kegiatan
  2. Evaluasi hasil kegiatan (pre-post test dan praktik jentik)
  3. Rekomendasi untuk pondok

 

Pihak Yang Terlibat

No

Pihak

Peran

1

Tim Pengabdi (Dosen

dan Mahasiswa)

Perencana, pelaksana edukasi, pelatih, evaluator kegiatan

2

Pengurus   PP.    Nurul

Jadid

Fasilitator kegiatan, koordinator internal pondok, penyedia

tempat dan peserta

3

Santri Nurul Jadid

Peserta edukasi dan pelatihan, kader kesehatan lingkungan

4

Klinik Az-zainiyah

Konsultan teknis DBD dan pengendalian vektor, narasumber

ahli

 

Indikator Ketercapaian

No

Aspek

Indikator

Target

1

Pengetahuan

Peningkatan  skor  pre-post

test tentang DBD dan PHBS

Minimal 70% peserta mengalami

peningkatan skor

2

Keterampilan

Santri   mampu   melakukan

pemeriksaan   jentik  secara mandiri

Minimal    80%     santri     dapat

mengidentifikasi                                          tempat berkembang biak jentik

3

Partisipasi

Jumlah santri dan pengurus

yang terlibat dalam kegiatan

Minimal 50 orang santri dan 5

pengurus pondok

4

Kaderisasi

Terbentuknya  kader                        santri peduli DBD

Minimal 10 kader santri aktif di masing-masing blok asrama

5

Lingkungan

Penurunan   jumlah   tempat

positif jentik pasca intervensi

Minimal      50%       pengurangan

dibanding survei awal

 

Waktu Pelaksanaan

No

Tahapan

Waktu Pelaksanaan

1

Persiapan dan Koordinasi

Minggu 1

2

Edukasi dan Pelatihan

Minggu 2 dan 3

3

Pemeriksaan Jentik

Minggu 3, 4, 5, dan 6

4

Evaluasi dan Pelaporan

Minggu 7

 

BAB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. Hasil
    1. Pemeriksaan Jentik Nyamuk

Kegiatan pemeriksaan jentik nyamuk dilakukan di 110 titik pemantauan di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

 

Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Jentik Nyamuk

Waktu Pemeriksaan

Mean ± SD

Min - Maks

N

Sebelum Edukasi

72,4 ± 10,3

45,42 – 91,83

110

Setelah Edukasi

89,7 ± 6,5

77,23 - 100

 

 

Berdasarkan data diatas menjelaskan bahwa rata-rata hasil pemeriksaan jentik nyamuk sebelum diberi edukasi sebesar 72,4%. Hasil pemeriksaan jentik nyamuk sebesar 72,4% menunjukkan tingkat infestasi jentik nyamuk masih cukup tinggi di sebagian besar titik pemantauan, hal ini menjelaskan bahwa 1 dari 4 lokasi yang diperiksa masih ditemukan jentik nyamuk. Standar deviasi sebelum diberikan edukasi sebesar 10,3. Nilai Standar Deviasi menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan jentik nyamuk antar titik pemantauan sangat bervariasi sebelum edukasi. Ada lokasi dengan ABJ rendah sekali (45,42%) dan ada yang tinggi (91,83%).

 

