Logo

UNUJA - Lembaga Pusat Layanan Masyarakat

PENDAMPINGAN PEMBINAAN BACA TULIS AL-QUR’AN DAN FURUDUL AINIYAH DI DAERAH AL-AMIRI PONDOK PESANTREN NURUL JADID

Bagikan:

Rabu, 20 Mei 2026

Diakses: 1 kali

Responsive image

LAPORAN AKHIR

AKHIR MBKM/TEMATIK/NUSANTARA

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAMPINGAN PEMBINAAN BACA TULIS AL-QUR’AN DAN FURUDUL AINIYAH DI DAERAH AL-AMIRI PONDOK PESANTREN NURUL JADID

 

Disusun oleh:

 

Ketua Tim       : Dr. Bashori Alwi, M.S.I                   NIDN/NIM. 2127128301

Anggota          : Raditiya Anggara Putra                    NIDN/NIM. 2210300023

Anggota          : Ahmad Ifril Aufia Shonhaji              NIDN/NIM. 2210300004

Anggota          : Muhammad Luthfi Azizy                 NIDN/NIM. 2210300012

Anggota          : Mohammad Iqrom                            NIDN/NIM. 2210300014

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lembaga Penerbitan, Pengabdian, dan

Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M)

Universitas Nurul Jadid

Paiton Probolinggo

Tahun 2025

 

PENDAMPINGAN PEMBINAAN BACA TULIS AL-QUR’AN DAN FURUDUL AINIYAH DI DAERAH AL-AMIRI PONDOK PESANTREN NURUL JADID

 

 

Abstrak.

Kemampuan membaca dan menulis alquran menjadi suatu keharusan bagi semua santri di PP. Nurul Jadid, khususnya di daerah al-Amiri. Hal ini menjadi cita-cita semua wali santri yang memondokkan anaknya di pondok pesantren. Pendampingan ini bertujuan untuk memastikan seluruh santri memiliki kemampuan, minimal dalam membaca Al-Qur'an dengan baik dan memahami dasar-dasar ilmu agama yang menjadi kewajiban individu Muslim.

Pelaksanaan program pendampingan baca tulis al-Qur’an dan furudul ainiyah ini terbagi dalam dua kelompok. Kelompok ula yang terdiri dari siswa SLTP dan kelompok wustha yang terdiri dari siswa SLTA. Masing-masing kelompok akan dilakukan pembinaan sesuai kelompok nya tentu dengan materi yang sesuai dengan kelas masing-masing kelompok. Hal dimaksudkan agar pembinaan berjalan dengan lancar dan mencapatkan hasil yang merata.

Kegiatan yang dimaksudkan memberikan pemahaman tentang tafaqquh fid-din diharapkan mampu menjadi solusi bagi Pesantren tentang pentingnya menjaga dan mengembangkan pemahaman santri dalam ranah agama, mengingat dalam beberapa dekade sebelumnya bahkan memasuki dekade kedepannya pemahaman santri akan agama berpotensi luntur karena meningkatnya ketergantungan manusia terhadap digital dan hiburan.

Dapat disimpulkan bahwa kegiatan kali ini akan difokuskan untuk peningkatan pemahaman santri terhadap BTQ dan FA, dengan metode pembinaan tradisional dan metode modern.

 

Kata Kunci: Baca tulis al-Quran, Furudul Ainiyah, daerha al-Amiri

 

 

BAB I

LATAR BELAKANG

  1. Analisis Situasi

Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo merupakan salah satu pesantren besar di Indonesia yang memiliki komitmen tinggi dalam pengembangan pendidikan agama Islam. Salah satu asrama yang sangat penting dalam pesantren ini adalah Daerah Al-Amiri, yang menjadi pusat pendidikan kader ulama melalui Ma'had Aly dan berbagai program keilmuan lainnya. Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat pesantren, salah satu program yang sangat vital adalah pendampingan pembinaan Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dan Furudul Ainiyah untuk santri yang berstatus siswa di daerah ini[1].

Kondisi santri di Daerah Al-Amiri sangat beragam khususnya bagi santri SLTA ke bawah, baik dari segi kemampuan dasar membaca Al-Qur’an maupun pemahaman terhadap ilmu-ilmu fardhu ‘ain (furudul ainiyah), seperti fiqh dasar, aqidah, dan akhlaq. Beberapa santri datang dari latar belakang pendidikan umum yang minim pendidikan agama formal, sehingga kebutuhan akan pembinaan BTQ dan Furudul Ainiyah menjadi sangat mendesak[2].

Pendampingan ini bertujuan untuk memastikan seluruh santri memiliki kemampuan, minimal dalam membaca Al-Qur'an dengan baik dan memahami dasar-dasar ilmu agama yang menjadi kewajiban individu Muslim. Program ini menjadi penting karena membaca Al-Qur'an adalah ibadah fundamental, dan furudul ainiyah adalah dasar dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi dalam program ini adalah perbedaan tingkat kemampuan antar santri. Sebagian santri sudah ada yang lancar membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar, sementara sebagian lain masih terbata-bata bahkan belum mampu membaca lalaran al-qur’an dengan baik. Dalam furudul ainiyah, kondisi serupa juga terjadi, di mana sebagian santri sudah memahami dasar fiqh ibadah, sedangkan lainnya masih perlu pembelajaran dari nol.

Melihat kondisi tersebut, strategi yang diambil dalam pendampingan ini adalah menggunakan metode klasikal dan individual (sorogan) secara bersamaan. Untuk BTQ, metode iqro' dan talaqqi digunakan[3], sementara untuk furudul ainiyah digunakan pendekatan berbasis kitab dasar seperti Safinatun Najah, Tijan ad-Darari, dan Aqidatul Awam. Santri dikelompokkan berdasarkan kemampuan, bukan usia, agar pembinaan lebih efektif dan tepat sasaran.

Kegiatan pendampingan dilakukan secara intensif setiap sore hari setelah kegiatan madrasah formal, dengan monitoring berkala oleh pengurus daerah. Selain itu, untuk mempercepat kemajuan santri, diterapkan sistem peer teaching, di mana santri yang sudah lebih mahir membantu membimbing teman sebayanya di bawah supervisi ustadz.

Program ini juga membawa dampak sosial yang positif di dalam kehidupan santri Daerah Al-Amiri. Muncul budaya saling membantu, mempererat ukhuwah islamiyah, serta memperkuat tradisi belajar kitab kuning dan Al-Qur'an di pesantren[4]. Santri menjadi lebih percaya diri mengikuti kegiatan keagamaan seperti tahlil, pengajian umum, bahkan lomba-lomba keagamaan.

Dalam jangka panjang, pendampingan ini diharapkan mampu menyiapkan kader-kader ulama muda yang tidak hanya menguasai keilmuan agama tingkat tinggi, tetapi juga kokoh dalam praktik dasar-dasar ajaran Islam. Di tengah tantangan modernisasi, penguatan di bidang BTQ dan Furudul Ainiyah menjadi benteng utama dalam menjaga jatidiri keislaman santri.

Dengan begitu, pendampingan Baca Tulis Al-Qur’an dan Furudul Ainiyah di Daerah Al-Amiri bukan hanya memenuhi kebutuhan akademik santri, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar besar Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk mencetak generasi muslim yang kaffah, sesuai dengan visi besar pesantren untuk mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam kehidupan.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka permasalahan pokok dalam pengabdian kepada masyarakat ini dapat dirumuskan dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  1. Bagaimana strategi pendampingan Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dan Furudul Ainiyah yang efektif dalam mengatasi perbedaan tingkat kemampuan santri di Daerah Al-Amiri Pondok Pesantren Nurul Jadid?
  2. Sejauh mana implementasi metode klasikal dan individual (sorogan), serta sistem peer teaching dalam pembinaan BTQ dan Furudul Ainiyah mampu meningkatkan kompetensi dasar keagamaan santri di Daerah Al-Amiri?
  1. Tujuan dan Manfaat.
  1. Tujuan Pengabdian:
  1. Meningkatkan kemampuan dasar santri di Daerah Al-Amiri dalam membaca Al-Qur’an secara tartil sesuai kaidah tajwid serta memahami dasar-dasar ilmu Furudul Ainiyah secara bertahap dan sistematis.
  2. Mengimplementasikan strategi pembinaan yang efektif melalui metode klasikal, individual (sorogan), serta peer teaching dalam rangka menciptakan proses pembelajaran yang adaptif terhadap tingkat kemampuan santri.
  1. Manfaat Pengabdian:
  1. Membantu terciptanya lingkungan pesantren yang mendukung peningkatan kualitas keilmuan santri secara merata, serta memperkuat budaya belajar dan ukhuwah islamiyah di kalangan santri.
  2. Memberikan kontribusi nyata terhadap upaya pesantren dalam mencetak kader ulama muda yang kokoh dalam penguasaan ilmu dasar keislaman sekaligus siap menghadapi tantangan zaman.

 

 

 

BAB II

METODE PELAKSANAAN

 

  1. Tahapan Pelaksanaan

Daerah Al-Amiri Pondok Pesantren Nurul Jadid ini memiliki keunikan atau keunggulan tersendiri dibanding dengan beberapa daerah lainnya di lingkungan PP. Nurul Jadid, yaitu memiliki kajian keilmuan khusus yang terkenal dengan Ma’had Ali, yaitu pendidikan diniyah tinggi atau setara perguruan tinggi, tetapi di daerah itu pula ada banyak santri yang tinggal daerah al-Amiri dan bukan dari bagian dari Ma’had Ali, maka kepada mereka itu pendampingan ini dilakukan untuk memberikan para santri dukungan dalam kajian kislaman khususnya BTQ dan Furudul Ainiyah, kegiatan ini juga memberikan edukasi kepada Pembina tata cara pembinaan kepada santri yang efektif dan benar.[5]

Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pendampingan Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dan Furudul Ainiyah di Daerah Al-Amiri Pondok Pesantren Nurul Jadid merupakan bagian integral dari komitmen pesantren dalam mencetak generasi santri yang tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga kokoh secara keilmuan agama. Proses pengabdian ini dirancang secara sistematis dengan melalui beberapa tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi.

  1. Tahapan Perencanaan

Tahapan perencanaan dimulai dari proses identifikasi permasalahan yang muncul di kalangan santri Daerah Al-Amiri, khususnya mereka yang bukan kelompok Ma’had Aly. Berdasarkan pengamatan lapangan dan hasil wawancara dengan para pengurus daerah serta ustadz pembina, ditemukan adanya disparitas yang cukup tajam dalam hal kemampuan dasar membaca Al-Qur’an maupun pemahaman terhadap ilmu-ilmu fardhu ‘ain, seperti fiqh, aqidah, dan akhlak. Sebagian santri telah memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan lancar, namun sebagian lainnya masih belum mampu mengenali huruf-huruf hijaiyah secara benar. Demikian pula dalam furudul ainiyah, tidak sedikit santri yang masih belum memahami konsep dasar ibadah, rukun iman, dan adab dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah permasalahan teridentifikasi secara jelas, langkah selanjutnya dalam tahap perencanaan adalah menyusun strategi dan metode pembinaan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan santri. Strategi yang dipilih adalah penggabungan metode klasikal dan individual (sorogan). Metode klasikal digunakan untuk membahas materi-materi umum dan disampaikan secara bersama-sama dalam kelompok belajar, sedangkan metode sorogan digunakan untuk memberikan perhatian khusus secara personal kepada santri yang membutuhkan pendampingan lebih intensif. Untuk program BTQ, pendekatan iqro’ dan talaqqi menjadi metode utama. Sedangkan dalam furudul ainiyah, materi-materi diambil dari kitab-kitab dasar seperti Safinatun Najah, Tijan ad-Darari, dan Aqidatul Awam. Santri kemudian dikelompokkan bukan berdasarkan usia atau kelas formal mereka, tetapi berdasarkan kemampuan masing-masing agar pembinaan lebih efektif dan tepat sasaran.

Proses perencanaan juga mencakup penjadwalan kegiatan pendampingan. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung setiap sore hari setelah kegiatan madrasah formal selesai. Pemilihan waktu ini dimaksudkan agar santri dalam kondisi yang lebih santai dan siap menerima materi non-formal dengan lebih baik. Selain itu, perencanaan juga mencakup penyusunan sistem peer teaching, yaitu dengan menunjuk santri-santri yang telah memiliki kemampuan lebih baik untuk membantu mengajar teman sebayanya. Sistem ini tidak hanya mempercepat pemerataan kemampuan, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab, kepercayaan diri, dan solidaritas antar santri. Peer teaching dilakukan di bawah pengawasan langsung dari ustadz atau pengurus yang telah diberi pelatihan dan pengarahan mengenai teknik mengajar dan mendampingi secara efektif.

  1. Tahapan Pelaksanaan

Tahapan pelaksanaan dimulai dengan pengorganisasian kelompok santri berdasarkan hasil asesmen awal yang dilakukan oleh tim pengabdian dan pengurus daerah. Santri yang memiliki kemampuan BTQ dan pemahaman furudul ainiyah yang masih sangat dasar dimasukkan ke dalam kelompok pemula, sedangkan yang sudah memiliki kemampuan menengah dan mahir dimasukkan ke dalam kelompok lanjutan. Setiap kelompok kemudian dibimbing oleh satu atau dua ustadz yang dibantu oleh santri tutor sebaya. Materi pembelajaran disampaikan secara bertahap dan disesuaikan dengan capaian masing-masing kelompok. Dalam setiap pertemuan, santri diminta untuk memperlihatkan perkembangan bacaan dan pemahaman mereka, baik secara lisan maupun tertulis.

Untuk materi BTQ, proses pembelajaran dimulai dari pengenalan huruf hijaiyah, tajwid dasar, dan penguatan tartil. Metode talaqqi digunakan agar santri dapat mendengar dan menirukan bacaan Al-Qur’an secara langsung dari guru, sedangkan metode iqro’ diterapkan untuk memperkuat kemampuan mandiri membaca. Dalam sesi tertentu, diadakan simakan (mendengarkan) bacaan Al-Qur’an secara bergiliran agar kemampuan santri dapat dievaluasi secara langsung. Dalam aspek furudul ainiyah, pembelajaran dilakukan dengan membaca kitab kuning menggunakan metode sorogan dan bandongan. Ustadz akan membacakan teks, menjelaskan makna dan isi kandungannya, lalu santri diminta untuk mengulangi dan menjelaskan kembali dengan bahasa mereka sendiri untuk memastikan pemahaman.

Selama pelaksanaan, sistem peer teaching dijalankan secara paralel. Para tutor sebaya mendapatkan briefing rutin dari ustadz pembimbing untuk mengevaluasi perkembangan kelompok belajar mereka serta berdiskusi tentang kendala yang dihadapi. Pendekatan ini menciptakan suasana belajar yang lebih dinamis dan membangun budaya belajar yang kuat di kalangan santri.

  1. Tahapan Monitoring Evaluasi

Tahapan monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa program pendampingan berjalan sesuai rencana dan mencapai target yang ditetapkan. Evaluasi awal dilakukan melalui asesmen kemampuan awal santri, baik dalam hal membaca Al-Qur’an maupun pemahaman terhadap materi fardhu ‘ain. Evaluasi berkala dilakukan setiap bulan dalam bentuk ujian praktik membaca Al-Qur’an dan kuis materi furudul ainiyah. Santri yang menunjukkan peningkatan signifikan dapat dipindahkan ke kelompok yang lebih tinggi, sedangkan yang belum mencapai target tetap mendapatkan bimbingan intensif secara personal.

Monitoring juga dilakukan melalui observasi langsung oleh pengurus daerah yang ditugaskan untuk mengawasi jalannya program setiap harinya. Mereka mencatat kehadiran, keterlibatan, dan perkembangan masing-masing santri, serta mencatat catatan khusus dari ustadz atau tutor. Laporan perkembangan ini kemudian dibahas dalam forum evaluasi bulanan yang melibatkan seluruh pengurus dan pembimbing program. Berdasarkan hasil evaluasi, dilakukan penyesuaian strategi jika diperlukan, baik dari sisi materi, metode, maupun penjadwalan.

Dalam monitoring jangka panjang, program ini juga mengadakan forum tanya jawab terbuka antara santri dan ustadz untuk mengevaluasi kepahaman santri secara lebih mendalam dan untuk memberikan ruang santri menyampaikan kendala yang mereka alami selama proses pembelajaran. Pendekatan ini dianggap efektif dalam membangun kepercayaan antara santri dan pembimbing serta memastikan tidak ada santri yang tertinggal secara diam-diam.

Seluruh tahapan pengabdian ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kemampuan individual santri dalam membaca Al-Qur’an dan memahami ilmu agama dasar, tetapi juga menciptakan iklim pembelajaran yang kolaboratif dan spiritual. Budaya belajar kitab kuning dan Al-Qur’an semakin hidup di kalangan santri, semangat saling membantu meningkat, dan ukhuwah islamiyah semakin terasa dalam keseharian mereka. Santri yang awalnya merasa rendah diri karena keterbatasan kemampuan kini mulai percaya diri untuk mengikuti kegiatan keagamaan seperti tahlilan, pengajian umum, dan lomba-lomba keislaman.

Program pendampingan ini diharapkan menjadi model pengabdian masyarakat berbasis pesantren yang tidak hanya bersifat kuratif terhadap kesenjangan kemampuan, tetapi juga transformatif dalam membangun karakter dan jatidiri santri sebagai calon pemimpin umat di masa depan. Di tengah tantangan modernisasi, keberhasilan program ini menjadi bukti bahwa penguatan pondasi dasar keislaman melalui BTQ dan Furudul Ainiyah tetap relevan dan urgen dalam menjaga integritas santri dan menjawab tantangan zaman[6].

  1. Partisipasi Mitra

Mitra utama dalam kegiatan ini adalah pengelola lembaga dan pengurus daerah, baik guru maupun tenaga kependidikan yang berada di lingkungan daerah al-Amiri. Hal ini dimaksudkan agar setelah selesai pendampingan ada kegiatan bekelanjutan dalam rangka peningkatan baca tulis al-Quran dan Furudul Ainiyah.

Dalam pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat berupa pendampingan Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dan Furudul Ainiyah di Daerah Al-Amiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, partisipasi mitra memiliki peran yang sangat strategis dalam memastikan keberhasilan dan keberlanjutan kegiatan. Mitra dalam konteks ini mencakup berbagai pihak, baik internal maupun eksternal pesantren, yang secara langsung maupun tidak langsung berkontribusi terhadap pelaksanaan program.

  1. Pengurus dan Ustadz di Daerah

Secara internal, mitra utama adalah pengurus daerah dan para ustadz yang menjadi pembimbing utama dalam kegiatan pendampingan. Mereka bukan hanya bertugas menyusun kurikulum dan metode pembelajaran, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam proses asesmen, pembinaan harian, serta monitoring perkembangan santri. Peran mereka sangat penting karena memiliki pemahaman yang mendalam mengenai kondisi santri dan dinamika kehidupan pesantren secara keseluruhan. Selain itu, para santri senior yang berperan sebagai tutor sebaya juga termasuk mitra penting dalam pelaksanaan program. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu kepada santri lain, tetapi juga menjadi penghubung antara peserta pembinaan dengan para pembina, serta turut menciptakan suasana belajar yang kondusif dan saling mendukung.

  1. Alumni

Di luar struktur pesantren, terdapat mitra potensial dari kalangan wali santri dan alumni. Para wali santri berperan dalam memberikan dukungan moral dan motivasi kepada anak-anak mereka untuk mengikuti program dengan sungguh-sungguh. Dukungan tersebut, meskipun tidak langsung terlibat dalam kegiatan teknis, sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program secara keseluruhan. Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid juga merupakan mitra potensial yang dapat dilibatkan, baik dalam bentuk penguatan materi ajar melalui seminar atau pelatihan khusus, maupun dalam bentuk kontribusi finansial dan material untuk mendukung kelangsungan program. Alumni yang telah sukses di bidang keagamaan maupun profesional memiliki potensi besar dalam memberikan inspirasi dan motivasi kepada santri serta membantu memperluas jaringan pengabdian pesantren ke masyarakat luar.

  1. Lembaga formal sekitar PP. Nurul Jadid

Selain itu, pihak madrasah formal yang berada dalam naungan Pondok Pesantren Nurul Jadid juga dapat menjadi mitra kolaboratif. Koordinasi antara kegiatan formal dan non-formal sangat dibutuhkan agar santri tidak merasa terbebani dan jadwal kegiatan tetap seimbang. Pihak madrasah dapat memberikan masukan terkait perkembangan akademik santri yang bisa menjadi acuan dalam menentukan pendekatan pembinaan yang tepat.

Secara keseluruhan, partisipasi mitra dalam program ini menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak bisa berjalan sendiri. Keberhasilan program sangat bergantung pada kolaborasi yang erat antara semua pihak yang terlibat, dari internal pesantren hingga eksternal, yang masing-masing memiliki kontribusi unik dalam memperkuat kualitas dan dampak kegiatan terhadap para santri dan masyarakat pesantren secara umum.

  1. Peran dan Tugas masing-masing anggota

Setiap anggota MBKM santri tentu memiliki kemampuan yang tidak sama, sehingga dalam kegiatan ini akan dibagi peran masing anggota sesuai dengan kemampuan masing-masing, dalam kelompok ini sebagian peserta akan memberikan pemahaman tentang al-Qur’an dan Furudul Ainiyah, sebagian yang akan menyiapkan beberapa sarana pembinaan dan ada yang bertugas bagian komunikasi dan penyusunan laporan. Tentu semua akan mendapatkan peran dalam program pembinaan kitab kuning ini.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHSAN

  1. Kondisi Objek Dampingan

Daerah al-Amiri adalah merupakan wilayah (Asrama) yang berada di bawah naungan pondok pesantren Nurul Jadid sebagai tempat membina bagi setiap santri dari berbagai jenjang pendidikan mulai tingkat SLTP, SLTA, Bahkan para mahasiswa. Untuk lebih mengoptimalkan pembinaan dan pendidikan santri, Daerah al-Amiri telah melaksanakan pemetaaan dan pengelompokan di dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan minat bakat dan kecenderungan santri, serta merupakan beberapa program khusus/ unggulan. Masing-masing program ini mempunyai ketentuan, target dan output tertentu, yang harus dicapai oleh santri sesuai dengan program keahlian pilihan masing-masing dan khusus yang paling dalam peminatan santri di daerah al-Amiri ini adalah pendidikan ma’had Aly.

Dalam upaya mencetak santri yang berkualitas dan siap berkhidmah untuk   Masyarakat, Agama, Bangsa dan Negara serta mempersiapkan diri untuk menjadi manfaat di masyarakat kelak, Daerah al-Amiri juga telah melaksanakan pembinaan intensif untuk mengasah Leadership dan Managemen santri serta mengembangkan skill tertentu yang dapat menunjang kemampuan dan kiprahnya setelah kembali ke tengah-tengah masyarakat.

Dewasa ini, Daerah al-Amiri juga memiliki sumber daya insani (SDI) yang  dinamakan dengan santriprenuership. Maka dari itu, di daerah al-Amiri dibekali dengan pelatihan-pelatihan intepreneur yang mengarah pada pengembangan usaha. Sehingga disamping santri dibekali dengan pendalaman kegamaan, mereka juga disiapkan untuk melatih hidup mandiri dengan bekal kewirausahaan.

Santri yang berada di daerah al-amiri ini berkisar di antara 130 hingga  150 santri yang berpotensi dapat menghasilkan banyak kader dalam membina kitab kuning sehingga pengurus menyediakan kursus tambahan untuk santri senior yang sudah memiliki kemampun untuk dikader sebagai pengajar pada periode salanjutnya, sehiangga terjadi kesinambungan secara berkala dalam setiap periode. Karena santri senior pun pada akhirnya akan kembali pulang ke masyarakat

Dengan melihat kondisi tersebut terobosan yang dilakukan oleh pihak pengurus yakni melakukan kerjasama dengan pihak Universitas Nurul Jadid untuk juga turut memberikan masukan dan pembinaan dalam mempercepat para santri dalam memahami kitab kuning serta menerbitkan kader muallim atau pengajar bagi santri.

  1. Solusi Pemetaan Problem Pemahaman tentang baca al-Quran dan FA

Dalam taksonomi pembelajaran dan pendidikan khususnya ranah kognitif, lebih menekankan pada kemampuan mengingat sebagai aspek dasar. Kemampuan mengingat menjadi fondasi terpentuknya proses kognitif lainnya sebab ia berkaitan dengan ilmu psikologi dan memori serta unsur-unsur sensorik. Tahapan mengingat merupakan dasar dalam ilmu kognitif sebab semua jenis kegiatan analisa berpikir diawali dengan kemampuan mengingat. Mengingat dan mengetahui adalah dua keadaan kesadaran subjektif yang saling terpaut. Kegiatan mengingat mengacu pada pengalaman masa lalu yang sangat pribadi dimana kita di mana kita menciptakan kembali peristiwa dan pengalaman sebelumnya dengan kesadaran untuk menghidupkan kembali peristiwa dan pengalaman itu secara mental. Sementara itu, kegiatan mengetahui mengacu pada pengalaman lain di masa lalu, di mana kita menyadari pengetahuan yang kita miliki tetapi dengan cara yang lebih impersonal. Kegiatan mengetahui mencakup pengertian umum keakraban yang kita miliki tentang pengetahuan yang lebih abstrak. Proses mengetahui juga mencakup kesadaran peristiwa yang telah kita alami secara pribadi ketika kita menyadari peristiwa itu sebagai fakta, tanpa menghidupkannya kembali secara mental. Aspek ingatan dan pengetahuan bermanfaat bila memiliki nilai dan kegunaan untuk pemecahan masalah pada kegiatan berikutnya.

Pemecahan masalah yang kompleks dapat dilakukan dengan pemilahan masalah dalam sub masalah serta mempersempit ruang lingkupnya hingga pada ukuran yang lebih detail. Hal ini tidak mengabaikan aspek konseptual dan memori sebagai pusat informasi dalam ingatan, dalam pemecahan masalah, individu akan melalui hal itu sebagai bentuk pengalaman baru yang selanjutnya akan menjadi pengetahuan dan ingatan baru.  Cara kerja otak manusia menggunakan sistem filter alami, dimana hanya informasi yang bermakna, unik dan berarti yang dapat diingat oleh otak manusia. Sehingga untuk dapat memaksimalkan proses ingatan, maka diperlukan perhatian mendalam dari individu agar suatu pengalaman yang diindrai memiliki nilai, arti, unik, dan penting untuk disimak oleh individu, sehingga menambah kualitas ingatan terhadap sasaran atau objek yang diinginkan. Hal ini menunjukan bahwa aspek ingatan tidak dapat berkerja ganda, individu hanya akan fokus pada satu proses ingatan yang dituju sesuai dengan sub masalah yang sedang dihadapi. Objek dan sasaran kemampuan mengingat setiap tahapan mata pelajaran kitab kuning bervariasi sesuai dengan karakteristik mata pelajaran itu sendiri .

  1. Hasil Pengabdian
  1. Tahap Perencanaan

Pelaksanaan tahap perencanaan dalam program pendampingan Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dan Furudul Ainiyah di Daerah Al-Amiri Pondok Pesantren Nurul Jadid bukan hanya berhenti pada penetapan gagasan, tetapi benar-benar diterapkan dengan langkah-langkah teknis dan operasional yang rinci. Seluruh proses dimulai dengan kegiatan observasi lapangan yang dilaksanakan oleh tim pengurus daerah bersama ustadz pembina. Observasi ini dilakukan secara langsung di kelas, asrama, bahkan di area-area belajar informal santri. Melalui pengamatan tersebut, tim memperoleh gambaran nyata mengenai variasi kemampuan santri, pola belajar yang berjalan, serta kendala yang dihadapi santri selama ini.

Gambar 1: Koordinasi persiapan pengabdian di wilayah al-Amiri

Hasil pengamatan kemudian dilengkapi dengan wawancara mendalam kepada beberapa ustadz, wali asrama, serta perwakilan santri dari jenjang SLTA ke bawah. Dari wawancara ini diketahui bahwa ketimpangan kemampuan bukan hanya karena latar belakang pendidikan formal yang berbeda, tetapi juga disebabkan oleh faktor keluarga, lingkungan asal, serta motivasi belajar yang beragam. Beberapa santri, terutama yang datang dari daerah dengan akses terbatas terhadap pendidikan agama formal, bahkan mengaku baru memegang mushaf Al-Qur’an secara rutin ketika pertama kali mondok. Temuan-temuan ini kemudian dicatat secara detail dan diolah menjadi peta masalah yang menjadi dasar penyusunan desain program.

Gambar 2 : pretest untuk klasifikasi berdasarkan kemampuan santri

Setelah identifikasi masalah selesai, tahap berikutnya adalah penetapan tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang. Tujuan jangka pendek adalah memastikan santri mampu mengenali huruf hijaiyah, membaca Al-Qur’an dengan tartil, serta memahami pokok-pokok furudul ainiyah seperti tata cara wudhu, shalat, rukun iman, rukun Islam, dan akhlak dasar. Tujuan jangka menengah adalah membiasakan santri agar aktif dalam diskusi kitab kuning dan mampu menerapkan ilmu dasar agama dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, tujuan jangka panjang diarahkan untuk mencetak kader ulama muda yang kokoh dalam aqidah, ibadah, dan akhlak, sekaligus mampu mengajarkan kembali ilmunya di lingkungan masing-masing.

Dalam tahap penyusunan strategi, tim menyepakati bahwa metode klasikal dan sorogan akan diimplementasikan secara bersamaan. Secara teknis, metode klasikal dilaksanakan di aula daerah atau musholla dengan kapasitas besar. Di tempat ini, santri dikumpulkan berdasarkan kelompok kemampuan, lalu ustadz membacakan materi secara umum, diikuti tanya jawab interaktif. Sementara untuk metode sorogan, setiap santri diwajibkan maju satu per satu untuk memperdengarkan bacaan Al-Qur’an atau menjelaskan isi kitab yang telah dibaca. Sorogan ini dilaksanakan di ruang-ruang kecil atau serambi asrama dengan jumlah peserta yang lebih sedikit agar ustadz dapat memberikan bimbingan secara lebih intens.

Penerapan metode iqro’ dan talaqqi pada pembelajaran BTQ pun dijabarkan secara operasional. Santri yang benar-benar pemula difokuskan pada metode iqro’. Mereka dibekali buku panduan iqro’ mulai jilid satu dan dibimbing untuk membaca per huruf, suku kata, hingga ayat pendek. Sementara itu, untuk santri dengan kemampuan menengah ke atas, metode talaqqi menjadi pilihan utama. Mereka duduk berhadapan dengan ustadz, mendengar pembacaan ayat yang benar, lalu menirukan dengan suara lantang. Setiap kesalahan tajwid dan makhraj langsung dikoreksi di tempat, sehingga proses belajar menjadi lebih tepat sasaran.

Materi furudul ainiyah dirancang menggunakan kitab-kitab dasar yang telah disepakati, seperti Safinatun Najah untuk fiqh ibadah, Tijan ad-Darari untuk fiqh lanjutan, dan Aqidatul Awam untuk aqidah. Para ustadz menyiapkan silabus ringkas untuk setiap kitab, merumuskan target hafalan, catatan penting, hingga lembar evaluasi mingguan. Setiap materi dipecah menjadi tema kecil agar lebih mudah dipahami. Misalnya, pada Safinatun Najah, tema wudhu dan shalat menjadi prioritas pada bulan pertama, sedangkan materi zakat, puasa, dan haji diajarkan secara bertahap sesuai kalender pembinaan.

Penjadwalan pelaksanaan kegiatan pun dirumuskan dengan cermat agar tidak berbenturan dengan aktivitas madrasah formal. Kegiatan pendampingan dilaksanakan setiap sore mulai pukul empat hingga menjelang maghrib. Pada akhir pekan, waktu belajar ditambah dengan sesi evaluasi dan praktik langsung, seperti praktik wudhu, shalat berjamaah dengan bacaan yang diperbaiki, serta simulasi adab sehari-hari. Untuk menjaga ketertiban jadwal, para pengurus daerah membuat absensi harian yang ditandatangani ustadz, tutor sebaya, dan santri.

Aspek paling teknis dan menjadi kekuatan dalam tahap perencanaan ini adalah pembentukan sistem peer teaching. Secara operasional, tim pengurus bersama ustadz memilih santri senior atau yang sudah mahir membaca Al-Qur’an dan memahami kitab kuning untuk dijadikan tutor sebaya. Mereka diberi pembekalan tentang cara mendampingi, teknik mengoreksi bacaan teman, serta cara memberikan motivasi tanpa membuat santri lain merasa minder. Tutor sebaya ini ditugaskan mendampingi kelompok kecil, maksimal sepuluh santri per kelompok, agar pendampingan berjalan optimal. Dalam praktiknya, tutor sebaya memimpin sesi belajar tambahan di luar jadwal utama, seperti ba’da isya atau menjelang subuh.

Untuk mendukung kelancaran sistem ini, perencanaan juga mencakup penyusunan instrumen monitoring. Pengurus daerah menyediakan buku kontrol yang digunakan untuk mencatat capaian harian santri, termasuk perkembangan bacaan, hafalan, serta pemahaman materi furudul ainiyah. Buku kontrol ini diperiksa secara rutin oleh ustadz, kemudian dirapatkan setiap akhir pekan dalam forum evaluasi mini. Dengan sistem monitoring ini, kemajuan tiap santri dapat dipetakan secara individual sehingga mereka yang tertinggal bisa segera mendapatkan pendampingan tambahan.

Perencanaan juga menyentuh aspek motivasi dan pemberian penghargaan. Santri yang menunjukkan perkembangan pesat diberikan apresiasi dalam bentuk piagam penghargaan, pujian terbuka di depan teman-temannya, atau hadiah kecil seperti kitab saku. Strategi ini diyakini mampu menumbuhkan semangat belajar, memupuk kepercayaan diri, serta menumbuhkan budaya kompetisi sehat di antara santri.

Di tahap akhir perencanaan, dilakukan sosialisasi program kepada seluruh pihak yang terlibat. Pengurus daerah mengadakan pertemuan dengan para wali asrama, ustadz pembina, tutor sebaya, hingga perwakilan santri untuk memastikan bahwa semua pihak memahami tujuan, metode, jadwal, serta peran masing-masing dalam program ini. Komunikasi ini menjadi penentu utama agar pelaksanaan di lapangan berjalan sesuai rencana dan tidak menimbulkan kebingungan.

Seluruh rangkaian tahap perencanaan yang dilaksanakan di Daerah Al-Amiri Pondok Pesantren Nurul Jadid ini membuktikan bahwa program pendampingan BTQ dan Furudul Ainiyah tidak hanya dirancang di atas kertas, tetapi benar-benar diterjemahkan ke dalam langkah operasional yang terukur, terarah, dan realistis. Dengan fondasi perencanaan yang kuat, program ini diharapkan mampu menjawab permasalahan mendasar santri secara nyata, serta mendukung visi besar pesantren untuk melahirkan generasi muslim yang cakap dalam iman, ilmu, dan amal.

  1. Tahap Pelaksanaan

Tahapan pelaksanaan program pendampingan Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dan Furudul Ainiyah di Daerah Al-Amiri Pondok Pesantren Nurul Jadid berjalan dengan skema yang benar-benar terstruktur, operasional, dan menyentuh kebutuhan santri secara langsung. Setelah tahap perencanaan disusun dengan matang, pelaksanaan dilakukan dengan komitmen tinggi agar setiap tahapan benar-benar berjalan sesuai target.

Gambar 3 : Pembinaan FA oleh tim pengabdian kepada masyarakat

Pelaksanaan diawali dengan pengorganisasian santri berdasarkan hasil asesmen awal yang sudah dilakukan sebelumnya. Asesmen ini bukan hanya melihat kemampuan membaca Al-Qur’an secara teknis tetapi juga mendalami pemahaman santri terhadap ilmu dasar keislaman, mulai dari fiqh ibadah, aqidah, hingga akhlak. Berdasarkan data asesmen, santri kemudian dipetakan ke dalam kelompok-kelompok pembinaan yang benar-benar mencerminkan tingkat kemampuan mereka. Kelompok pertama adalah kelompok pemula yang mayoritas terdiri dari santri baru yang kemampuan membaca Al-Qur’annya masih sangat mendasar, sebagian di antaranya bahkan belum lancar mengenal huruf hijaiyah. Kelompok kedua adalah kelompok menengah, yaitu mereka yang sudah dapat membaca Al-Qur’an namun masih sering keliru tajwidnya dan masih lemah di pemahaman furudul ainiyah. Sedangkan kelompok ketiga adalah kelompok lanjutan yang ditujukan bagi santri yang bacaan Al-Qur’annya sudah lancar dan tajwidnya relatif baik, namun tetap perlu pendalaman kitab kuning serta penguatan praktik ibadah sehari-hari.

Setiap kelompok tersebut kemudian dibimbing oleh minimal satu ustadz pembina yang bertanggung jawab penuh atas jalannya kegiatan. Untuk membantu efektivitas, para ustadz ini didampingi tutor sebaya yang sudah terpilih melalui tahap seleksi. Tutor sebaya bertugas mendampingi santri secara lebih dekat, terutama di waktu-waktu belajar tambahan atau pengulangan materi di luar jadwal resmi. Skema ini menjadikan suasana belajar lebih cair karena tutor sebaya cenderung lebih mudah didekati santri yang merasa malu atau sungkan jika langsung bertanya pada ustadz.

Dalam praktiknya, materi BTQ diberikan secara bertahap dimulai dari pengenalan huruf hijaiyah bagi kelompok pemula. Santri diajarkan pengucapan huruf dengan benar, cara menyambung huruf, hingga membaca suku kata sederhana. Pada tahap ini, metode iqro’ menjadi andalan karena sangat cocok untuk santri yang sama sekali belum bisa membaca Al-Qur’an. Ustadz dan tutor sebaya mendampingi santri membaca halaman demi halaman, kemudian memberikan koreksi langsung. Setelah santri lancar di iqro’, mereka diarahkan untuk masuk tahap talaqqi. Dalam metode talaqqi, ustadz membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan tajwid yang benar, santri mendengarkan, lalu menirukan secara berulang-ulang. Teknik talaqqi ini sangat ditekankan pada kelompok menengah dan lanjutan agar kualitas bacaan makin mendekati standar tartil.

Gambar 4. Pembinaan BTQ di wilayah al-Amiri

Kegiatan simakan atau mendengarkan bacaan secara bergiliran menjadi bagian penting dalam tahapan pelaksanaan BTQ. Setiap pekan diadakan simakan bersama, di mana santri maju satu per satu untuk membaca ayat tertentu di hadapan ustadz, tutor, dan teman-temannya. Dalam sesi ini, kesalahan langsung diperbaiki, lalu santri diarahkan untuk mengulang di luar jam resmi bersama tutor sebaya. Sistem simakan ini terbukti membangun mental percaya diri sekaligus meningkatkan kemampuan santri secara signifikan karena mereka belajar mendengar, mengoreksi diri sendiri, dan terbiasa membaca dengan lantang di hadapan orang lain.

Untuk pembelajaran furudul ainiyah, metode sorogan dan bandongan diterapkan secara simultan. Dalam metode bandongan, ustadz membacakan teks dari kitab seperti Safinatun Najah atau Aqidatul Awam di hadapan seluruh anggota kelompok. Ustadz menjelaskan arti kata demi kata, menjabarkan maksud teks, lalu membuka diskusi. Setelah itu, metode sorogan dilakukan dengan memanggil santri satu per satu untuk membaca ulang bagian yang sudah dipelajari. Santri diminta menjelaskan ulang dengan bahasa mereka sendiri sebagai bukti pemahaman. Jika ada yang masih ragu, ustadz akan mengulang pembahasan hingga santri benar-benar memahami. Cara ini membuat materi furudul ainiyah tidak sekadar dihafal, tetapi juga dipahami dan dapat diaplikasikan dalam praktik ibadah harian.

Dalam setiap pelaksanaan pertemuan, baik BTQ maupun furudul ainiyah, santri diberikan tugas ringan berupa latihan membaca, rangkuman materi, atau hafalan pokok. Tugas ini dipantau melalui buku catatan yang wajib dibawa setiap sesi. Tutor sebaya berperan memeriksa tugas harian, mendampingi latihan tambahan, dan mencatat santri mana yang memerlukan pendampingan lebih mendalam. Data ini kemudian dilaporkan kepada ustadz pembimbing setiap akhir pekan untuk dievaluasi bersama.

Salah satu ciri khas tahap pelaksanaan di Daerah Al-Amiri adalah keberhasilan menjalankan sistem peer teaching secara konsisten. Para tutor sebaya mendapat pengarahan rutin setiap minggu melalui briefing yang dipimpin langsung oleh ustadz pembina. Dalam briefing ini, tutor menyampaikan laporan perkembangan kelompok bimbingan mereka, mendiskusikan masalah yang muncul di lapangan, serta mendapatkan solusi praktis untuk diterapkan pada pertemuan selanjutnya. Di sinilah nilai kolaborasi benar-benar terasa karena tutor sebaya tidak hanya bertugas mendampingi, tetapi juga berkontribusi aktif dalam merumuskan solusi pendidikan di lingkungan mereka sendiri.

Suasana pembelajaran yang tercipta selama tahap pelaksanaan sangat dinamis. Santri yang awalnya canggung kini lebih terbuka untuk bertanya dan belajar bersama. Beberapa santri yang awalnya tidak bisa membaca sama sekali, mulai berani memimpin doa bersama, bahkan membaca Al-Qur’an di depan teman-teman asrama. Semangat kebersamaan pun makin terasa karena sistem kelompok kecil dan tutor sebaya menumbuhkan rasa saling peduli dan semangat saling menguatkan.

Tahap pelaksanaan ini juga tidak lepas dari peran aktif pengurus daerah yang rutin turun ke lokasi pembelajaran. Mereka memastikan jadwal berjalan sesuai rencana, mendata kehadiran, dan memfasilitasi kebutuhan teknis seperti penyediaan mushaf tambahan, buku iqro’, kitab kuning, serta papan tulis kecil untuk praktik penulisan huruf hijaiyah bagi santri pemula. Kehadiran pengurus di lokasi membuat program benar-benar terpantau dengan baik sehingga setiap hambatan cepat terdeteksi dan dicarikan solusinya.

Pencapaian yang diraih di tahap pelaksanaan menjadi cermin bahwa pembinaan di Daerah Al-Amiri bukan sekadar formalitas. Kegiatan ini bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membangun karakter santri agar terbiasa belajar mandiri, saling membantu, dan berani menularkan ilmunya ke lingkungan sekitar. Implementasi yang berjalan dengan pendekatan teknis yang detail, metode yang tepat, pembagian kelompok yang sesuai, serta pendampingan yang intens membuat program pendampingan BTQ dan furudul ainiyah di Daerah Al-Amiri layak dijadikan contoh model pengabdian masyarakat berbasis pesantren yang adaptif dengan realitas santri dan tetap relevan dengan tantangan zaman.

  1. Tahap Monitoring

Tahapan monitoring dan evaluasi pada program pengabdian pendampingan Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dan Furudul Ainiyah di Daerah Al-Amiri Pondok Pesantren Nurul Jadid bukan hanya menjadi pelengkap dari pelaksanaan, tetapi justru menjadi penopang utama agar seluruh rangkaian kegiatan benar-benar berjalan efektif, tepat sasaran, dan sesuai dengan capaian yang telah ditetapkan pada tahap perencanaan. Implementasi monitoring di lapangan dilaksanakan secara sistematis dan terukur, dengan melibatkan pengurus daerah, ustadz pembina, tutor sebaya, serta partisipasi aktif para santri.

Proses monitoring dimulai sejak hari pertama program berjalan, ketika asesmen awal dilaksanakan untuk memetakan kemampuan santri. Namun, monitoring tidak berhenti hanya pada tahap asesmen, melainkan diteruskan secara rutin melalui observasi harian. Pengurus daerah telah membagi jadwal piket bagi beberapa personil yang bertugas memantau proses belajar mengajar di setiap titik lokasi pembelajaran. Setiap sore, para pengurus turun ke kelas-kelas BTQ maupun halaqah sorogan kitab kuning untuk mencatat kehadiran santri, memeriksa keseriusan mengikuti pembelajaran, serta mendokumentasikan catatan-catatan khusus yang disampaikan ustadz atau tutor sebaya.

Di lapangan, setiap santri memiliki buku kontrol yang berfungsi sebagai lembar monitoring individu. Buku ini berisi kolom penilaian harian yang diisi oleh tutor sebaya mengenai capaian bacaan Al-Qur’an, kemampuan tajwid, kelancaran tartil, serta catatan hafalan dan rangkuman materi furudul ainiyah yang sudah dikuasai. Buku kontrol tersebut dikumpulkan setiap akhir pekan untuk diperiksa oleh ustadz pembina. Dari hasil buku kontrol, ustadz dapat melihat siapa saja yang mengalami kemajuan pesat, siapa yang stagnan, dan siapa yang memerlukan pendekatan khusus. Santri yang mengalami stagnasi tidak langsung dimarahi, tetapi dipanggil secara personal untuk diajak diskusi, mencari tahu penyebabnya, apakah kesulitan dari sisi materi, metode belajar, atau motivasi pribadi. Dari situ, ustadz bisa memberikan penanganan lebih bijak.

Untuk memastikan bahwa program tetap berjalan pada jalur yang benar, monitoring formal dilakukan setiap satu bulan sekali melalui evaluasi bulanan. Pada tahap ini, seluruh santri wajib mengikuti ujian praktik membaca Al-Qur’an sesuai standar tajwid dan tartil. Santri juga mengikuti kuis tertulis atau lisan terkait materi furudul ainiyah yang sudah diajarkan. Ujian praktik ini diawasi langsung oleh ustadz pembina dengan bantuan tutor sebaya yang berperan sebagai panel penguji tambahan. Hasil ujian kemudian direkap dan diumumkan kepada santri dengan pendekatan yang mendidik, sehingga santri memahami posisinya dan termotivasi untuk meningkatkan capaian di bulan berikutnya.

Santri yang hasil evaluasinya menunjukkan perkembangan pesat akan dipindahkan ke kelompok lanjutan. Pemindahan ini tidak dilakukan sembarangan, tetapi melalui pertimbangan bersama antara ustadz, tutor, dan pengurus daerah. Santri yang naik ke kelompok lebih tinggi kemudian diberi tanggung jawab tambahan untuk menjadi motivator bagi teman-temannya, agar keberhasilan mereka dapat menular ke lingkungan belajar yang lain. Sementara santri yang belum memenuhi standar tidak langsung dikeluarkan dari program, tetapi mendapatkan jadwal tambahan berupa bimbingan intensif secara privat. Bimbingan ini difokuskan pada materi-materi mendasar yang masih lemah, sehingga santri perlahan dapat mengejar ketertinggalan.

Selain evaluasi tertulis dan praktik, monitoring juga diperkuat dengan observasi langsung suasana belajar. Pengurus daerah rutin berdiskusi dengan ustadz dan tutor untuk mendengar laporan kendala teknis di lapangan. Jika ditemukan metode pembelajaran yang dirasa kurang efektif, pengurus bersama ustadz akan segera melakukan penyesuaian. Misalnya, jika metode talaqqi pada kelompok tertentu terasa kurang optimal karena jumlah santri terlalu besar, maka akan dilakukan penataan ulang kelompok belajar menjadi lebih kecil agar pembelajaran lebih intensif.

Salah satu aspek unik dari tahapan monitoring di Daerah Al-Amiri adalah adanya forum tanya jawab terbuka antara santri dengan ustadz dan pengurus. Forum ini biasanya diadakan sebulan sekali pada akhir pekan di aula daerah. Santri diberikan kesempatan untuk bertanya, menyampaikan kendala belajar, mengusulkan metode belajar yang mereka rasa lebih nyaman, bahkan memberikan kritik membangun terhadap tutor sebaya ataupun ustadz pembina. Forum ini terbukti sangat membantu menjaga semangat belajar santri karena mereka merasa didengar dan diakomodasi aspirasinya. Tidak jarang, dalam forum ini muncul gagasan baru dari santri tentang cara belajar yang lebih menarik, seperti pembentukan kelompok kecil belajar tambahan ba’da isya, atau lomba membaca Al-Qur’an internal untuk melatih mental.

Monitoring juga mencakup aspek administratif. Setiap bulan, pengurus daerah menyusun laporan perkembangan santri secara kolektif. Laporan ini memuat rekap absensi, hasil ujian bulanan, catatan khusus perkembangan setiap kelompok, hingga rekomendasi perbaikan program. Laporan ini tidak hanya disimpan sebagai arsip internal, tetapi juga dibahas bersama pimpinan pondok pesantren dalam rapat rutin. Dengan adanya laporan detail ini, pihak pesantren dapat mengetahui progres nyata di lapangan, mendukung kebijakan lanjutan, dan mengalokasikan fasilitas yang diperlukan, seperti penambahan mushaf, buku iqro’, atau kitab kuning untuk mendukung pembelajaran.

Selain itu, monitoring tidak hanya berorientasi pada aspek akademik dan teknis semata, tetapi juga menyentuh ranah pembentukan karakter. Ustadz dan tutor sebaya diberikan mandat untuk mengamati sikap santri selama pembelajaran. Ketepatan waktu hadir, adab terhadap guru, kerjasama antar teman, hingga kejujuran dalam ujian, semuanya menjadi indikator yang dipantau. Jika ada santri yang menunjukkan perilaku kurang disiplin, maka pengurus tidak segan memanggil santri dan wali asramanya untuk diberikan pembinaan. Dengan demikian, proses monitoring juga menjadi sarana pembinaan moral dan mental agar pembelajaran tidak hanya menghasilkan santri yang cerdas secara keilmuan, tetapi juga berakhlak baik.

Dalam skala jangka panjang, tahapan monitoring berfungsi memastikan bahwa hasil program benar-benar sesuai visi besar Pondok Pesantren Nurul Jadid, yaitu membentuk kader ulama muda yang mumpuni. Indikator keberhasilan jangka panjang tidak hanya diukur dari kemampuan membaca Al-Qur’an atau menguasai furudul ainiyah, tetapi juga dari kemampuan santri mengajarkan kembali ilmunya. Oleh karena itu, santri yang telah melewati program ini seringkali diminta menjadi tutor sebaya untuk adik kelasnya, sehingga tercipta ekosistem belajar yang mandiri dan berkesinambungan. Inilah bentuk nyata monitoring berkelanjutan yang sudah berjalan di Daerah Al-Amiri.

Dengan pola monitoring yang menyeluruh, setiap tahapan program pendampingan selalu dikawal agar tetap berada pada rel yang benar. Apapun hasil yang muncul di lapangan, segera dikaji dan diperbaiki tanpa menunggu lama. Komitmen pengurus, ustadz, tutor, dan santri menjadikan monitoring bukan sekadar kegiatan administratif, melainkan praktik nyata menjaga mutu program pengabdian. Melalui model monitoring ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid membuktikan bahwa penguatan BTQ dan furudul ainiyah di Daerah Al-Amiri tidak hanya menjadi slogan, tetapi diterapkan dengan pola kerja nyata yang terukur dan dapat direplikasi.

  1. Pembahasan Pengabdian

Program pengabdian kepada masyarakat melalui pendampingan Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dan Furudul Ainiyah yang dijalankan di Daerah Al-Amiri Pondok Pesantren Nurul Jadid patut diapresiasi sebagai salah satu bentuk ikhtiar nyata pesantren dalam menjawab kebutuhan mendasar santri akan kemampuan dasar membaca Al-Qur’an dan pemahaman ilmu fardhu ‘ain. Jika ditelaah secara kritis, program ini memiliki kelebihan yang menonjol, tetapi juga menyimpan tantangan dan kelemahan yang perlu diantisipasi untuk menjamin keberlanjutan di masa mendatang.

Analisis Kelebihan

Program pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan adanya perencanaan yang matang dengan landasan asesmen riil di lapangan. Identifikasi perbedaan tingkat kemampuan santri melalui pengamatan dan wawancara mendalam membuat program ini benar-benar berbasis kebutuhan (need based). Pemilahan santri ke dalam kelompok berdasarkan kemampuan, bukan usia atau kelas formal, juga merupakan strategi tepat yang membuat pembinaan lebih fokus dan tepat sasaran. Selain itu, penerapan metode kombinasi — klasikal, sorogan, talaqqi, dan iqro’ — membuktikan bahwa pesantren tidak terpaku pada satu pendekatan saja, melainkan menyesuaikan dengan kondisi santri yang sangat beragam. Nilai tambah lainnya adalah keberadaan tutor sebaya melalui sistem peer teaching. Pendekatan ini tidak hanya mempercepat pemerataan kemampuan, tetapi juga melatih kepemimpinan, tanggung jawab, dan jiwa sosial di antara santri. Program monitoring yang dilaksanakan secara berkala dengan asesmen bulanan, forum tanya jawab, hingga evaluasi keterampilan praktik juga menjadi indikator kuat bahwa pesantren serius menjaga kualitas program ini.

Analisis Tantangan dan Kelemahan

Namun demikian, di balik kelebihan tersebut, tantangan dan kelemahan tetap ada. Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi pelaksanaan, terutama pada aspek pendampingan santri yang mengalami stagnasi. Keterbatasan jumlah ustadz pembina dan beban tugas tutor sebaya dapat menimbulkan beban kerja yang tinggi. Belum lagi jadwal santri yang padat dengan kegiatan madrasah formal, kegiatan asrama, dan kegiatan pesantren lainnya sering kali membuat mereka kelelahan dan berpotensi absen pada sesi tambahan bimbingan. Di samping itu, kualitas tutor sebaya tidak selalu seragam. Ada tutor yang memang siap dan cakap mendampingi, tetapi tidak sedikit yang masih perlu bimbingan pedagogi dasar agar pendampingan tidak sekadar formalitas.

Kelemahan lain yang patut dicatat adalah keterbatasan inovasi pada aspek digital. Di era sekarang, santri sebenarnya dapat dibekali dengan media pembelajaran berbasis teknologi, seperti video pembelajaran BTQ, audio murottal interaktif, atau modul digital furudul ainiyah. Selama ini, pembelajaran masih bertumpu pada metode lisan dan kitab cetak semata. Jika tidak diantisipasi, santri yang memiliki gaya belajar audio-visual bisa saja kurang optimal berkembang. Selain itu, pelibatan pihak eksternal, seperti alumni, praktisi pendidikan agama, atau lembaga mitra juga tampaknya masih terbatas. Padahal, dengan jejaring alumni yang luas, pesantren dapat memperluas dukungan, baik dalam bentuk tenaga pendamping, ide pengembangan metode, maupun sarana pendukung program.

Keberlanjutan program di masa depan sangat bergantung pada bagaimana pihak pesantren terus berinovasi dan membuka ruang kolaborasi. Sistem peer teaching yang sudah berjalan baik perlu diperkuat dengan pelatihan tutor sebaya secara rutin, tidak hanya melalui briefing mingguan tetapi juga pelatihan pedagogi sederhana, komunikasi empatik, hingga manajemen kelompok belajar. Untuk menjaga semangat santri, pesantren dapat membuat sistem penghargaan berjenjang, misalnya dengan sertifikat, hadiah kitab, atau kesempatan tutor sebaya mengikuti pelatihan lanjutan di luar pesantren. Ke depan, penting juga untuk merancang skema replikasi ke daerah asrama lain di luar Al-Amiri agar dampak program semakin meluas.

Dengan penguatan inovasi digital, penjadwalan yang fleksibel, pelibatan alumni, dan dukungan stakeholder eksternal, program pengabdian di Daerah Al-Amiri berpeluang besar menjadi role model bagi pesantren lain di Indonesia dalam memperkuat literasi Al-Qur’an dan ilmu fardhu ‘ain secara berkelanjutan. Dengan demikian, visi Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk mencetak kader ulama muda yang kaffah akan semakin mendekati kenyataan.

 

 

BAB IV

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian pengabdian kepada masyarakat melalui program pendampingan Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dan Furudul Ainiyah di Daerah Al-Amiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, dapat disimpulkan bahwa program ini adalah salah satu contoh nyata bagaimana pesantren mampu mengidentifikasi kebutuhan dasar santri secara mendetail, merumuskan strategi pembinaan yang tepat, serta menjalankannya melalui metode yang adaptif dengan kondisi santri. Langkah-langkah mulai dari tahap perencanaan dengan asesmen yang akurat, pelaksanaan dengan pemisahan kelompok belajar berdasarkan kemampuan, penggunaan metode klasikal, sorogan, iqro’, talaqqi, hingga pendampingan tutor sebaya menunjukkan bahwa pesantren benar-benar serius menjawab tantangan literasi Al-Qur’an dan penguasaan furudul ainiyah di kalangan santri.

Monitoring yang dilaksanakan secara terstruktur dengan evaluasi bulanan, forum tanya jawab, hingga pembinaan karakter membuktikan bahwa aspek pengawasan tidak hanya sekadar formalitas administratif, tetapi diterapkan secara nyata untuk memastikan tidak ada santri yang tertinggal. Budaya peer teaching juga menjadi poin kelebihan yang tidak hanya meningkatkan pemerataan capaian santri tetapi juga menumbuhkan jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kebersamaan di lingkungan pesantren.

Namun demikian, di balik keunggulan tersebut, masih terdapat beberapa kelemahan dan tantangan yang perlu diperhatikan demi keberlanjutan program. Keterbatasan tenaga pendamping ustadz dan tutor sebaya, jadwal santri yang padat, serta belum optimalnya inovasi media pembelajaran digital menjadi hal yang perlu segera diantisipasi. Selain itu, peluang kolaborasi dengan alumni, tokoh masyarakat, atau praktisi pendidikan luar pesantren masih bisa diperluas agar program ini semakin kuat secara substansi maupun sarana pendukung.

  1. Saran

Berdasarkan kondisi tersebut, beberapa saran dapat diajukan untuk menyempurnakan program ke depan. Pertama, perlu dilakukan pelatihan rutin bagi tutor sebaya agar mereka tidak hanya cakap dalam penguasaan materi, tetapi juga memiliki kemampuan mengajar dan berkomunikasi yang lebih baik. Kedua, pesantren dapat mulai memanfaatkan teknologi dengan menyediakan media pembelajaran digital seperti video tartil, audio murottal interaktif, dan kuis daring untuk memperkaya metode belajar santri. Ketiga, pelibatan alumni perlu diperkuat melalui forum-forum pendampingan, donasi kitab, atau pembukaan kelas tamu agar santri juga terinspirasi dari sosok alumni yang berhasil. Terakhir, penjadwalan bimbingan perlu dirancang fleksibel agar santri yang tertinggal tetap dapat mengikuti program tanpa merasa terbebani oleh jadwal madrasah formal maupun kegiatan pesantren lainnya.

Dengan penguatan di beberapa aspek tersebut, program pengabdian di Daerah Al-Amiri tidak hanya akan tetap relevan, tetapi juga berpotensi menjadi contoh inspiratif bagi penguatan literasi Al-Qur’an dan furudul ainiyah di pesantren lain di Indonesia.

 

 

REFRENSI

Amalia, Viki, and Zainal Arifin. “Kepemimpinan Nyai Dalam Memelihara Kajian Kitab Kuning Di Ma ’ Had Aly Nurul Jadid Probolinggo.” Manageria: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 3, no. November (2018): 215–30.

Arifatul Chusna, Ali Mohtarom. “IMPLEMENTASI QIRAATUL KUTUB UNTUK MENINGKATKAN KELANCARAN MEMBACA KITAB KUNING DI MADRASAH DINIYAH DARUT TAQWA SENGONAGUNG PURWOSARI PASURUAN.” Mu’allim 1, no. 1 (2019): 1–18.

Kamaru, Abd. Rasyid. “ANALISIS PENGUASAAN SANTRI TERHADAP KITAB KUNING BAERDASARKAN BERDASARKAN POLA PEMBINAAN (STUDI KASUS PONDOK PESANTREN AL-HUDA PROVINSI GORONTALO).” Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal AKSARA 5, no. 2 (2019): 157–62.

Syarboini. “PELAKSANANAN PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI MA’HAD JAMI’AH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI LHOKSEUMAWE PROVINSI ACEH.” ITQAN 11, no. 1 (2020): 21–38.

Zubaedi. Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pesantren: Kontribusi Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh Dalam Perubahan Nilai-Nilai Pesantren. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

 

 

 


[1] Viki Amalia and Zainal Arifin, “Kepemimpinan Nyai Dalam Memelihara Kajian Kitab Kuning Di Ma ’ Had Aly Nurul Jadid Probolinggo,” Manageria: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 3, no. November (2018): 215–30.

[2] Abd. Rasyid Kamaru, “ANALISIS PENGUASAAN SANTRI TERHADAP KITAB KUNING BAERDASARKAN BERDASARKAN POLA PEMBINAAN (STUDI KASUS PONDOK PESANTREN AL-HUDA PROVINSI GORONTALO),” Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal AKSARA 5, no. 2 (2019): 157–62.

[3] Ali Mohtarom Arifatul Chusna, “IMPLEMENTASI QIRAATUL KUTUB UNTUK MENINGKATKAN KELANCARAN MEMBACA KITAB KUNING DI MADRASAH DINIYAH DARUT TAQWA SENGONAGUNG PURWOSARI PASURUAN,” Mu’allim 1, no. 1 (2019): 1–18.

[4] Zubaedi, Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pesantren: Kontribusi Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh Dalam Perubahan Nilai-Nilai Pesantren (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007).

[5] Zubaedi.

[6] Syarboini, “PELAKSANANAN PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI MA’HAD JAMI’AH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI LHOKSEUMAWE PROVINSI ACEH,” ITQAN 11, no. 1 (2020): 21–38.

Berita Terkait

PKM Pendampingan Juru Pantau Jentik (Jumantik) dalam Meningkatkan Angka Bebas Jentik (ABJ) di Pondok Pesantren Nurul Jadid

Rabu, 20 Mei 2026

PENDAMPINGAN PEMBINAAN BACA TULIS AL-QUR’AN DAN FURUDUL AINIYAH DI DAERAH AL-AMIRI PONDOK PESANTREN NURUL JADID

Rabu, 20 Mei 2026

PEMBERDAYAAN SANTRI DALAM PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH MELALUI PEMERIKSAAN JENTIK NYAMUK DAN EDUKASI KESEHATAN DI PONDOK PESANTREN NURUL JADID

Rabu, 20 Mei 2026

Optimalisasi Pembinaan Al-Qur’an Melalui Peran Aktif Wali Asuh di Asrama Pondok Mahasiswa Pondok Pesantren Nurul Jadid

Rabu, 20 Mei 2026

Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291

Lembaga Pusat Layanan Masyarakat

© 2023 Universitas Nurul Jadid