UNUJA - Lembaga Pusat Layanan Masyarakat
Kamis, 21 Mei 2026
Diakses: 3 kali
L A P O R A N
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

[PKM Edukasi Kesadaran Siswa Tentang Dampak Negatif Makanan Cepat Saji Terhadap Kesehatan Anak di MI Nurul Mun'im]
Disusun oleh:
|
Ketua Tim |
: |
Zainal Munir, S.Kep.,Ns.,M.Kep. |
NIDN. 0723128807 |
|
Anggota |
: |
Ghifari Hiban Ashfihani |
NIM. 2231800009 |
|
Anggota |
: |
Bintang Utama Putra |
NIM. 2231800056 |
|
Anggota |
: |
Fikri Aldi Maulana |
NIM. 2231800058 |
|
Anggota |
: |
Aldo Jaiz Maulana Hidayatullah |
NIM. 2231800056 |
Lembaga Penerbitan, Pengabdian, dan
Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M)
Universitas Nurul Jadid
Paiton Probolinggo
Tahun 2025
[PKM Edukasi Kesadaran Siswa Tentang Dampak Negatif Makanan Cepat Saji Terhadap Kesehatan Anak di MI Nurul Mun'im]
Abstrak. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan sebagai respons terhadap meningkatnya konsumsi makanan cepat saji di kalangan anak usia sekolah dasar, khususnya di MI Nurul Mun’im. Makanan cepat saji memiliki kandungan gizi yang rendah namun tinggi lemak jenuh, gula, garam, dan kalori, yang dapat memicu berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, dan gangguan metabolik lainnya. Minimnya kesadaran siswa akan bahaya jangka panjang dari konsumsi makanan tersebut menjadi latar belakang pentingnya pelaksanaan edukasi gizi secara sistematis. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai dampak negatif makanan cepat saji, serta mendorong terbentuknya kebiasaan makan sehat sejak dini. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi ceramah interaktif, pemutaran video edukatif, permainan kuis, diskusi kelompok kecil, dan pembagian media edukatif cetak. Sasaran kegiatan adalah siswa kelas V dan VI MI Nurul Mun’im dengan jumlah peserta sebanyak 70 siswa. Hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa terhadap bahaya makanan cepat saji serta peningkatan minat untuk menerapkan pola makan sehat. Selain itu, siswa menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung, yang menjadi indikasi keberhasilan pendekatan edukatif yang digunakan. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan siswa mampu menjadi agen perubahan kecil di lingkungan keluarga dan sekolah dalam menerapkan pola hidup sehat. Kegiatan ini juga menjadi contoh implementasi nyata kontribusi perguruan tinggi dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui pendekatan preventif.
Katakunci: pengabdian kepada masyarakat; makanan cepat saji; edukasi kesehatan, pola makan
Abstract. This Community Service activity was carried out in response to the increasing consumption of fast food among elementary school children, especially at MI Nurul Mun'im. Fast food has low nutritional content but is high in saturated fat, sugar, salt, and calories, which can trigger various health problems such as obesity, type 2 diabetes, hypertension, and other metabolic disorders. The lack of student awareness of the long-term dangers of consuming these foods is the background for the importance of implementing nutrition education systematically. The purpose of this activity is to increase students' knowledge and awareness of the negative impact of fast food, and encourage the formation of healthy eating habits from an early age. The methods of activity implementation include interactive lectures, educational video screenings, quiz games, small group discussions, and distribution of printed educational media. The targets of the activity were grade V and VI students of MI Nurul Mun'im with a total of 70 students. Evaluation results through pre-test and post-test showed a significant increase in students' understanding of the dangers of fast food and an increased interest in implementing a healthy diet. In addition, students showed high enthusiasm during the activity, which is an indication of the success of the educational approach used. With this activity, students are expected to be able to become small agents of change in the family and school environment in implementing a healthy lifestyle. This activity is also an example of the real implementation of higher education's contribution in efforts to improve the quality of public health through a preventive approach.
Keywords: community service; fast food; health education, eating patterns
BAB I
LATAR BELAKANG
Mengkonsumsi makan merupakan kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap manusia untuk memenuhi gizi yang berfungsi mengisi kebutuhan dasar manusia setiap harinya. Perilaku konsumsi dapat terbentuk karena kebiasaan mengkonsumsi makanan (Sari & Nugroho, 2021). Majunya perkembangan teknologi informasi membuat masyarakat menginginkan sesuatu yang serba instan dan cepat. Baik dalam hal transportasi, informasi, maupun makanan. Pada era ini, para remaja cenderung memilih mengkonsumsi makanan cepat saji atau bisa disebut fast food karena penyajiannya yang cepat, mudah dijumpai, dan rasanya yang enak. Selain itu, fast food juga memiki harga yang lebih terjangkau oleh kantong pelajar dengan warna dan bungkus yang menarik para pelajar. Banyak remaja suka mengkonsumsi fast food karena jenis makanan ini cocok dilidah para remaja, mereka juga menganggap bahwa fast food merupakan makanan gaul dan makanan anak milenial (Pengabdian Kesehatan Masyarakat et al., 2024).
Fast food sangat beragam jenisnya, ada makanan berat dan juga makanan ringan. Seringnya mengkonsumsi makanan ini dapat menyebabkan meningkatnya porsi serta energi. Karena, dengan mengkonsumsi fast food maka remaja akan menambah asupan energi, lemak dan gula secara berlebihan. Fast food juga memiliki serat yang rendah dan tinggi sodium, yang jika dikonsumsi secara berlebih bisa menyebabkan resiko obesitas (Anggie Annisa Permatasari et al., 2024).
Makanan cepat saji atau sering dikenal dengan sebutan fast food merupakan semua jenis makanan yang mengandung gula, garam, lemak, kalori dalam jumlah tinggi tetapi rendah dalam kandungan mikrononutrien seperti vitamin, mineral, asam amino, dan serat (R et al., n.d.). Fast food merupakan makanan yang biasa dikonsumsi para remaja sebagai pengganti makanan rumahan karena penyajiannya yang mudah dan praktis. Sehingga, para masyarakat khususnya remaja banyak mengkonsumsi fast food. Padahal, mengkonsumsi fast food secara berlebih tidak baik bagi tubuh karena bisa menyebabkan beberapa masalah kesehatan seperti keracunan, kerusakan syaraf, ginjal, hati, kejang – kejang, cacat kelahiran, kemandulan, bahkan kematian. Hal ini terjadi karena didalam fast food tidak hanya terdapat gula, garam, lemak, dan kalori yang berlebih namun juga terdapat zat aditif berupa bahan pengawet, penyedap, dan pemanis. Apalagi para remaja sekarang ini, mereka sangat jarang bahkan hamper tidak pernah melakukan olahraga, sehingga kebutuhan gizi dan juga ketahanan fisik mereka tidak terpenuhi dengan baik. Maka, tidak menutup kemungkinan bahwa para remaja tersebut bisa saja mengidap masalah kesehatan seperti diabetes, hipertensi, stroke, jantung koroner, kanker, dan lain sebagainya. Makanan cepat saji juga sangat mengganggu lingkungan karena menghasilkan air limbah dari usaha yang bergerak pada bidang fast food (Nisa et al., 2021).
Maka dari data tersebut perlu adalanya kepekan dalam semua lini sektor antara lain, perawat, bidan, dokter, pemerintah, Mahasiswa dan Masyarakat untuk sama-sama menjaga penurunan angka obesitas di daerah maupun pusat dengan salah satu program yang di laksanakan oleh mahasiswa Kesehatan Universitas Nurul Jadid dalam kegiatan kkn yang berjudul PKM Edukasi Kesadaran Masyarakat tentang Dampak Negatif Makanan Cepat Saji terhadap Kesehatan Anak di sekolah MI nurul mun'im
Perubahan gaya hidup masyarakat modern telah membawa pengaruh besar terhadap pola konsumsi makanan, termasuk pada anak-anak usia sekolah dasar. Makanan cepat saji (fast food) kini menjadi pilihan yang semakin umum dikonsumsi karena dianggap praktis, mudah dijangkau, dan disukai oleh anak-anak karena cita rasanya yang khas. Namun di balik kepraktisannya, makanan cepat saji umumnya mengandung kadar lemak, gula, garam, dan kalori yang tinggi, namun rendah serat, vitamin, dan mineral. Konsumsi makanan jenis ini secara berlebihan dalam jangka panjang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan anak, seperti risiko obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, serta gangguan metabolisme lainnya.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di MI Nurul Mun’im, ditemukan bahwa sebagian besar siswa memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, baik yang dibawa dari rumah maupun yang dibeli di lingkungan sekitar sekolah. Minimnya edukasi tentang gizi seimbang dan bahaya makanan cepat saji menjadi salah satu penyebab rendahnya kesadaran siswa akan pentingnya pola makan sehat. Selain itu, faktor lingkungan, seperti iklan makanan cepat saji yang masif dan kurangnya pengawasan dari orang tua, turut memperparah kondisi ini.
Melihat kondisi tersebut, diperlukan sebuah upaya konkret dalam bentuk kegiatan edukatif yang dapat meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya menjaga pola makan yang sehat sejak dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk memberikan pengetahuan yang aplikatif dan menyenangkan kepada siswa melalui metode yang interaktif, sehingga diharapkan mampu mengubah pola pikir dan perilaku konsumsi mereka ke arah yang lebih sehat.
Berdasarkan latar belakang dan analisis situasi yang telah dijelaskan, maka rumusan masalah dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah sebagai berikut:
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk:
Adapun manfaat yang diharapkan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut:
BAB II
METODE PELAKSANAAN
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di MI Nurul Mun’im dan diikuti oleh siswa kelas V dan VI dengan total peserta sebanyak 70 orang. Tahapan pelaksanaan kegiatan dibagi menjadi tiga tahap utama, yaitu persiapan, pelaksanaan inti, dan evaluasi.
Tahap pelaksanaan inti dimulai dengan pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman awal siswa mengenai makanan cepat saji dan dampaknya. Selanjutnya, dilakukan sesi penyuluhan interaktif yang disampaikan secara komunikatif dan menyenangkan, disesuaikan dengan tingkat usia siswa. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan jenis-jenis makanan cepat saji, kandungan gizinya, dampak jangka pendek dan panjang terhadap kesehatan, serta pentingnya makanan bergizi dan seimbang. Penyampaian materi didukung oleh media visual seperti gambar dan video. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi kuis interaktif dan diskusi kelompok untuk memperkuat pemahaman siswa.
Gambar 1: Pemberian edukasi tentang makanan sehat
Gambar 2: evaluasi kegiatan PkM
Kegiatan ini berlangsung selama satu hari penuh dan mendapatkan respon positif dari siswa dan guru. Keberhasilan pelaksanaan ini menunjukkan bahwa metode edukatif yang tepat dan interaktif dapat secara efektif meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya kesehatan melalui pola makan yang baik.
Mitra dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah pihak MI Nurul Mun’im, yang memberikan dukungan penuh sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan. Bentuk partisipasi mitra sangat penting dalam menjamin kelancaran dan keberhasilan program edukasi ini. Partisipasi mitra dimulai dari tahap awal, yaitu pemberian izin dan fasilitasi akses kepada siswa serta penyediaan ruang kelas sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan. Pihak sekolah juga turut membantu dalam mengkoordinasikan peserta, khususnya siswa kelas V dan VI, agar dapat mengikuti kegiatan secara tertib dan aktif. Guru-guru yang terlibat turut hadir selama proses edukasi berlangsung, memberikan dukungan, serta membantu menjaga suasana kondusif agar siswa dapat fokus dan memahami materi yang disampaikan. Selain itu, mitra juga menunjukkan komitmen dalam menindaklanjuti kegiatan, dengan menyatakan kesediaan untuk menyisipkan materi gizi dan kesehatan ke dalam kegiatan belajar harian. Guru-guru juga berperan dalam memperkuat pesan edukatif kepada siswa setelah kegiatan selesai, sehingga materi yang telah diberikan tidak hanya bersifat sesaat, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan. Keterlibatan aktif dari mitra menunjukkan sinergi yang baik antara tim pelaksana dan institusi pendidikan dalam mendukung peningkatan kesadaran siswa akan pola hidup sehat. Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat berjalan lebih efektif dengan dukungan dan keterlibatan aktif dari mitra lokal.
Agar kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat berjalan secara efektif dan efisien, tim pelaksana membagi tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kapasitas dan kompetensi masing-masing anggota. Pembagian peran dilakukan secara terstruktur sebagai berikut:
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di MI Nurul Mun’im berjalan dengan lancar dan mendapatkan respon yang sangat positif dari pihak sekolah, siswa, dan guru. Sasaran kegiatan ini adalah siswa kelas V dan VI yang berjumlah 70 orang. Mereka dipilih sebagai target utama karena berada pada usia kritis dalam pembentukan kebiasaan makan dan pola hidup.
Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan pre-test, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman awal siswa terkait makanan cepat saji dan dampaknya terhadap kesehatan. Hasil pre-test menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki pemahaman yang sangat terbatas mengenai kandungan dalam makanan cepat saji dan risiko yang ditimbulkannya. Sebagian besar siswa menganggap makanan cepat saji sebagai makanan yang “enak dan keren”, tanpa mengetahui efek jangka panjang yang bisa terjadi, seperti obesitas, gangguan pencernaan, kerusakan organ, hingga penyakit degeneratif.
Setelah pre-test, kegiatan dilanjutkan dengan sesi penyuluhan interaktif yang disampaikan menggunakan media visual seperti slide gambar, video animasi, serta alat peraga sederhana. Siswa diberikan informasi mengenai jenis-jenis makanan cepat saji, kandungan lemak, garam, dan gula yang berlebihan di dalamnya, serta dampaknya terhadap tubuh. Penyampaian materi dilakukan dengan pendekatan komunikatif, menggunakan bahasa sederhana, cerita sehari-hari, dan contoh konkret agar siswa lebih mudah memahami.
Selama penyuluhan berlangsung, siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka aktif bertanya dan berbagi pengalaman seputar kebiasaan makan mereka. Beberapa siswa mengakui bahwa mereka sering membeli makanan cepat saji di sekitar sekolah atau saat berkumpul bersama keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan konsumsi makanan cepat saji tidak hanya dipengaruhi oleh anak itu sendiri, tetapi juga oleh lingkungan keluarga dan sosial.
Sesi edukasi diakhiri dengan kuis interaktif dan diskusi kelompok kecil, di mana siswa diajak untuk merefleksikan kebiasaan makan mereka dan mencari alternatif makanan sehat yang bisa dikonsumsi sehari-hari. Diskusi ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman yang lebih mendalam dan mendorong perubahan sikap dari dalam diri siswa sendiri.
Selanjutnya, kegiatan ditutup dengan pelaksanaan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan setelah sesi edukasi. Hasil post-test menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam pemahaman siswa. Lebih dari 85% siswa mampu menjawab dengan benar pertanyaan terkait kandungan berbahaya dalam makanan cepat saji dan menyebutkan contoh makanan sehat yang lebih baik dikonsumsi.
Secara umum, kegiatan ini berhasil mencapai tujuan utamanya, yaitu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan siswa mengenai dampak negatif makanan cepat saji. Selain itu, melalui pendekatan edukatif yang menyenangkan dan partisipatif, siswa menjadi lebih terbuka untuk berdiskusi dan merefleksikan kebiasaan makan mereka.
Berdasarkan hasil pengamatan dan evaluasi selama kegiatan berlangsung, terdapat beberapa masalah utama yang menjadi akar dari tingginya konsumsi makanan cepat saji di kalangan siswa, yaitu:
Untuk mengatasi masalah tersebut, beberapa solusi jangka pendek dan jangka panjang ditawarkan melalui program ini:
Solusi ini mengusulkan agar pihak sekolah mulai memasukkan edukasi gizi secara rutin ke dalam kegiatan pembelajaran. Guru kelas dapat menyisipkan materi tentang makanan sehat dan dampak makanan cepat saji melalui mata pelajaran seperti IPA, Bahasa Indonesia (melalui teks bacaan), atau Pendidikan Jasmani. Hal ini bertujuan agar topik kesehatan dan gizi tidak hanya disampaikan satu kali, tetapi menjadi bagian dari pembelajaran berkelanjutan.
OMIM dapat berfungsi sebagai wadah untuk terus mengkampanyekan pola makan sehat. Solusi ini mencakup penyusunan program rutin seperti “Hari Tanpa Jajanan Cepat Saji”, penyuluhan berkala, serta monitoring makanan yang dikonsumsi siswa di sekolah. Kegiatan ini dapat melibatkan guru, Pengurus OMIM, dan pembentukan kader kesehatan siswa yang telah diberi pelatihan.
Leaflet, poster, dan video edukatif yang digunakan dalam kegiatan ini dapat dijadikan alat bantu jangka panjang di sekolah. Poster dapat ditempel di ruang kelas, kantin, atau ruang UKS sebagai pengingat visual tentang pentingnya memilih makanan sehat. Selain itu, video singkat dapat ditayangkan secara berkala pada saat kegiatan kelas atau apel pagi.
Program ini mendorong siswa untuk membawa bekal makanan sehat dari rumah setiap hari. Sekolah dapat membuat sistem apresiasi, seperti pemberian penghargaan mingguan bagi siswa yang membawa bekal paling sehat. Untuk mendukung ini, perlu ada kerja sama antara pihak sekolah dan orang tua agar bekal yang dibawa anak benar-benar sesuai dengan prinsip gizi seimbang.
Sebagai solusi jangka panjang, perlu dilakukan pelatihan atau seminar ringan untuk guru dan orang tua mengenai pentingnya membentuk kebiasaan makan sehat sejak usia dini. Guru sebagai pengarah di sekolah, dan orang tua sebagai pengarah di rumah, harus memiliki pemahaman yang sama mengenai bahaya makanan cepat saji agar pengaruh edukasi tidak terputus.
Beberapa siswa dapat dilatih sebagai kader kesehatan kecil di sekolah, yang bertugas membantu mengampanyekan pola makan sehat di kalangan teman-teman mereka. Pendekatan ini terbukti efektif karena pesan yang disampaikan oleh teman sebaya seringkali lebih diterima oleh siswa.
Evaluasi terhadap pelaksanaan program menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini telah berjalan dengan efektif dan berhasil meningkatkan kesadaran serta pengetahuan siswa mengenai dampak makanan cepat saji. Indikator keberhasilan ditunjukkan melalui peningkatan skor post-test, partisipasi aktif siswa dalam diskusi, serta tingginya antusiasme terhadap materi yang disampaikan. Selain itu, pendekatan edukatif yang interaktif terbukti mampu menarik perhatian siswa dan membuat materi lebih mudah dipahami. Namun, untuk keberlanjutan program, dibutuhkan dukungan lebih lanjut dari pihak sekolah dan orang tua. Beberapa tantangan yang diidentifikasi antara lain keterbatasan waktu guru dalam menyisipkan materi gizi ke dalam pelajaran rutin, serta perlunya konsistensi dalam pelaksanaan program seperti “Hari Tanpa Jajanan Cepat Saji” atau kampanye “Bekal Sehat dari Rumah”. Keterlibatan semua pihak, termasuk guru, orang tua, dan siswa, sangat penting untuk menjaga kesinambungan dan dampak jangka panjang dari program ini..
Berdasarkan hasil pelaksanaan dan evaluasi program, seluruh solusi yang ditawarkan terbukti relevan dengan kebutuhan di lapangan, terutama dalam mengatasi rendahnya kesadaran siswa terhadap bahaya makanan cepat saji. Namun, agar dampaknya dapat bertahan dalam jangka panjang, perlu disusun program tindak lanjut yang sistematis, kolaboratif, dan terintegrasi dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
Pertama, perlu adanya pengembangan kurikulum muatan lokal tentang gizi dan kesehatan anak sekolah. Materi ini dapat dikembangkan oleh tim guru bekerja sama dengan tenaga kesehatan atau akademisi, dan diajarkan secara berkala di kelas. Penyusunan modul pembelajaran tematik tentang “Pola Makan Sehat” juga dapat menjadi proyek tahun ajaran baru.
Kedua, program “Sekolah Sahabat Gizi” dapat dijadikan branding untuk mengintegrasikan semua kegiatan edukasi gizi di sekolah. Program ini mencakup kampanye bekal sehat, kegiatan Jumat Sehat, lomba menu bekal bergizi, serta monitoring konsumsi jajanan oleh kader siswa dan guru pendamping. Kegiatan ini tidak hanya menanamkan pengetahuan, tetapi juga membentuk budaya makan sehat di lingkungan sekolah.
Ketiga, pihak sekolah dapat bekerja sama dengan komite sekolah dan orang tua murid untuk mengembangkan “Program Edukasi Gizi Berbasis Keluarga”. Ini bisa dilakukan melalui penyebaran leaflet edukasi ke rumah, pembentukan grup komunikasi digital antara wali kelas dan orang tua untuk berbagi tips bekal sehat, serta penyuluhan ringan saat rapat orang tua siswa. Dengan demikian, perubahan perilaku tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga dikuatkan di lingkungan keluarga.
Selain itu, ke depan perlu dilakukan pemantauan berkala terhadap perilaku makan siswa melalui survei singkat setiap semester yang dilakukan oleh guru atau kader siswa. Hasil survei tersebut dapat digunakan untuk merancang intervensi lanjutan sesuai kebutuhan. Sekolah juga dapat menjalin kemitraan dengan Puskesmas setempat untuk menghadirkan tenaga gizi sebagai narasumber atau pendamping dalam kegiatan edukasi.
Jika memungkinkan, pada tahun mendatang program ini dapat dikembangkan menjadi Program Intervensi Gizi Sekolah berbasis Digital, misalnya melalui aplikasi sederhana atau video edukasi interaktif yang bisa diakses siswa secara mandiri. Program ini akan memanfaatkan teknologi sebagai media penyuluhan yang menyenangkan dan mudah diakses, serta memperkuat pembelajaran luar kelas.
Dengan perencanaan tindak lanjut yang matang dan pelibatan semua pemangku kepentingan (sekolah, orang tua, siswa, dan instansi kesehatan), program ini berpotensi menjadi gerakan berkelanjutan dalam membentuk generasi muda yang sadar gizi dan memiliki kebiasaan makan yang sehat.
Untuk mendukung keberlanjutan dampak dari program ini, perlu dirancang tindak lanjut berupa pengembangan program berbasis sekolah yang lebih terstruktur. Salah satu rencana yang dapat dikembangkan adalah pelaksanaan School Health Program (SHP) berbasis integrasi lintas kurikulum, di mana materi gizi dan kesehatan tidak hanya disampaikan secara tematik, tetapi juga dikaitkan dengan proyek-proyek pembelajaran siswa. Selain itu, tahun mendatang dapat dilaksanakan pelatihan lanjutan bagi guru dan kader siswa mengenai keterampilan komunikasi kesehatan, agar mereka dapat secara aktif dan berkelanjutan mengedukasi rekan-rekan mereka. Kegiatan penyuluhan periodik juga dapat diperluas cakupannya kepada orang tua melalui pertemuan wali murid atau media daring sekolah. Di sisi lain, kolaborasi dengan instansi terkait seperti Puskesmas atau Dinas Kesehatan juga dapat memperkuat program, misalnya dalam bentuk pemberian materi tambahan, dukungan logistik, atau evaluasi berkala terhadap perilaku konsumsi makanan siswa. Dengan adanya rencana tindak lanjut yang jelas dan kolaboratif, program ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi mampu mendorong perubahan perilaku jangka panjang menuju pola makan sehat pada anak usia sekolah.
BAB IV
PENUTUP
Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di MI Nurul Mun’im berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa kelas V dan VI terhadap dampak negatif konsumsi makanan cepat saji. Edukasi interaktif yang dikombinasikan dengan media visual, diskusi kelompok, serta kuis terbukti efektif dalam menarik minat siswa dan memudahkan pemahaman mereka. Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan siswa, sementara keterlibatan aktif selama kegiatan menandakan keberhasilan pendekatan partisipatif dalam penyuluhan gizi di sekolah dasar.
Implikasi dari kegiatan ini menunjukkan pentingnya peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial dalam membentuk pola makan anak. Namun, kegiatan ini memiliki keterbatasan dalam cakupan waktu dan dukungan berkelanjutan dari sistem sekolah. Oleh karena itu, direkomendasikan agar program ini dilanjutkan melalui pengembangan kurikulum berbasis gizi, pelibatan orang tua secara intensif, dan pemberdayaan kader siswa. Diperlukan juga dukungan dari dinas pendidikan dan kesehatan setempat agar program ini dapat diadopsi secara lebih luas dan berkelanjutan, sehingga memberikan dampak jangka panjang terhadap pola hidup sehat anak usia sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Anggie Annisa Permatasari, Fransisca Putri Ardita, Agista Putri Prasetya, Nurul Anggraini, Siti Marpuah, & Erintya Asanti. (2024). Dampak Makanan Cepat Saji Bagi Kesehatan Tubuh Pada Kalangan Remaja. Jurnal Ventilator, 2(2), 110–120. https://doi.org/10.59680/ventilator.v2i2.1201
Nisa, H., Fatihah, I. Z., Oktovianty, F., Rachmawati, T., & Azhari, R. M. (2021). Konsumsi Makanan Cepat Saji, Aktivitas Fisik, dan Status Gizi Remaja di Kota Tangerang Selatan. Media Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan, 31(1), 63–74.
Pengabdian Kesehatan Masyarakat, J., Jusuf, H., Adityaningrum, A., Tiara Kartika, I., Arsad, N., Kesehatan Masyarakat, J., Olahraga dan Kesehatan, F., Negeri Gorontalo, U., Studi Statistika, P., & Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, F. (2024). PENYULUHAN EDUKASI DAMPAK MAKANAN CEPAT SAJI BAGI KESEHATAN DI SMP NEGERI 1 TELAGA BIRU EDUCATIONAL COUNSELING ON THE IMPACT OF FAST FOOD ON HEALTH AT SMP NEGERI 1 TELAGA BIRU. http://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jpkm/index
R, Z. Z., Sudiarti, P. E., Lestari, R. R., & Yuristin, D. (n.d.). HUBUNGAN MENGKONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI (FAST FOOD) DAN AKTIFITAS FISIK DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA REMAJA DI WILAYAH KECAMATAN BANGKINANG KOTA. http://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/ners
Sari, F., & Nugroho, P. S. (2021). Risiko perilaku konsumsi makanan cepat saji dan minuman berkarbonasi terhadap obesitas pada remaja di Indonesia. Borneo Studies and Research, 3(1), 707–713.
Hartian, T., & Harahap, M. H. (2023). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Terhadap Kebiasaan Konsumsi Fast Food Pada Siswa SD N 70 Kota Pekanbaru. JKEMS-Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(2), 7-18.
Warlina, I. D. R. (2020). Hubungan pengetahuan, kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji dengan kejadian obesitas pada siswa SMPN 15 Banjarmasin tahun 2020 (Doctoral dissertation, Universitas Islam Kalimantan MAB).
Ferdianti, L. (2021). Literature Review: Hubungan Aktivitas Fisik dan Kebiasaan Konsumsi Fast Food dengan Kejadian Obesitas Pada Anak Sekolah Dasar. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 20(2), 139-143.
Faruq, N. N., Pratiwi, W., & Satrianugraha, M. D. (2021). Hubungan Kebiasaan Sarapan Pagi dan Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji terhadap Berat Badan Berlebih pada Siswa SMAN 1 Kota Cirebon.
Kusumawati, E., Fathurrahman, T., & Tizar, E. S. (2020). Hubungan antara kebiasaan makan Fast Food, durasi penggunaan gadget dan riwayat keluarga dengan obesitas pada anak usia sekolah (studi di SDN 84 Kendari).
Sumiyati, I., Anggriyani, A., & Mukhsin, A. (2022). Hubungan Antara Konsumsi Makanan Fast Food Dengan Kejadian Obesitas Pada Remaja. JUMANTIK (Jurnal Ilmiah Penelitian Kesehatan), 7(3), 242-246.
Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291
Lembaga Pusat Layanan Masyarakat