Berdasarkan data diatas menjelaskan bahwa rata-rata hasil pemeriksaan jentik nyamuk setelah diberi edukasi sebesar 89,7%. Hal ini menggambarkan bahwa setelah dilakukan intervensi edukasi, rata-rata 89,7% titik pemantauan bebas dari jentik nyamuk. Setelah diberikan edukasi menunjukkan adanya peningkatan yang cukup besar dibandingkan sebelum edukasi yakni +17,3 poin. Hasil pemeriksaan jentik nyamuk 89,7% berarti hanya sekitar 1 dari 10 lokasi yang masih ditemukan jentik nyamuk, jauh lebih baik dibanding kondisi sebelum edukasi (1 dari 4 lokasi). Peningkatan ini menunjukkan bahwa edukasi efektif meningkatkan kesadaran dan perilaku pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan pondok pesantren. Standar deviasi setelah diberikan edukasi sebesar 6,5. Nilai 6,5 ini lebih kecil dibandingkan SD sebelum edukasi (10,3), yang berarti variasi hasil pemeriksaan jentik nyamuk antar titik pemantauan menjadi lebih kecil setelah intervensi edukasi. Dengan kata lain, setelah edukasi, hasil pemeriksaan jentik nyamuk di seluruh lokasi menjadi lebih seragam dan tidak terlalu jauh berbeda dari rata-rata 89,7%.  Nilai Standar Deviasi menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan jentik nyamuk antar titik pemantauan lebih seragam setelah edukasi. Ada lokasi dengan minimal hasil pemeriksaan jentik nyamuk 77,23 dan ada lokasi dengan nilai maksimal 100%.

 

    1. Edukasi Kesehatan

Edukasi Kesehatan dilakukan dengan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan pemeriksaan jentik nyamuk. Metode ceramah interaktif dilakukan selama 20 menit dengan tujuannya yaitu menaikkan pengetahuan & kesadaran santri soal DBD, siklus hidup Aedes aegypti, dan PSN 3M Plus, serta target ABJ ≥95%. Materi yang diberikan diantaranya 1) siklus hidup Aedes (telur–larva–pupa–dewasa) dan jam menggigit (pagi–sore); 2) PSN 3M Plus (menguras, menutup, memanfaatkan/menimbun; plus: kelambu, lotion, ovitrap, dsb.); 3) Target ABJ nasional ≥95% dan artinya bagi pondok (unit = kamar/ asrama). Media yang digunakan selama ceramah interaktif yaitu leaflet, video edukasi, dan materi edukasi.

 

Selain ceramah interaktif, diskusi kelompok dilakukan di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Tujuan dari diskusi kelompok ini yaitu mengubah sikap dari Santri Pesantren Nurul Jadid. Hasil dari diskusi kelompok ini yaitu santri dapat melakukan pemetaan resiko dari penularan Demam Berdarah, mengatasi hambatan, dan dapat berbagi peran dalam kegiatan pencegahan penularan Demam Berdarah seperti telah ditentukan pembagian jadwal piket yang menguras bak mandi, membuang air genangan sebagai tempat nyamuk, dan sebagainya.

 

Metode selanjutnya yaitu pemeriksaan jentik nyamuk. Tujuan dari pemeriksaan jentik nyamuk ini yaitu membentuk keterampilan psikomotor memeriksa jentik dan menghitung Angka Bebas Jentik. Kegiatan pemeriksaan jentik nyamuk yang dilakukan yaitu mempraktikkan seara langsung kepada santri cara melakukan pemeriksaan jentik nyamuk melalui pemeriksaan jentik nyamuk secara langsung. Selain itu juga mengajarkan kepada santri cara mengukur ABJ (Angka Bebas Jentik).

 

Sebelum dilakukan edukasi kesehatan, santri dilakukan pre test tentang pengetahuan santri tentang Pencegahan Demam Berdarah, dan dilakukan post test setelah diberikan  edukasi kesehatan.

Tabel 2. Hasil Pengetahuan Santri Tentang Pencegahan Demam Berdarah

Pengetahuan

Frekuensi

Prosentase

N

Sebelum Edukasi

 

 

 

Baik

25

36

70

Kurang

45

64

 

Setelah Edukasi

 

 

 

Baik

51

73

70

Kurang

19

27

 

 

Berdasarkan pada tabel diatas, menjelaskan bahwa sebelum diberikan edukasi, pengetahuan santri tentang pencegahan Demam Berdarah mayoritas adalah kurang 64%, dengan jumlah santri sebesar 70 santri. Setelah diberikan edukasi, terjadi peningkatan yaitu mayoritas pengetahuan santri adalah baik 73%.

 

    1. Perubahan Sikap dan Perilaku

Hasil observasi setelah 2 minggu dilakukan edukasi kesehatan menunjukkan 85% santri aktif melakukan pemeriksaan jentik di kamar masing-masing. Selain itu juga terjadi peningkatan keterlibatan pengurus pesantren dalam mengawasi kebersihan lingkungan. Santri mulai mengembangkan jadwal rutin "Jum’at Bersih" untuk PSN.

 

  1. Pembahasan
    1. Pemeriksaan Jentik Nyamuk

Hasil pemeriksaan jentik nyamuk di 110 titik pemantauan sebelum intervensi edukasi menunjukkan rata-rata sebesar 72,4% dengan rentang nilai 45,42%–91,83% dan standar deviasi (SD) 10,3. Nilai ini masih jauh dari target nasional ABJ minimal 95% yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan RI sebagai indikator rendahnya risiko penularan Aedes aegypti (Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2017). Artinya, sekitar 1 dari 4 titik pemantauan di lingkungan Pondok Pesantren masih ditemukan jentik nyamuk, sehingga potensi transmisi virus dengue tetap tinggi.

 

Rendahnya capaian ABJ ini mengindikasikan adanya kelemahan pada upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di lingkungan pesantren. Beberapa faktor yang mungkin berkontribusi antara lain:

  1. Kondisi Lingkungan Fisik: Adanya bak mandi tanpa penutup, penampungan air terbuka, serta potensi genangan air akibat drainase yang kurang baik menjadi habitat ideal perkembangbiakan jentik Aedes aegypti (Mulyani dkk., 2022).
  2. Keterbatasan Pengetahuan dan Kesadaran: Sebelum edukasi, banyak santri belum memahami secara utuh siklus hidup nyamuk, waktu aktif menggigit, dan metode PSN 3M Plus, yang berdampak pada rendahnya partisipasi dalam pemeriksaan dan pengelolaan sarang nyamuk (Gasong & Septianingsih, 2022).
  3. Tidak Adanya Rutinitas Pemeriksaan Jentik: Pemeriksaan jentik belum menjadi kebiasaan terstruktur di pesantren, sehingga upaya deteksi dini dan pencegahan penyebaran vektor tidak optimal (Tokan dkk., 2022).

 

Variasi hasil pemeriksaan yang cukup tinggi (SD = 10,3) menunjukkan adanya disparitas kebersihan dan pengelolaan lingkungan antar titik pemantauan. Beberapa blok asrama mungkin telah menerapkan PSN secara lebih konsisten, sementara yang lain masih memiliki banyak tempat berkembang biak nyamuk. Fenomena ini sejalan dengan temuan sebelumnya yang melaporkan bahwa perbedaan tingkat kepatuhan terhadap PSN antar wilayah dapat memengaruhi keseragaman capaian ABJ (Pratamawati dkk., 2019).

 

Secara epidemiologis, ABJ sebesar 72,4% mengindikasikan bahwa risiko penularan DBD di lingkungan pondok masih berada pada level tinggi hingga sedang. Wilayah dengan ABJ <95% memerlukan intervensi segera untuk mencegah terjadinya outbreak, terutama pada komunitas padat hunian seperti pesantren yang memiliki kontak erat antar individu. Tanpa intervensi, kondisi ini dapat memfasilitasi terjadinya transmisi berantai (chain transmission) di lingkungan tertutup (World Health Organization, 2024)

 

 

Hasil pemeriksaan jentik nyamuk setelah intervensi edukasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada Angka Bebas Jentik (ABJ), yaitu mencapai rata-rata 89,7% dengan rentang nilai 77,23%–100% dan standar deviasi (SD) 6,5. Angka ini mengalami kenaikan sebesar +17,3 poin dibandingkan sebelum edukasi (72,4%). Peningkatan tersebut menandakan bahwa intervensi edukasi kesehatan yang dilaksanakan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan praktik pemeriksaan jentik mampu memperbaiki kesadaran sekaligus keterampilan santri dalam melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

 

Peningkatan ABJ dari 72,4% menjadi 89,7% memperlihatkan bahwa sebagian besar titik pemantauan berhasil terbebas dari jentik nyamuk. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa intervensi edukasi berbasis praktik langsung mampu meningkatkan capaian ABJ lebih dari 15% dalam waktu singkat (Cahyani dkk., 2024). Edukasi yang diberikan tidak hanya menekankan aspek pengetahuan, tetapi juga membentuk keterampilan psikomotorik santri untuk melakukan pemeriksaan jentik secara mandiri.

 

Perubahan perilaku kesehatan yang efektif terjadi ketika pengetahuan dikombinasikan dengan pengalaman praktik dan dukungan sosial (Glanz dkk., 2015). Dalam konteks ini, keterlibatan pengurus pondok dan kegiatan bersama seperti “Jum’at Bersih” memperkuat social reinforcement sehingga perilaku pemeriksaan jentik dapat dilakukan lebih konsisten.

 

Penurunan standar deviasi dari 10,3 (sebelum edukasi) menjadi 6,5 (setelah edukasi) menunjukkan variasi antar lokasi pemantauan semakin kecil. Hal ini berarti hasil pemeriksaan jentik pasca edukasi relatif lebih seragam, di mana hampir semua titik pemantauan menunjukkan peningkatan ABJ. Temuan ini mendukung konsep community-based participatory research yang menekankan keseragaman intervensi sebagai indikator keberhasilan program berbasis komunitas (Samsudin dkk., 2024).

 

Meskipun ABJ meningkat hingga 89,7%, angka ini masih sedikit di bawah target nasional ≥95% (Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2017). Namun, capaian tersebut tetap penting karena mampu mengurangi risiko transmisi DBD secara substansial. Penelitian lainnya menegaskan bahwa setiap kenaikan 10% ABJ dapat berdampak nyata dalam menurunkan risiko kejadian luar biasa (KLB) dengue di komunitas padat penduduk (Stewart Ibarra dkk., 2014a). Dengan demikian, capaian ini memberikan dasar kuat bagi pondok pesantren untuk melanjutkan program edukasi dan pemeriksaan jentik secara rutin.

 

Pasca edukasi, santri tidak hanya menunjukkan peningkatan ABJ, tetapi juga mulai mengembangkan keterlibatan aktif dalam program pencegahan, seperti pemeriksaan jentik rutin di kamar dan inisiatif kebersihan kolektif. Hal ini sejalan dengan konsep pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian vektor, di mana keberlanjutan program lebih terjamin apabila masyarakat (dalam hal ini santri) mampu menjadi agen perubahan (Darmawati & Perdani, 2025; Tokan dkk., 2022)

 

    1. Edukasi Kesehatan

Hasil pre-test menunjukkan bahwa mayoritas santri Pondok Pesantren Nurul Jadid memiliki pengetahuan yang masih kurang mengenai pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD), yaitu sebesar 64%, sedangkan yang memiliki pengetahuan baik hanya 36%. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemahaman santri tentang penyebab, penularan, siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, serta upaya pencegahan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus masih terbatas.

 

Rendahnya tingkat pengetahuan sebelum edukasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, minimnya akses informasi kesehatan yang terstruktur di lingkungan pesantren. Pesantren umumnya lebih menekankan pada pendidikan agama, sehingga isu kesehatan seringkali belum menjadi prioritas utama dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari (Nasution, 2025). Kedua, kurangnya media edukasi kesehatan seperti leaflet, video, atau kegiatan penyuluhan yang berkelanjutan menyebabkan pengetahuan santri tentang DBD tidak merata. Hal ini sejalan dengan penelitian lainnyayang menemukan bahwa tanpa media edukasi yang efektif, pengetahuan masyarakat tentang PSN cenderung rendah (Natalansyah, 2020).

 

Selain itu, rendahnya pengetahuan juga terkait dengan kurangnya pengalaman praktik langsung. Pengetahuan mengenai DBD dan PSN tidak cukup hanya diperoleh secara teori, tetapi perlu diperkuat dengan pengalaman partisipatif seperti pemeriksaan jentik atau simulasi pengendalian vektor (Oriwarda dkk., 2021). Dalam konteks pesantren, ketiadaan rutinitas pemeriksaan jentik dan pengawasan lingkungan yang terstruktur menjadikan santri tidak terbiasa mengenali tanda-tanda keberadaan jentik di sekitarnya.

 

Kondisi ini memiliki implikasi epidemiologis penting. Rendahnya pengetahuan merupakan faktor risiko terhadap perilaku pencegahan yang lemah, yang berpotensi meningkatkan kerentanan pesantren sebagai komunitas padat hunian terhadap penularan DBD (Selvarajoo dkk., 2020). Riset sebelumnya melaporkan bahwa rendahnya pengetahuan masyarakat tentang siklus hidup nyamuk dan metode PSN berhubungan erat dengan tingginya angka keberadaan jentik di lingkungan rumah (Simaremare dkk., 2020).

 

Dengan demikian, hasil pengetahuan santri sebelum edukasi mempertegas perlunya intervensi yang sistematis dalam bentuk edukasi kesehatan. Program penyuluhan yang memadukan ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan praktik pemeriksaan jentik menjadi penting untuk mengisi kesenjangan pengetahuan sekaligus memfasilitasi pembentukan sikap dan perilaku pencegahan yang lebih baik.

 

Hasil post-test setelah diberikan edukasi kesehatan menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada pengetahuan santri tentang pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD). Proporsi santri dengan kategori pengetahuan baik meningkat dari 36% menjadi 73%, sedangkan yang termasuk kategori kurang menurun dari 64% menjadi 27%. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa intervensi edukasi berbasis partisipatif mampu mengisi kesenjangan informasi sekaligus memperbaiki pemahaman santri mengenai penyebab, penularan, siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, serta upaya pencegahan melalui PSN 3M Plus.

 

Metode edukasi yang digunakan yaitu ceramah interaktif, diskusi kelompok, serta praktik pemeriksaan jentik terbukti efektif. Ceramah interaktif memberikan kerangka pengetahuan dasar, diskusi kelompok menumbuhkan sikap kritis dan keterlibatan aktif, sementara praktik pemeriksaan jentik memperkuat aspek psikomotorik. Metode diskusi kelompok dan praktik langsung dapat meningkatkan retensi pengetahuan karena melibatkan partisipasi aktif peserta (Khofifah dkk., 2024). Hal ini juga sejalan dengan pendekatan Health Belief Model yang menekankan pentingnya pemahaman risiko dan manfaat untuk mendorong perubahan perilaku (Othman dkk., 2019).

 

Peningkatan pengetahuan tidak hanya berhenti pada aspek kognitif, tetapi juga berdampak pada pembentukan sikap. Hasil observasi menunjukkan bahwa setelah edukasi, mayoritas santri lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan dan aktif melakukan pemeriksaan jentik secara rutin. Hal ini sejalan dengan riset lainnya yang melaporkan bahwa edukasi PSN di tingkat sekolah mampu mengubah pemahaman siswa menjadi sikap positif dalam pencegahan DBD (Gasong & Septianingsih, 2022).

 

Secara akademik, peningkatan pengetahuan santri membuktikan bahwa intervensi edukasi berbasis komunitas di lingkungan pesantren dapat menjadi model efektif dalam promosi kesehatan. Dari sisi epidemiologi, peningkatan pengetahuan ini mendukung pencapaian target nasional ABJ ≥95%, karena kesadaran dan keterampilan masyarakat merupakan determinan penting dalam menurunkan risiko keberadaan jentik (Rahma dkk., 2024). Dengan demikian, keberhasilan peningkatan pengetahuan santri merupakan langkah awal menuju terbentuknya kader kesehatan pesantren yang mandiri dan berkelanjutan.

 

    1. Perubahan Sikap dan Perilaku

Hasil observasi menunjukkan bahwa setelah diberikan edukasi kesehatan, terjadi perubahan signifikan pada sikap dan perilaku santri Pondok Pesantren Nurul Jadid. Sebanyak 85% santri aktif melakukan pemeriksaan jentik di kamar masing-masing, serta muncul inisiatif kolektif berupa kegiatan rutin “Jum’at Bersih” yang difokuskan pada pemberantasan sarang nyamuk. Perubahan ini mengindikasikan keberhasilan intervensi dalam menggeser perilaku santri dari pasif menjadi proaktif dalam menjaga kebersihan lingkungan.

 

Perubahan perilaku ini erat kaitannya dengan peningkatan pengetahuan yang diperoleh melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan praktik pemeriksaan jentik. Menurut Health Belief Model, pengetahuan yang baik dapat meningkatkan persepsi kerentanan (perceived susceptibility) dan keseriusan (perceived severity) terhadap penyakit, sehingga mendorong individu untuk melakukan tindakan pencegahan (Glanz dkk., 2015). Hasil penelitian lainnya juga menegaskan bahwa pemahaman yang baik tentang risiko DBD berkorelasi dengan meningkatnya praktik PSN di tingkat komunitas (Othman dkk., 2019).

 

Metode edukasi partisipatif seperti diskusi kelompok terbukti efektif dalam membentuk sikap kritis dan rasa tanggung jawab kolektif. Santri tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga ikut menganalisis risiko, menemukan solusi, serta membagi peran dalam kegiatan pencegahan. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa pendekatan berbasis partisipasi masyarakat lebih berhasil dalam mendorong perubahan perilaku preventif dibandingkan pendekatan satu arah (Samsudin dkk., 2024).

 

Kegiatan “Jum’at Bersih” yang diinisiasi santri mencerminkan transformasi perilaku dari tingkat individu ke tingkat kolektif. Perilaku kolektif ini penting karena lingkungan pesantren merupakan komunitas padat hunian, di mana pencegahan DBD tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus terintegrasi antar asrama. keberhasilan pengendalian DBD di komunitas padat sangat dipengaruhi oleh tingkat partisipasi kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan (Stewart Ibarra dkk., 2014b).

 

Secara akademik, perubahan sikap dan perilaku santri menunjukkan bahwa intervensi edukasi kesehatan berbasis partisipasi dapat menjadi model efektif dalam promosi kesehatan di lingkungan pesantren. Secara praktis, perubahan ini berimplikasi pada terciptanya budaya hidup bersih dan sehat, yang dapat berfungsi sebagai benteng pencegahan penyakit menular berbasis lingkungan. Dengan terbentuknya kader santri peduli kesehatan, diharapkan perubahan perilaku ini dapat dipertahankan dan diwariskan kepada angkatan berikutnya, sehingga berkelanjutan.

 

 

 

 

BAB 4. PENUTUP

 

  1. Kesimpulan
    1. Peningkatan Angka Bebas Jentik (ABJ)

Kegiatan pengabdian masyarakat melalui edukasi kesehatan dan pemeriksaan jentik terbukti efektif meningkatkan rata-rata ABJ dari 72,4% sebelum intervensi menjadi 89,7% setelah intervensi. Hal ini menunjukkan adanya pengurangan signifikan jumlah tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.

    1. Peningkatan Pengetahuan Santri

Pengetahuan santri tentang pencegahan DBD mengalami peningkatan yang signifikan. Sebelum edukasi, hanya 36% santri berada pada kategori pengetahuan baik, meningkat menjadi 73% setelah edukasi. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan praktik pemeriksaan jentik efektif dalam memperbaiki pemahaman santri.

    1. Perubahan Sikap dan Perilaku

Sebanyak 85% santri aktif melakukan pemeriksaan jentik mandiri dan berinisiatif mengembangkan kegiatan rutin “Jum’at Bersih”. Hal ini menunjukkan terjadinya transformasi perilaku dari pasif menjadi proaktif, serta terbentuknya budaya kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan pesantren.

    1. Kaderisasi Santri Peduli Kesehatan

Kegiatan ini berhasil membentuk kader santri peduli kesehatan yang berperan sebagai agen perubahan. Kader ini berpotensi menjaga keberlanjutan program PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) di pesantren dan memberi dampak positif bagi masyarakat sekitar.

 

  1. Saran
    1. Untuk Pesantren dan Pengurus
  1. Menjadikan edukasi DBD dan PSN 3M Plus sebagai kegiatan rutin, misalnya melalui kultum, pengajian, atau materi tambahan dalam kegiatan belajar.
  2. Membentuk sistem Gerakan 1 Asrama 1 Jumantik untuk memastikan pemeriksaan jentik dilakukan secara berkesinambungan.
  3. Menyediakan sarana pendukung seperti penutup bak mandi, saluran drainase yang baik, dan tempat sampah tertutup.
    1. Untuk Santri
  1. Terus aktif dalam program “Jum’at Bersih” dan pemeriksaan jentik mandiri.
  2. Menginternalisasi perilaku hidup bersih dan sehat sebagai bagian dari budaya pesantren.
  3. Menjadi role model dalam pencegahan DBD, baik di lingkungan pondok maupun di rumah masing-masing.
    1. Untuk Dinas Kesehatan dan Stakeholder
  1. Melakukan pendampingan berkala melalui kegiatan monitoring ABJ dan pelatihan lanjutan.
  2. Menyediakan media edukasi inovatif (leaflet, video, aplikasi digital) agar pesan kesehatan lebih mudah dipahami santri.
  3. Mengintegrasikan program pencegahan DBD pesantren dengan program kesehatan masyarakat sekitar.
    1. Untuk Penelitian/ Pengabdian Selanjutnya
  1. Melakukan evaluasi jangka panjang untuk melihat keberlanjutan program pemberdayaan santri.
  2. Mengkaji faktor-faktor struktural (seperti ketersediaan sarana air bersih, drainase, dan pengelolaan sampah) yang memengaruhi keberhasilan program.
  3. Mengembangkan model edukasi berbasis kultural-religius yang sesuai dengan nilai-nilai pesantren agar lebih efektif dan berkelanjutan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arkeman, H., Kartini, K., & Widyatama, H. G. (2020). Penyuluhan Dengan Metode Ceramah Dan Media Digital Untuk Meningkatkan Pengetahuan Tentang Demam Berdarah. JUARA: Jurnal Wahana Abdimas Sejahtera, 109–121. https://doi.org/10.25105/juara.v1i2.5636

Cahyani, A. R., Kurniawan, A., Sulistyorini, A., & Marji, M. (2024). Efektivitas Ovitrap Standar dan Perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk Terhadap Peningkatan Angka Bebas Jentik di Bandungrejosari Kota Malang. Sport Science and Health, 6(6), 599–610. https://doi.org/10.17977/um062v6i62024p599-610

Darmawati, I., & Perdani, A. L. (2025). Sekolah Bebas Dbd: Edukasi Dan Aksi Siswa Dalam Pengendalian Nyamuk Aedes Aegypt. Jurnal Abdimas Sains, 2(1), 9–17.

Dewi, N. E. C., Mustafidzah, N., Mustafidzah, N., & Bahjatul, R. (2024). Pkm Sosialisasi Pencegahan Demam Berdarah Dengue (Dbd) Dengan Sharing Sessions Interaktif Di Pondok Pesantren. Jurnal Suaka Insan Mengabdi, 7(1), 15–22. https://doi.org/10.51143/jsim.v7i1.703

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. (2017). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Kementerian Kesehatan.

Gasong, D. N., & Septianingsih, R. (2022). Pengaruh Edukasi Pembrantasan Sarang Nyamuk Terhadap Pengetaguan dan Sikap Pencegahan DBD oleh Siswa SMP di Lampung. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 7(1), 200–205.

Glanz, K., Rimer, B. K., & Vismanath, K. (2015). Health Behavior: Theory, Research, and Practice. Wiley.

Khofifah, N. A., Martini, S., & Purnomo, A. Y. (2024). Pengaruh Metode Diskusi terhadap Pengetahuan Masyarakat Tentang DBD di Kabupaten Magetan Tahun 2022. Malahayati Nursing Journal, 6(4), 1566–1573. https://doi.org/10.33024/mnj.v6i4.10916

Mulyani, L., Setiyono, A., & Faturahman, Y. (2022). Hubungan Faktor Lingkungan Fisik Rumah, Volume Kontainer Dan Faktor Perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes sp. Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia, 18(2), 448–466. https://doi.org/10.37058/jkki.v18i2.5611

Nasution, K. S. (2025). Eksistensi Pondok Pesantren Irsyadul Islamiyah Dalam Mewujudkan Nilai Toleransi di Desa Tanjung Medan. Kamaya: Jurnal Ilmu Agama, 8(2), 26–36.

Natalansyah, N. (2020). Efektivitas Booklet Dan Wondershare Video Dalam Meningkatkan Pengetahuan Dan Perilaku Jumantik-PSN Dan Angka Bebas Jentik Pada SMP Negeri Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya. Jurnal Surya Medika, 6(1), 84–90. https://doi.org/10.33084/jsm.v6i1.1622

Nugroho, S. A., Rahman, A., Fatholla, R., Mustaqimah, Z., & Zainab, S. (2021). PKM Sosialisasi Biokontrol Larva Nyamuk Aedes Aegypty dengan Ikan Cupang (Betta Splendens) dalam Upaya Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Asrama Putri Fakultas Kesehatan Pondok Pesantren Nurul Jadid. GUYUB: Journal of Community Engagement, 2(3). https://doi.org/10.33650/guyub.v2i3.2783

Oriwarda, E., Hayatie, L., & Djalalluddin. (2021). Literatur Review: Hubungan Pengetahuan Dan Perilaku Masyarakat Tentang Psn Dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti. Homeostasis, 4(1), 189–202.

Othman, H., Zaini, Z.-’Izzat I., Karim, N., Abd Rashid, N. A., Abas, M. B. H., Sahani, M., Hod, R., Daud, F., Nordin, S. A., & Mohamed Nor, N. A. (2019). Applying health belief model for the assessment of community knowledge, attitude and prevention practices following a dengue epidemic in a township in Selangor, Malaysia. International Journal Of Community Medicine And Public Health, 6(3), 958. https://doi.org/10.18203/2394-6040.ijcmph20190578

Pratamawati, D. A., Widiarti, W., Trapsilowati, W., & Setiyani

Berita Terkait

PKM Pendampingan Juru Pantau Jentik (Jumantik) dalam Meningkatkan Angka Bebas Jentik (ABJ) di Pondok Pesantren Nurul Jadid

Rabu, 20 Mei 2026

PKM Penerapan Yoga Meditasi terhadap Mahasiswa Perawat

Rabu, 20 Mei 2026

PEMBERDAYAAN SANTRI DALAM PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH MELALUI PEMERIKSAAN JENTIK NYAMUK DAN EDUKASI KESEHATAN DI PONDOK PESANTREN NURUL JADID

Rabu, 20 Mei 2026

Optimalisasi Pembinaan Al-Qur’an Melalui Peran Aktif Wali Asuh di Asrama Pondok Mahasiswa Pondok Pesantren Nurul Jadid

Rabu, 20 Mei 2026

Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291

Lembaga Pusat Layanan Masyarakat

© 2023 Universitas Nurul Jadid