UNUJA - Lembaga Pusat Layanan Masyarakat
Sabtu, 23 Mei 2026
Diakses: 6 kali
L A P O R A N
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

PKM Pelatihan Pembuatan dan Pemanfaatan Alat Monitoring dan Kontrol Kelembapan Tanah Berbasis IoT untuk Meningkatkan Produktivitas Jamur Tiram di Desa Binor – Kecamatan Paiton
Disusun oleh:
|
Ketua Tim |
: |
Sutra Wardatul Jannah |
NIDN. 0709109601 |
|
Anggota |
: |
Dwi Santi Ulin Fathira |
NIM. 2321300037 |
|
Anggota |
: |
Sri Nitia Astutik |
NIM. 2321300002 |
|
Anggota |
: |
Vian Agung Freenanda |
NIM. 2321300048 |
|
Anggota |
: |
Ibnu Musthofa Alkafi |
NIM. 2321300049 |
|
Anggota |
: |
Achmad Miftahul Romzi |
NIM. 2321300053 |
|
Anggota |
: |
Afrizal Nur Alif Kurniawan |
NIM. 2321300082 |
|
Anggota |
: |
Dodik Eka Saputra |
NIM. 2321300047 |
|
Anggota |
: |
Rizki Kurnia |
NIM. 2321300052 |
|
Anggota |
: |
Muhammad Fathor Rohim |
NIM. 2321300054 |
|
Anggota |
: |
Faiz Najibur Rohman |
NIM. 2321300055 |
Lembaga Penerbitan, Pengabdian, dan
Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M)
Universitas Nurul Jadid
Paiton Probolinggo
Tahun 2025
PKM Pelatihan Pembuatan dan Pemanfaatan Alat Monitoring dan Kontrol Kelembapan Tanah Berbasis IoT untuk Meningkatkan Produktivitas Jamur Tiram di Desa Binor Kecamatan Paiton
Abstrak. Petani jamur tiram di Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, masih menghadapi tantangan dalam menjaga kestabilan suhu dan kelembapan ruang kumbung secara optimal. Ketergantungan pada metode manual dalam proses pemantauan dan penyiraman menyebabkan pengaturan lingkungan budidaya menjadi tidak konsisten, terutama saat terjadi perubahan cuaca atau keterlambatan dalam respons petani. Fluktuasi kelembapan ini berdampak langsung terhadap kualitas pertumbuhan jamur tiram. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, tim pelaksana memberikan pelatihan dan pendampingan teknis kepada para petani dengan fokus pada pengenalan, perakitan, dan penerapan alat monitoring serta sistem kontrol otomatis berbasis Internet of Things (IoT). Alat yang dikembangkan menggunakan mikrokontroler ESP32 yang terhubung dengan sensor kelembapan tanah, dan didesain untuk dapat diakses secara jarak jauh melalui platform berbasis web. Sebagai sistem pengambilan keputusan penyiraman, diterapkan metode logika fuzzy karena keunggulannya dalam menangani ketidakpastian nilai parameter lingkungan serta memberikan output yang lebih fleksibel dan adaptif. Melalui pendekatan ini, kondisi suhu dan kelembapan dikategorikan ke dalam level linguistik seperti "tinggi", "sedang", dan "rendah", lalu diolah oleh sistem untuk menentukan aksi berupa aktivasi pompa penyiram sesuai dengan aturan yang telah ditentukan. Pelatihan dilaksanakan dalam beberapa sesi, mencakup pengenalan konsep dasar IoT dan logika fuzzy, praktik langsung merakit perangkat, serta simulasi pengoperasian sistem di lokasi kumbung jamur. Kegiatan ini memperoleh antusiasme tinggi dari para petani, yang menunjukkan minat untuk memahami dan mengadopsi teknologi digital dalam praktik budidaya. Hasil awal menunjukkan bahwa pemanfaatan alat ini mampu membantu petani menghemat waktu dan tenaga, serta menjaga kelembapan lingkungan budidaya secara lebih stabil. Dampaknya, sistem ini berpotensi meningkatkan produktivitas jamur secara berkelanjutan. Ke depan, diharapkan kegiatan ini dapat menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran petani terhadap pentingnya inovasi teknologi sebagai bagian dari pertanian presisi yang efisien dan ramah lingkungan.
Katakunci: ESP32; IoT; Jamur Tiram; Kelembapan; Logika Fuzzy
Abstract. Oyster mushroom farmers in Binor Village, Paiton Subdistrict, Probolinggo Regency face persistent challenges in maintaining stable temperature and humidity within their cultivation huts. Reliance on manual monitoring and watering methods has led to inconsistent environmental control, especially during sudden weather changes or delays in farmer response. Such fluctuations in humidity directly impact the quality of mycelium growth and the productivity of mushroom harvests. In response to this issue, this community service program was carried out through a series of training and technical assistance sessions aimed at equipping farmers with the skills to design, assemble, and utilize an Internet of Things (IoT)-based monitoring and automatic control system. The system developed utilizes an ESP32 microcontroller integrated with a soil moisture sensor, connected to a web-based platform for real-time remote monitoring. To support decision-making in irrigation, a fuzzy logic approach was implemented due to its ability to manage uncertain environmental parameters and produce more flexible and adaptive outputs. With this method, environmental conditions such as temperature and humidity are classified into linguistic levels such as "high," "medium," and "low," which are then processed by the system through a set of if-then rules to activate or deactivate the water pump accordingly. The training was conducted in multiple sessions, including an introduction to basic IoT and fuzzy logic concepts, hands-on device assembly, and simulation and implementation of the system at the cultivation site. This activity received positive responses from the farmers, who showed increasing interest in understanding and adopting digital technologies in their farming practices. Initial results indicated that the use of this system helps farmers save time and labor while maintaining a more stable cultivation environment. As a result, the system shows strong potential to consistently improve mushroom yields. In the long term, this initiative is expected to encourage local mushroom farmers in Binor Village to become more open to adopting digital technologies in the transition toward more efficient, precise, and sustainable modern agriculture.
Keywords: ESP32; IoT; Oyster Mushroom; Humidity; Fuzzy Logic
.
BAB I
LATAR BELAKANG
Desa Binor merupakan salah satu desa yang berada di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, dengan potensi pertanian yang cukup tinggi. Salah satu komoditas unggulan yang berkembang di desa ini adalah budidaya jamur tiram putih. Kelompok petani jamur di Desa Binor sebagian besar terdiri dari petani muda dan petani kecil yang menjalankan usaha budidaya secara tradisional dalam skala rumah tangga. Kumbung jamur yang digunakan umumnya masih sederhana, memanfaatkan ruang bambu atau terpal dengan sistem ventilasi alami, dan belum dilengkapi dengan sistem kontrol lingkungan yang modern. Meskipun semangat petani dalam mengembangkan budidaya jamur cukup tinggi, keterbatasan pengetahuan dan akses terhadap teknologi menjadi salah satu kendala utama dalam meningkatkan produktivitas. Adapun permasalahan yang dihadapi mitra diantaranya, Proses penyiraman dan pemantauan kelembapan kumbung masih dilakukan secara manual, bergantung pada intuisi petani,

Gambar 1.1 Lokasi Budidaya Jamur
Ketidakstabilan kondisi kelembapan tanah sering menyebabkan gagal panen atau pertumbuhan jamur yang tidak optimal serta Petani belum mengenal teknologi otomatisasi seperti Internet of Things (IoT) dan kontrol berbasis logika fuzzy yang dapat meningkatkan efisiensi budidaya. Kurangnya pelatihan atau pendampingan teknis dalam penggunaan alat teknologi tepat guna untuk budidaya jamur. Melalui program pengabdian ini, akan dilakukan pelatihan dan implementasi alat monitoring serta sistem kontrol otomatis berbasis IoT dengan metode fuzzy untuk membantu petani dalam menjaga kondisi lingkungan kumbung jamur secara optimal dan berkelanjutan
Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk merancang dan mengimplementasikan sistem monitoring suhu dan kelembapan otomatis berbasis Internet of Things (IoT) yang terintegrasi dengan metode logika fuzzy guna membantu petani jamur tiram di Desa Binor dalam menjaga kestabilan lingkungan kumbung. Melalui pelatihan dan pendampingan langsung, pengabdian ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman serta keterampilan petani dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai solusi praktis dalam budidaya jamur yang lebih efisien dan produktif.
Manfaat dari kegiatan ini dirasakan secara langsung oleh mitra petani jamur, antara lain berupa peningkatan keterampilan dalam merakit dan mengoperasikan alat berbasis IoT, peningkatan pengetahuan tentang penerapan logika fuzzy dalam pengendalian lingkungan budidaya, serta pengurangan beban kerja manual melalui otomatisasi penyiraman. Selain itu, pengabdian ini berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas panen jamur tiram dan membuka peluang lebih luas dalam pemanfaatan teknologi digital untuk pertanian modern di pedesaan.
BAB II
METODE PELAKSANAAN
Metode pelaksanaan ditulis maksimal 1.000 kata, sedikitnya terdiri dari tiga unsur utama:
|
No. |
Tahapan Kegiatan |
Pihak yang Terlibat |
Indikator Ketercapaian |
Waktu Pelaksanaan |
|
1 |
Persiapan dan survei lapangan |
Tim dosen, mahasiswa, ketua kelompok tani |
Telah dilakukan survei lokasi dan kebutuhan alat; koordinasi awal dengan mitra terlaksana |
Minggu ke-1 mei 2025 |
|
2 |
Perancangan dan perakitan alat IoT + fuzzy |
Mahasiswa, dosen pembimbing |
Perangkat siap diuji coba di luar lokasi mitra; dokumentasi rangkaian dan program tersedia |
Minggu ke-2 s.d. ke-3 Juni |
|
3 |
Pelatihan dan sosialisasi teknologi |
Tim PKM, petani mitra, tokoh masyarakat |
Partisipasi petani ≥ 80%; hasil pre-post test menunjukkan peningkatan pemahaman ≥ 60% |
Minggu ke-4 Juni |
|
4 |
Implementasi alat di kumbung jamur |
Mahasiswa, mitra petani |
Alat berhasil dioperasikan di lingkungan nyata dan berfungsi sesuai logika fuzzy |
Minggu ke-1 Juli |
|
5 |
Uji coba sistem dan penyempurnaan fungsi |
Mahasiswa, petani, dosen |
Sistem mampu bekerja otomatis (monitoring & kontrol); feedback mitra positif |
Minggu ke-2 Juli |
|
6 |
Pendampingan dan troubleshooting |
Mahasiswa, petani |
Petani mampu melakukan pengoperasian dan perawatan sederhana alat |
Minggu ke-3 s.d. ke-4 Juli |
|
7 |
Evaluasi dan penyusunan laporan |
Tim PKM, mitra petani |
Laporan akhir tersusun; dokumentasi lengkap; rekomendasi keberlanjutan program tersedia |
Minggu ke-1 Agustus 2025 |
Dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian ini, pembagian peran dilakukan secara terstruktur untuk memastikan setiap tahapan berjalan efektif dan sesuai dengan tujuan program. Dosen pembimbing lapangan bertindak sebagai penanggung jawab utama yang mengarahkan jalannya kegiatan, mulai dari tahap perencanaan, supervisi teknis, hingga evaluasi akhir. Selain itu, dosen juga berperan dalam menjembatani komunikasi antara tim pengabdian dan mitra, serta memastikan seluruh proses berjalan sesuai dengan kaidah akademik dan etika pengabdian kepada masyarakat.
Tim mahasiswa yang terdiri dari 10 orang berasal dari jurusan Teknik Elektro dan dibagi ke dalam dua kelompok utama. Kelompok pertama bertugas dalam perancangan dan perakitan alat, termasuk mendesain sistem berbasis Internet of Things (IoT) menggunakan mikrokontroler ESP32, merancang pemrograman logika fuzzy sebagai kontrol otomatis penyiraman, serta melakukan pengujian sensor suhu dan kelembapan. Mereka juga bertanggung jawab atas integrasi perangkat keras dan perangkat lunak agar sistem dapat berjalan secara optimal. Kelompok kedua berfokus pada persiapan materi pelatihan, dokumentasi teknis, dan pengembangan antarmuka sistem pemantauan berbasis web. Kedua kelompok ini berkolaborasi dalam tahap implementasi alat di lokasi mitra.
Pada tahap pelatihan dan sosialisasi, seluruh anggota tim mahasiswa turut serta sebagai fasilitator, baik dalam menyampaikan materi teknis maupun mendampingi mitra secara langsung dalam praktik penggunaan alat. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman mitra terhadap teknologi yang digunakan serta memastikan proses transfer pengetahuan berjalan efektif dan aplikatif.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Solusi A – Pembuatan dan Instalasi Alat Monitoring Kelembapan Tanah Berbasis IoT
Solusi A difokuskan pada pembuatan dan pemasangan alat monitoring kelembapan tanah berbasis Internet of Things (IoT) di lokasi budidaya jamur tiram milik mitra. Proses ini diawali dengan perakitan perangkat utama yang terdiri dari sensor kelembapan tanah (soil moisture sensor), mikrokontroler ESP32, serta koneksi ke aplikasi Kodular sebagai antarmuka monitoring. Sistem ini dirancang agar dapat membaca nilai kelembapan secara real-time dan mengirimkan data ke dashboard yang dapat diakses melalui smartphone. Setelah perangkat selesai dirakit, tim pengabdian bersama mitra melakukan instalasi alat pada kumbung jamur seluas 4 meter x 1,7 meter dengan mempertimbangkan sebaran titik tanam agar representasi data kelembapan menjadi lebih akurat. Alat ini memungkinkan petani mengetahui kondisi tanah tanpa harus melakukan pengecekan manual, sehingga lebih efisien dan responsif terhadap kebutuhan penyiraman.

Gambar 3.1
B. Solusi B – Implementasi Sistem Kontrol Otomatis Menggunakan Metode Fuzzy
Solusi B melibatkan integrasi sistem kontrol otomatis berbasis logika fuzzy untuk mengatur durasi penyiraman air secara adaptif sesuai tingkat kelembapan tanah. Implementasi dimulai dengan pemrograman sistem fuzzy ke dalam mikrokontroler ESP32, menggunakan aturan membership function dengan kategori kering (0–50%), lembab (50–75%), dan basah (75–100%). Logika fuzzy kemudian menentukan durasi penyiraman berdasarkan nilai input dari sensor, yang dikonversi menjadi output berupa lamanya pompa menyala. Selama proses uji coba, sistem diuji dalam berbagai kondisi kelembapan dan waktu berbeda (pagi dan sore), dan berhasil menunjukkan respons penyiraman otomatis yang adaptif sesuai dengan kondisi aktual tanah. Sistem ini terbukti dapat menggantikan proses penyiraman manual, meningkatkan efisiensi penggunaan air, serta mendukung pertumbuhan jamur tiram secara optimal. Hasil data sistem setelah menggunakan metode fuzzy ditunjukkan dengan tabel berikut:
Tabel 3.1 Hasil Pengujian Pagi Hari
|
Percobaan ke- |
Hasil pembacaan sensor |
Katagori |
Durasi penyiraman |
|
Percobaan 1 |
16% |
lembab |
24112detik |
|
Percobaan 2 |
39% |
Basah |
21873detik |
|
Percobaan 3 |
25% |
Kering |
24665detik |
Tabel 3.2 Hasil Pengujian Sore Hari
|
Hasil pembaca sensor |
Katagori |
Durasi penyiraman |
|
|
Percobaan 1 |
46% |
Lembab |
22676detik |
|
Percobaan 2 |
35% |
Basah |
21657detik |
|
Percobaan 3 |
9% |
Kering |
26991detik |
C. Solusi C – Pelatihan Mitra dan Edukasi Penggunaan Teknologi
Solusi C berfokus pada peningkatan kapasitas mitra melalui pelatihan penggunaan alat dan edukasi dasar mengenai teknologi IoT dan sistem kontrol fuzzy. Pelatihan dilakukan secara langsung di lokasi budidaya, dimulai dengan penjelasan komponen alat, fungsi masing-masing sensor, hingga praktik pemantauan melalui aplikasi Kodular. Tim pengabdian juga menyediakan modul pelatihan sederhana sebagai panduan penggunaan dan perawatan alat secara mandiri. Mitra sangat antusias dalam mengikuti pelatihan ini karena sistem yang diberikan bersifat praktis dan mudah digunakan, serta dapat memberikan manfaat nyata dalam kegiatan budidaya sehari-hari. Selain pelatihan teknis, diskusi interaktif juga dilakukan untuk menggali kebutuhan dan kendala lapangan, sehingga alat dan sistem yang dibuat dapat disesuaikan lebih lanjut.

Gambar 3.2
D. Evaluasi Program
Evaluasi program dilakukan melalui observasi langsung terhadap kinerja alat serta wawancara dengan mitra setelah beberapa hari penggunaan sistem. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sistem monitoring dan kontrol otomatis berfungsi dengan baik, dengan nilai pembacaan sensor yang stabil dan keputusan penyiraman yang sesuai kondisi tanah. Mitra menyampaikan bahwa penggunaan sistem ini sangat membantu dalam menghemat tenaga dan waktu, serta dapat mencegah kesalahan penyiraman yang dapat merusak media tanam. Beberapa masukan dari mitra antara lain adalah kebutuhan akan sistem notifikasi otomatis jika sensor mendeteksi kondisi sangat kering atau adanya kerusakan pada alat. Setelah kegiatan pengabdian selesai, sistem tetap digunakan oleh mitra dan direncanakan akan dikembangkan lebih lanjut dengan penambahan fitur pemantauan suhu udara dan kelembapan ruangan.
E. Pembahasan / Program Tindak Lanjut
Secara umum, seluruh solusi yang telah dirancang dan dilaksanakan terbukti memberikan dampak positif terhadap praktik budidaya jamur tiram di Desa Binor. Penggabungan teknologi IoT dan logika fuzzy memberikan alternatif solusi yang murah, praktis, dan efisien bagi petani skala kecil. Keberhasilan program ini membuka peluang untuk pengembangan lebih lanjut, seperti penambahan sensor suhu dan kelembapan udara di dalam kumbung untuk kontrol iklim mikro yang lebih optimal. Selain itu, pada tahun mendatang, direncanakan program lanjutan berupa pelatihan untuk petani lain di desa yang belum tergabung dalam kegiatan ini, serta pengembangan alat berbasis energi surya agar lebih ramah lingkungan. Program ini juga dapat dikolaborasikan dengan instansi pendidikan setempat sebagai media pembelajaran praktis bagi siswa dalam bidang teknologi terapan dan pertanian cerdas (smart farming).
BAB IV
PENUTUP
Kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa integrasi sistem monitoring dan kontrol otomatis berbasis IoT dengan metode fuzzy telah berhasil menjawab permasalahan mitra dalam mengelola kelembapan tanah pada budidaya jamur tiram secara lebih efisien dan terukur. Sistem yang dikembangkan terbukti mampu menyesuaikan durasi penyiraman secara otomatis berdasarkan kondisi aktual tanah, sekaligus memberikan kemudahan bagi mitra dalam pemantauan harian. Hal ini menjadi bukti bahwa penggunaan teknologi tepat guna di bidang pertanian dapat mendorong peningkatan produktivitas sekaligus efisiensi sumber daya.
Pengabdian ini masih memiliki keterbatasan, seperti belum terintegrasinya sensor suhu dan kelembapan udara, serta belum adanya sistem notifikasi berbasis peringatan dini. Oleh karena itu, ke depan diperlukan pengembangan lanjutan, termasuk peningkatan fitur dan pelatihan lanjutan bagi petani lainnya. Direkomendasikan kepada stakeholder terkait, seperti dinas pertanian, lembaga pendidikan, dan komunitas pertanian lokal, untuk mendorong pemanfaatan teknologi serupa melalui program pendampingan, adopsi sistem terbuka, dan replikasi model pengabdian ini di wilayah pertanian lainnya guna mendukung penguatan pertanian berbasis teknologi di pedesaan.
DAFTAR PUSTAKA
Arsheela,S.,Fdhli,M., Lindawati. (2023). Optimasi Pertumbuhan Jamur Tiram Melalui Monitoring Suhu dan Kelembaban Menggunakan Teknologi IoT. Resistor Journal, 6(1), 1–10. https://doi.org/10.31598
Darwison, Zaini, Aderi, F., & Irsan, F. F. (2023). Penerapan teknologi pada usaha budidaya jamur tiram untuk mendukung urban farming di KWT Jawa Gadut Saiyo Limau Manis Pauh Kota Padang. Logista: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat, 7(1), 152–159. http://logista.fateta.unand.ac.id
Hidayati, Q., Yanti, N., & Jamal, N. (2021). Peningkatan produktivitas budidaya jamur tiram dengan teknologi IoT di KM 15 Karang Joang Balikpapan. Jurnal Vokasi: Jurnal Hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian kepada Masyarakat, 5(1), 4–10
Rahmawati, A., Purnama, H., & Adriaan, R. (2022, Juli 13–14). Rancang bangun alat pengendali suhu dan kelembapan pada kumbung jamur tiram berbasis Arduino. Prosiding The 13th Industrial Research Workshop and National Seminar, Bandung, Indonesia
Adzdziqri, T. R., Pranoto, Y. A., & Rudhistiar, D. (2021). Implementasi IoT (Internet of Things) pada rumah budidaya jamur tiram putih. JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika), 5(1), 364–370
Andre, H., Pratama, F. D., Pahlevi, M. R., Afif, M., Fitri, S., Pratama, R. W., & Hikmatullah, M. R. (2022). Perancangan Monitoring Suhu dan Kelembaban pada Kumbung Jamur Berbasis Internet of Things. ELECTRON Jurnal Ilmiah Teknik Elektro, 3(1), 26–32. https://doi.org/10.33019/electron.v3i1.14
Khairat, U., Basri, B., & Fakhrurrozi, W. A. (2022). Monitoring Suhu Ruang Budidaya Jamur Tiram Menggunakan Android Berbasis Arduino. Technomedia Journal, 7(1), 1–10. https://doi.org/10.33050/tmj.v7i1.1762
Krismadani, F. W., Budi, A. S., Studi, P., Komputer, T., Komputer, F. I., Tiram, J., & Linier, R. (2017). SISTEM KONTROL DAN MONITORING KUMBUNG DAN BAGLOG UNTUK BUDIDAYA JAMUR MENGGUNAKAN REGRESI LINEAR BERBASIS ARDUINO. 1(1), 1–7.
Ridho’i, A., Setyadjit, K., & Era Yordhan, B. (2023). Sistem Monitoring Suhu Dan Kelembaban Pada Budidaya Jamur Tiram Menggunakan ESP32. