UNUJA - Lembaga Pusat Layanan Masyarakat
Rabu, 20 Mei 2026
Diakses: 1 kali
L A P O R A N
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

[Optimalisasi Pembinaan Al-Qur’an Melalui Peran Aktif Wali Asuh di Asrama Pondok Mahasiswa Pondok Pesantren Nurul Jadid]
Disusun oleh:
|
Ketua Tim |
: |
Abd. Basid |
NIDN. 2107128604 |
|
Anggota |
: |
Awan Al Farizi |
NIDN/NIM. 2210200001 |
|
Anggota |
: |
Nazil Rahmat |
NIDN/NIM. 2210200005 |
|
Anggota |
: |
Mohammad Fikri Romadhoni |
NIDN/NIM. 2210200007 |
|
|
|
|
|
Lembaga Penerbitan, Pengabdian, dan
Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M)
Universitas Nurul Jadid
Paiton Probolinggo
Tahun 2025
[Optimalisasi Pembinaan Al-Qur’an Melalui Peran Aktif Wali Asuh di Asrama Pondok Mahasiswa Pondok Pesantren Nurul Jadid]
Abstrak. Pembinaan Al-Qur’an merupakan komponen paling penting dalam sebuah pesantren. Tentunya hal ini perlu mendapat perhatian lebih. Mengingat Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam. Dan sebagai seorang muslim, kita wajib mempelajarinya baik dalam hal tata cara baca dan pemahaman isi kandungannya. Atas dasar tersebut, Asrama Pondok Mahasiswa di Pondok Pesantren Nurul Jadid memiliki sebuah agenda rutin berupa pembelajaran baca tulis Al-Quran. Akan tetapi, praktik di lapangan sering terdapat kendala-kendala. Sehingga menyebabkan pembinaan ini kurang efektif. Artikel ini membahas tentang hasil pengabdian kepada masyarakat berupa optimalisasi pembinaan Al-Qur’an melalui peran wali asuh. Penelitian ini bertempat di asrama Pondok Mahasiswa Pondok Pesantren Nurul Jadid dengan objek penelitian seluruh muallim yang berupa Wali Asuh dan mutaallim yang berupa mahasiswa. Penelitian lapangan merupakan metode yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu dengan cara memantau langsung jalannya kegiatan pembinaan Al-Quran, menganalisis masalah-masalah dan kendala yang terjadi, dan menawarkan solusi atau jalan keluarnya. Solusi yang dihasilkan dalam penelitian ini yaitu: 1) Penerapan metode baru. Metode pembelajaran sangat berpengaruh bagi keberhasilan dalam sebuah pembelajaran. Dalam pengabdian ini, peneliti menawarkan sebuah metode baru yang berbeda dari sebelumnya. Metode ini bernama Metode Ummi. 2) Pembinaan dengan sistem sorogan. Sistem Sorogan ini berupa pembinaan dengan cara mutaalim membaca Al-Qur’an secara bergantian di hadapan muallim. Kemudian muallim akan mengoreksi bacaan masing-masing mutaallim yang pada akhirnya membenarkan bacaan mereka. 3) Mengadakan studi banding ke pondok lain yang berbasis Al-Quran. Studi banding ini merupakan kunjungan ke pondok yang berbasis Al-Qur’an. Tujuannya adalah untuk mendapat ilmu baru tentang pembinaan Al-Qur’an di sana yaitu dengan meniru sistem dan metode yang dipakai dalam pembinaan Al-Qur’an.
Katakunci: Pembinaan Al-Qur’an; Pondok Mahasiswa; Pondok Pesantren Nurul Jadid
Abstract. The Qur’an education is the most important component in an Islamic boarding school. This certainly needs more attention. Considering that the Qur’an is the holy book of Muslims. And as Muslims, we are obliged to study it, both in terms of reading techniques and understanding its contents. Based on this, the Student Dormitory at Nurul Jadid Islamic Boarding School has a regular program for learning to read and write the Qur’an. However, in practice, there are often obstacles, which make this education less effective. This article discusses the results of community service in the form of optimizing Qur'an education through the role of guardians. This research was conducted at the Nurul Jadid Islamic Boarding School Student Dormitory, with the research subjects being all teachers, who are guardians, and students, who are learners. Field research was the method applied in this study, involving direct observation of the Quranic education activities, analysis of the issues and challenges encountered, and the proposal of solutions or alternatives. The solutions generated in this study are: 1) The application of a new method. The learning method significantly influences the success of an educational process. In this study, the researcher proposed a new method that differs from previous approaches. This method is called the Ummi Method. 2) Training using the sorogan system. The sorogan system involves training where students take turns reading the Quran in front of the teacher. The teacher then corrects each student's reading, ultimately ensuring their accuracy. 3) Conducting comparative studies at other Quran-based boarding schools. This comparative study involves visiting other Quran-based boarding schools. The aim is to gain new knowledge about Quranic education there by emulating the systems and methods used in Quranic education.
Keywords: Quranic education; Student Boarding School; Nurul Jadid Islamic Boarding School
BAB I
LATAR BELAKANG
Pembinaan Al-Qur’an merupakan inti dari kegiatan keislaman di lingkungan pesantren (Kartika, 2019; Murdiono, 2024), termasuk dalam unit asrama mahasiswa yang notabene menjadi wadah pengembangan keilmuan dan spiritualitas santri di tingkat perguruan tinggi. Dalam konteks ini, kemampuan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an menjadi kompetensi utama yang harus ditanamkan secara sistematis dan berkelanjutan (Akbar & Hidayatullah, 2016). Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan adanya problematika yang menghambat efektivitas pembinaan tersebut, seperti rendahnya motivasi belajar, kurangnya variasi metode pembelajaran, serta ketidakteraturan pelaksanaan kegiatan (Baharun & Dini, 2019). Hal ini juga ditemukan di Asrama Pondok Mahasiswa Pondok Pesantren Nurul Jadid, di mana program pembinaan Al-Qur’an yang dilakukan selepas Maghrib kerap menghadapi kendala dalam hal konsistensi dan keterlibatan aktif santri.
Salah satu penyebab lemahnya proses pembinaan ini adalah metode pengajaran yang cenderung monoton serta tidak adaptif terhadap kebutuhan dan kondisi psikologis mahasiswa. Padahal, pembinaan Al-Qur’an tidak hanya memerlukan penguasaan materi tajwid dan makharijul huruf, melainkan juga pendekatan yang mampu menggugah semangat belajar (Gafur et al., 2021). Dalam program pengabdian yang diinisiasi oleh dosen dan mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Jadid, identifikasi masalah dilakukan bersama dengan pengurus asrama, dan ditemukan bahwa kejenuhan pasca aktivitas akademik serta minimnya pengulangan materi menjadi faktor utama rendahnya retensi dan pemahaman peserta. Sebagai respons awal, pengabdian ini menawarkan metode takrār (pengulangan materi) serta integrasi model pembelajaran outdoor disertai dengan sisipan motivasi melalui kisah inspiratif penghafal Al-Qur’an untuk menciptakan atmosfer belajar yang lebih menyenangkan dan efektif (Husna et al., 2024).
Jika ditinjau dari sejumlah pengabdian sejenis yang telah dilakukan sebelumnya, umumnya dapat dikelompokkan ke dalam beberapa pendekatan besar: (1) penguatan kemampuan tajwid dasar secara klasikal di pesantren, seperti yang dilakukan oleh Rahim (Rahim et al., 2024), Basid (Basid et al., 2024), Gafur (Gafur et al., 2021) dan ’Azah (’Azah et al., 2024); (2) pelatihan tahfiz dengan teknik tahsin bertingkat, seperti yang dilakukan oleh Murdiono (Murdiono, 2024) dan Pranata (Pranata et al., 2024), Murnmainnah (Murnmainnah et al., 2024), dan Akbar (Akbar & Hidayatullah, 2016); (3) pembinaan berbasis teknologi digital (aplikasi dan media interaktif), seperti yang dilakukan oleh Baharun (Baharun & Dini, 2019), Muntafi’ah (Muntafi’ah et al., 2024); dan (4) pendekatan integratif antara pembinaan Al-Qur’an dan konseling spiritual, seperti yang dilakukan oleh Bustan (Bustan et al., 2022) dan Syafaruddin (Syafaruddin & Yunus, 2024). Namun, pengabdian-pengabdian tersebut masih jarang yang menekankan pada penguatan keberlanjutan program pembinaan di lingkungan mahasiswa pesantren dengan memadukan strategi metodologis adaptif dan rekreatif. Di sinilah celah akademik dan praktis yang perlu diisi, yaitu perlunya model pembinaan Al-Qur’an yang kontekstual dengan dinamika mahasiswa, baik dari aspek psikologis, waktu, maupun metode.
Berdasarkan identifikasi kesenjangan tersebut, tujuan khusus dari pengabdian ini adalah untuk merancang dan mengimplementasikan strategi pembinaan Al-Qur’an yang bersifat solutif, partisipatif, dan berorientasi pada keberlangsungan program. Strategi tersebut tidak hanya mengatasi hambatan teknis seperti keterbatasan waktu dan kelelahan mahasiswa, tetapi juga menyasar aspek motivasional dan afektif yang selama ini kurang diperhatikan dalam pengabdian serupa. Melalui pendekatan kolaboratif antara mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dengan pengurus Pondok Mahasiswa, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi prototipe pengabdian yang lebih responsif dan adaptif terhadap kebutuhan pembinaan Al-Qur’an di era kontemporer.
|
MASALAH |
PENYEBAB |
PIHAK YANG TERLIBAT |
CARA MENGATASI |
|
Santri Kelelahan |
Perkuliahan |
Peserta PKM dan Wali Asuh |
Waktu Pembacaan Al-Qur’an Dimundurkan Agar Santri Istirahat Terlebih Dahulu |
|
Santri Jenuh |
Kondisi Asrama |
Peserta PKM dan Wali Asuh |
Pembelajaran Outdoor |
|
Santri Tidak Memahami Tajwid |
Kurangnya Minat Santri |
Peserta PKM dan Wali Asuh |
Memakai Metode Takrar |
Untuk memperjelas arah kegiatan pengabdian, maka dirumuskan pertanyaan-pertanyaan kunci sebagai berikut:
Guna menjawab rumusan masalah tersebut, kegiatan pengabdian ini memiliki tujuan dan manfaat sebagai berikut:
Memberikan pengalaman belajar Al-Qur’an yang lebih personal, menyenangkan, dan terstruktur, sehingga meningkatkan kemampuan baca serta pemahaman tajwid mereka secara signifikan.
Meningkatkan kapasitas pedagogis dalam menerapkan metode pembelajaran Al-Qur’an yang variatif dan sesuai dengan karakter peserta didik dewasa (mahasiswa).
Menyediakan model pembinaan Al-Qur’an yang berbasis evidence dan kontekstual, yang dapat dijadikan prototipe untuk pembinaan Al-Qur’an di lingkungan pesantren berbasis perguruan tinggi.
Menegaskan kontribusi keilmuan Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dalam menjawab kebutuhan pembinaan Qur’ani berbasis pendekatan partisipatif dan transformasional di lingkungan pesantren mahasiswa.
BAB II
METODE PELAKSANAAN
Pengoptimalisasian pembinaan baca al-qur’an melalui peran aktif wali asuh ini di lakukan di asrama pondok mahasiswa UNUJA setiap ba’da maghrib. Dalam tahapan ini ada beberapa hal yang kami lakukan untuk mencapai hasil yang optimal dalam setiap prosesnya:
Sebagai mitra kami asrama pondok mahasiswa UNUJA melalui pengurusnya mereka memberi fasilitas kepada kami tempat pembinaan di asrama tersebut, serta membantu mengkoordinir setiap anak asuh agar terlibat aktif dalam kegiatan ini dan memfasilitasi kami dengan beberapa perlengkapan pengajaran seperti papan tulis dan spidol sebagai perangkat pengajaran. Partispasi pengurus Pondok Mahasiswa sangat membantu, mereka bersedia membantu keberlangsungan KBM Pembinaan Al-quran, mereka siap untuk mengabsen dan mengkoordinir mahasiswa sebagai anak asuh untuk tetap mengikuti program Pembinaan Al-Qur’an tersebut.
Demi tercapainya hasil yang maksimal pada program pengoptimalan peran aktif wali asuh dalam pembinaan al-qur’an ini, maka kami membagi peran pada peserta PKM dan Pengurus Pondok Mahasiswa sebagai berikut:
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan kegiatan pengabdian dimulai pada hari Senin, 21 November 2024, bertempat di lantai 1 Pondok Mahasiswa UNUJA. Sasaran kegiatan ini adalah mahasiswa penghuni asrama dari dua angkatan, yaitu 2022 dan 2023, dengan jumlah peserta sekitar 50 orang. Untuk mengetahui kondisi awal peserta, tim pengabdian melakukan pemetaan kemampuan baca Al-Qur’an pada 22 November 2024. Tes ini menggunakan pendekatan individual, dengan satu wali asuh menilai sepuluh mahasiswa dalam waktu empat menit per orang. Hasil dari tes ini mengindikasikan ketimpangan yang cukup signifikan antara satu peserta dengan yang lain, khususnya dalam aspek penguasaan tajwid dan kefasihan.
Di bawah ini tabel dari hasil post test dari 50 peserta:
Tabel 1. Pretest kemampuan baca Al-Qur’an
|
No |
Kelompok Kemampuan |
Jumlah Peserta |
Rata-rata |
|
1 |
Mahir |
10 |
85 |
|
2 |
Sedang |
23 |
65 |
|
3 |
Kurang |
17 |
45 |
Berdasarkan hasil pemetaan, seperti pada tabel 1 di atas, peserta kemudian dikelompokkan menjadi tiga kategori. Kelompok pertama terdiri dari mahasiswa dengan kemampuan cukup baik, sehingga difokuskan pada pendalaman makhārijul ḥurūf. Kelompok kedua mencakup mahasiswa dengan kelemahan pada aspek dasar tajwid, sehingga pembinaan diarahkan pada penguatan teori dan praktik. Sementara itu, kelompok ketiga diisi oleh mahasiswa dengan kemampuan membaca yang masih sangat mendasar, seperti peserta yang berasal dari daerah tertentu yang mengalami kesulitan dalam panjang-pendek bacaan. Pendekatan ini memungkinkan kegiatan pembinaan menjadi lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.
Pembinaan dilaksanakan secara reguler setiap malam ba’da Maghrib hingga waktu Isya’, dengan jeda pada malam Selasa dan Jumat. Tempat pelaksanaan disebar di tiga kamar utama (E-04, E-05, dan E-06), untuk menjamin suasana yang kondusif dan personal. Materi pembelajaran menggunakan buku Pedoman Tajwid Praktis terbitan Pondok Pesantren Nurul Jadid sebagai referensi utama. Pendekatan takrār (mengulang-ngulang) menjadi metode kunci dalam memperkuat ingatan dan penguasaan teori tajwid.
Meski demikian, tim pengabdian menemukan bahwa metode konvensional masih belum mampu menjawab dinamika belajar mahasiswa. Banyak peserta mengeluhkan kejenuhan dan kurangnya variasi dalam metode pembelajaran. Hal ini berdampak pada penurunan semangat dan ketidakkonsistenan kehadiran. Oleh karena itu, salah satu solusi yang dikembangkan adalah penerapan Metode Ummi, yaitu metode pengajaran Al-Qur’an berbasis tartil yang berfokus pada kemudahan dalam tahsin dan hafalan. Metode ini memperkenalkan sistematika pembelajaran yang interaktif dan terstruktur (Fajria, 2023; Mukaromah & Hanif, 2023; Munif et al., 2024).
Penggunaan Metode Ummi dalam setting pondok mahasiswa menunjukkan respons positif, terutama dari peserta yang sebelumnya merasa kesulitan memahami tajwid secara konvensional. Model pembelajaran berbasis modul dan praktik langsung dinilai lebih mudah dicerna dan dapat mendorong partisipasi aktif. Namun, evaluasi awal menunjukkan bahwa tidak semua peserta mampu mengikuti ritme pembelajaran ini dengan baik. Sebagian besar dari kelompok ketiga mengalami hambatan dalam memahami materi karena keterbatasan daya tangkap dan latar belakang pendidikan yang beragam.
Dengan demikian, meskipun pendekatan baru seperti Metode Ummi berhasil menstimulasi semangat belajar sebagian peserta, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta. Fleksibilitas dalam teknik pengajaran menjadi krusial untuk menjamin efektivitas program pembinaan ke depan. Perlu dilakukan penyesuaian pada materi, ritme, serta model interaksi agar tetap inklusif bagi semua peserta.
Permasalahan kedua yang teridentifikasi adalah rendahnya efektivitas pembinaan akibat pendekatan yang terlalu kolektif dan minim interaksi personal. Dalam pembelajaran Al-Qur’an, interaksi satu-satu antara murid dan guru merupakan kunci utama dalam memperbaiki bacaan, memahami kesalahan, serta menanamkan adab dan semangat (Nurfaizah, 2021). Oleh karena itu, tim pengabdian mengusulkan pendekatan sorogan, sebuah sistem pembelajaran tradisional yang berbasis pada interaksi langsung antara guru dan murid (Hasanah et al., 2020; Kamal, 2020)., seprti tampak pada gambar berikut:

Gambar 1. Formasi dan sistem sorogan Al-Qur’an
Seperti tampak pada gambar 1 di atas, dalam penerapan metode sorogan ini, setiap peserta diminta membaca di hadapan wali asuh secara individual. Selain memperkuat relasi personal, metode ini juga memungkinkan wali asuh melakukan koreksi secara langsung dan tepat sasaran. Keuntungan utama dari sistem ini adalah munculnya rasa tanggung jawab dari peserta untuk mempersiapkan diri sebelum dipanggil mengaji, serta peningkatan kualitas bacaan karena koreksi dilakukan secara real time (Anwar, 2020; Nugraha et al., 2024).
Sesi sorogan ini diintegrasikan ke dalam jadwal rutin pembinaan, khususnya untuk kelompok dua dan tiga. Setiap wali asuh menangani sekitar 5-7 peserta setiap malam, dengan durasi waktu yang lebih fleksibel. Evaluasi awal menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam ketepatan makhraj dan tanda baca, terutama bagi peserta yang sebelumnya sering mengalami kesalahan berulang. Namun, pelaksanaan sistem sorogan juga memiliki tantangan tersendiri. Waktu yang terbatas menyebabkan tidak semua peserta dapat memperoleh giliran setiap malam. Selain itu, faktor kelelahan pasca kegiatan kampus seringkali membuat sebagian peserta kehilangan semangat untuk mengikuti sesi dengan penuh perhatian. Oleh karena itu, perlu adanya manajemen waktu yang lebih efisien dan pembagian kelompok yang lebih proporsional.
Sebagai solusi tambahan, sesi sorogan dipadukan dengan ceramah ringan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an dan kisah inspiratif para hafidz. Strategi ini bertujuan menumbuhkan motivasi internal peserta dan memperkuat spiritualitas mereka. Dalam beberapa kesempatan, wali asuh juga memberikan umpan balik tertulis sebagai panduan pribadi bagi peserta untuk berlatih mandiri di luar sesi pembinaan. Dari segi keberhasilan, pendekatan ini sangat efektif dalam membangun kedekatan emosional antara wali asuh dan anak asuh. Kedekatan ini menjadi fondasi penting dalam proses transfer ilmu yang bersifat afektif dan spiritual. Oleh karena itu, sistem sorogan direkomendasikan sebagai metode inti dalam pembinaan Al-Qur’an di lingkungan pondok mahasiswa.
Permasalahan ketiga yang ditemukan dalam program pengabdian ini adalah minimnya eksposur peserta terhadap lingkungan belajar yang inspiratif. Mayoritas mahasiswa belum pernah secara langsung mengamati praktik pembelajaran di pesantren berbasis Al-Qur’an yang menerapkan sistem hafalan, tahfidz, dan talaqqi dengan metode intensif. Hal ini menyebabkan keterbatasan wawasan peserta tentang model ideal pembelajaran Al-Qur’an yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Sebagai respons terhadap masalah tersebut, tim pengabdian merumuskan alternatif solusi berupa studi banding ke pesantren-pesantren Al-Qur’an seperti Pondok Pesantren Nurul Qur’an Kraksaan atau pesantren-pesantren Al-Qur’an di Jombang dan lainnya. Tujuannya adalah agar peserta dapat menyaksikan langsung atmosfer pembinaan yang intensif dan disiplin, sekaligus mempelajari sistem manajemen pembelajaran yang diterapkan di sana.
Sayangnya, rencana studi banding ini belum sempat terlaksana selama periode pelaksanaan program karena keterbatasan waktu dan anggaran. Namun demikian, wacana ini tetap menjadi bagian dari rencana tindak lanjut jangka panjang. Antusiasme peserta terhadap gagasan ini sangat tinggi, dan sebagian besar menyatakan kesediaan untuk mengikuti jika program ini kembali dirancang ulang.
Sebagai pengganti sementara, tim pengabdian menghadirkan video dokumenter tentang kehidupan santri penghafal Al-Qur’an dan mengadakan diskusi reflektif usai pemutaran video. Hasil diskusi menunjukkan bahwa peserta merasa termotivasi dan mulai memandang kegiatan menghafal sebagai cita-cita spiritual, bukan sekadar kewajiban formal. Hal ini menandai terciptanya perubahan paradigma yang cukup signifikan dalam diri peserta.
Selain itu, beberapa peserta mulai menunjukkan inisiatif untuk mengikuti kelas tahfidz yang diadakan oleh unit-unit pembinaan Al-Qur’an di lingkungan pesantren. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengaruh pembinaan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga dapat mendorong tumbuhnya kesadaran berkelanjutan dalam aspek spiritualitas Qur’ani.
Oleh karena itu, untuk fase program selanjutnya, studi banding tetap menjadi agenda prioritas yang perlu diupayakan. Kunjungan langsung ke lembaga-lembaga tahfidz yang berhasil akan memperkaya wawasan peserta sekaligus menjadi inspirasi dalam membangun budaya belajar yang Qur’ani di lingkungan pondok mahasiswa.
Sebagai bagian dari evaluasi terhadap efektivitas program pembinaan Al-Qur’an bagi mahasiswa pondok, dilakukan pengukuran melalui instrumen pretest dan posttest yang disusun untuk mengidentifikasi perubahan tingkat kemampuan membaca Al-Qur’an peserta. Pengukuran ini tidak hanya bertujuan untuk menilai pencapaian individu, tetapi juga untuk menakar sejauh mana strategi pembelajaran yang diterapkan mampu memberikan dampak signifikan pada peningkatan kompetensi peserta di berbagai level kemampuan, yaitu kelompok mahir, sedang, dan kurang. Data hasil pretest dan posttest kemudian dianalisis sebagai landasan reflektif dalam menyusun rekomendasi pengembangan program selanjutnya yang lebih adaptif dan berbasis bukti, seperti tampak pada tabel dan gambar berikut:
Tabel 2. Perbandingan Rata-rata Pretest dan Posttest per Kelompok
|
No |
Kelompok Kemampuan |
Jumlah Peserta |
Rata-rata Pretest |
Rata-rata Posttest |
|
1 |
Mahir |
10 |
85 |
90 |
|
2 |
Sedang |
23 |
65 |
78 |
|
3 |
Kurang |
17 |
45 |
67 |
Tabel 2 di atas menunjukkan ada peningkatan ketika test di awal pengabdian dan test di akhir pengabdian. Jika, maka akan tampak seperti gambar di bawah ini:

Gambar 2. Perbandingan Skor Pretest dan Posttest per Kelompok
Berdasarkan data pretest dan posttest, seperti ditunjukkan gambar 2 di atas, yang diperoleh dari ketiga kelompok peserta pembinaan Al-Qur’an, ditemukan adanya peningkatan skor rata-rata yang signifikan di setiap kategori kemampuan. Kelompok mahir, yang terdiri dari 10 peserta, menunjukkan peningkatan skor dari rata-rata pretest sebesar 85 menjadi 90 pada posttest. Meskipun peningkatannya relatif kecil secara kuantitatif, hal ini mencerminkan konsistensi dan pemantapan kualitas bacaan yang sudah tinggi sejak awal.
Kelompok sedang, dengan jumlah peserta terbanyak yaitu 23 orang, mengalami peningkatan dari 65 menjadi 78, atau sekitar 20% peningkatan. Hal ini menunjukkan efektivitas pendekatan pembinaan berbasis materi tajwid praktis yang diberikan secara bertahap dan sesuai tingkat kemampuan. Intervensi yang dilakukan terbukti mampu mendorong pemahaman dan aplikasi teori tajwid yang lebih tepat dalam praktik membaca.
Peningkatan paling signifikan terjadi pada kelompok kurang, yang terdiri dari 17 peserta, dengan rata-rata pretest 45 meningkat menjadi 67 pada posttest. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pembinaan berbasis metode takrār dan integrasi awal Metode Ummi sangat efektif dalam memperbaiki kualitas bacaan peserta dengan kemampuan dasar yang lemah. Peningkatan sebesar 22 poin ini menjadi bukti sahih bahwa pendekatan personal, pengelompokan berdasarkan tingkat kemampuan, serta pengulangan intensif dapat menghasilkan lompatan kemajuan yang berarti.
Secara umum, hasil ini menegaskan pentingnya diferensiasi pembelajaran dalam pembinaan Al-Qur’an di lingkungan pondok mahasiswa. Pemetaan awal yang akurat dan implementasi metode berbasis level kompetensi terbukti meningkatkan hasil pembinaan secara signifikan. Selain itu, pendekatan ini berkontribusi terhadap peningkatan kepercayaan diri peserta dalam membaca Al-Qur’an, yang sebelumnya merasa minder atau terpinggirkan karena kemampuan rendah. Dengan demikian, temuan ini mengafirmasi pentingnya perencanaan program yang kontekstual, adaptif, dan berbasis bukti (evidence-based intervention) dalam kegiatan pengabdian masyarakat berbasis Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
BAB IV
PENUTUP
Pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan di Pondok Mahasiswa UNUJA berhasil mencapai tujuan utamanya, yakni mengoptimalkan pembinaan baca Al-Qur’an melalui pendekatan partisipatif, adaptif, dan berbasis komunitas. Melalui pemetaan kemampuan awal, implementasi metode takrār, penggunaan Metode Ummi, sistem sorogan, serta pendekatan inspiratif melalui media visual, kegiatan ini berhasil meningkatkan kemampuan teknis bacaan Al-Qur’an peserta sekaligus menumbuhkan kesadaran dan motivasi spiritual. Hasil pretest dan posttest menunjukkan peningkatan signifikan dalam semua kategori kemampuan, terutama pada kelompok dengan kemampuan awal yang rendah. Model pembinaan berbasis level dan relasional ini memberikan fondasi kuat bagi praktik pembelajaran Al-Qur’an yang lebih efektif dan manusiawi di lingkungan pesantren mahasiswa.
Secara teoritis, pengabdian ini memperkaya literatur Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dalam konteks praksis, khususnya pada model pembinaan berbasis pendekatan Participatory Action Research (PAR) dan Asset-Based Community Development (ABCD). Hasilnya menunjukkan bahwa metode tradisional seperti takrār dan sorogan tetap relevan bila dikemas secara kontekstual dan inovatif, serta dapat bersinergi dengan pendekatan modern seperti Metode Ummi. Secara praktis, pengabdian ini merekomendasikan agar lembaga pesantren mahasiswa menyusun program pembinaan berbasis pemetaan kemampuan, memperluas praktik sorogan secara terstruktur, dan mengintegrasikan media pembelajaran visual sebagai sarana peningkatan motivasi peserta. Pendekatan ini dapat direplikasi oleh komunitas sejenis dengan penyesuaian kontekstual.
Namun demikian, pengabdian ini memiliki keterbatasan dalam hal durasi pelaksanaan, jumlah sesi tatap muka, dan cakupan intervensi yang belum memungkinkan untuk mengukur dampak jangka panjang seperti hafalan atau penguasaan makna Al-Qur’an. Selain itu, studi banding yang direncanakan sebagai bagian dari program tidak dapat dilaksanakan karena keterbatasan teknis dan waktu. Oleh karena itu, arah pengabdian lanjutan disarankan mencakup pembinaan lanjutan berbasis tahfidz, penguatan kompetensi wali asuh melalui pelatihan metodologis, serta pelaksanaan kunjungan lapangan ke pesantren Al-Qur’an untuk memperluas wawasan dan memperkuat budaya Qur’ani dalam kehidupan mahasiswa.
DAFTAR PUSTAKA
’Azah, N., Sholeh, M. I., Tasya, D. A., Munawwarah, Abror, S., Mintarsih, M., & Rosyidi, H. (2024). Penguatan Pembelajaran Al-Qur’an melalui Metode Talaqqi di Pondok Pesantren Terpadu Al-Chodidjah. AL MU’AZARAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 02(01), 1–17. https://doi.org/10.38073/almuazarah.v2i1.1812
Akbar, A., & Hidayatullah, H. (2016). Metode Tahfidz Al-Qur’an Di Pondok Pesantren Kabupaten Kampar. Jurnal Ushuluddin, 24(1), 91. https://doi.org/10.24014/jush.v24i1.1517
Anwar, C. (2020). Metode Sorogan Dalam Pembelajaran Membaca Al-Qur’an di Pondok Pesantren. Mimbar Kampus: Jurnal Pendidikan & Agama Islam, 19(2), 208–221. https://doi.org/10.47467/mk.v19i2.432
Baharun, H., & Dini, A. R. (2019). Penguatan Receptive Skills Santri Melalui Pendekatan Mastery Learning dalam Pembelajaran Al-Qur’an di Pondok Pesantren. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 3(2), 275–289. https://doi.org/10.35316/jpii.v3i2.133
Basid, A., Layyinah, Q., & Kholilurrohman, A. (2024). Pembinaan Tahsin Al-Qur’an untuk Pengenalan dan Pelafalan Huruf Hijaiyah di Madrasah Diniyah Takmiliyah Misbahus Sudur. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS), 3(2), 182–193. https://doi.org/10.70340/japamas.v3i2.157
Bustan, R., Mailani, L., & Novianti, M. (2022). Pelayanan Konseling Integratif pada Masalah Perkawinan dan Keluarga di Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Pusat. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia, 5(1), 46. https://doi.org/10.36722/jpm.v5i1.1768
Fajria, L. N. (2023). Analisis Literatur Metode Ummi Dalam Pembelajaran Al-Qur’an. JOIES (Journal of Islamic Education Studies), 8(1), 97–122. https://doi.org/10.15642/joies.2023.8.1.97-122
Gafur, A., Nurhasan, N., Switri, E., & Apriyanti, A. (2021). Pembinaan Ilmu Tajwid terhadap Anak-Anak di Masjid An-Nuur Kebun Raya OI. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia, 1(2), 313–326. https://doi.org/10.54082/jamsi.103
Hasanah, U., Setia, S. D., Fatonah, I., & Deiniatur, M. (2020). Peningkatan Kemampuan Membaca Al Qur’an Melalui Pengenalan Makhorijul Huruf Pada Anak Menggunakan Metode Sorogan. AL-DIN: Jurnal Dakwah Dan Sosial Keagamaan, 6(2), 1–14. https://doi.org/10.35673/ajdsk.v6i2.1133
Husna, R., Haniah, R., & Siahaan, L. N. (2024). Pendampingan Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Bagi Anak-Anak Dan Remaja Di Musholla Al-Fatah Bondowoso: Upaya Meningkatkan Kemampuan Literasi Qur’ani Dan Spiritual. IJCD: Indonesian Journal of Community Dedication, 02(03), 467–476.
Kamal, F. (2020). Model Pembelajaran Sorogan Dan Bandongan Dalam Tradisi Pondok Pesantren. Paramurobi: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 3(2), 15–26. https://doi.org/10.32699/paramurobi.v3i2.1572
Kartika, T. (2019). Manajemen Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an Berbasis Metode Talaqqi. Jurnal Isema : Islamic Educational Management, 4(2), 245–256. https://doi.org/10.15575/isema.v4i2.5988
Mukaromah, N., & Hanif, M. (2023). Metode Ummi Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an di Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap. Tarbiatuna: Journal of Islamic Education Studies, 4(1), 52–63. https://doi.org/10.47467/tarbiatuna.v4i2.6820
Munif, M., Fajri, Z., & Kholidah, N. D. (2024). Implementasi Metode Ummi Dalam Meningkatkan Penguasaan Membaca Al - Qur’an Di Madrasah Mi Nurul Ulum Cindogo Tapen Bondowoso. Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 09(2), 466–477. https://doi.org/10.23969/jp.v9i1.11766
Muntafi’ah, U., Rusdiyah, E. F., & Tolchah, M. (2024). Transformasi Digital: Pemanfaatan Learning Management System (LMS) Dalam Pembelajaran Literasi Al-Qur’an. Anterior Jurnal, 23(3), 83–91. https://doi.org/10.33084/anterior.v23i3.7324
Murdiono. (2024). Peningkatan Kualitas Pembelajaran Melalui Inovasi Literasi Al-Qur’an di Pondok Pesantren Al-Izzah. SMART HUMANITY: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(1), 12–22.
Murnmainnah, S. N., Asfahani, & Masduki, M. (2024). Pelatihan Metode Tahsin Dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qu’an Di TPQ Darussalam Desa Prajegan, Sukorejo Ponorogo. Social Science Academic, 2(1.1), 127–138. https://doi.org/10.37680/ssa.v0i0.5931
Nugraha, M. R., Ahkam, M. H., & Adji, W. S. (2024). Efektivitas Metode Sorogan dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Bacaan Al-Qur’an: Studi Kasus Eakkapap Pattana School Thailand. Insaniyah : Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(1), 10–16. https://doi.org/10.31332/insaniyah.v3i1.10006
Nurfaizah, E. (2021). Implementasi Metode Ummi dalam Pembelajaran Membaca Al-Qur’an di SD Islam Integral Luqman Al-Hakim Batam. TA’DIBAN: Journal of Islamic Education, 1(1), 1–25. https://doi.org/10.61456/tjie.v1i1.10
Pranata, S. P., Muhtadin, K., Kuswandi, D., & Putri, G. (2024). Pelatihan Tahsin dan Tahfidz dengan Metode Quantum untuk Siswa MAN 1 Subang. Al-Khidmah: Jurnal Pengabdian Dan Pemberdayaan Masyarakat, 01(01), 1–15.
Rahim, R. A., Taran, J. P., Kasih, D., Hasan, K., Tajwid, I., & Pesantren, P. (2024). Pembinaan Tahsin Dan Ilmu Tajwid: Peningkatan Kualitas Bacaan Al-Qur’an Santri Pondok Pesantren. MEUSEURAYA - Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(2), 105–116. https://doi.org/10.47498/meuseuraya.v3i2.
Syafaruddin, B., & Yunus, S. W. (2024). Inovasi Bimbingan Spiritual Islam Melalui Pendekatan Deep Learning Dalam Al-Qur’an. Jurnal Al-Wajid, 5(2), 6–12. https://doi.org/10.30863/alwajid.v5i2.5740
Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291
Lembaga Pusat Layanan Masyarakat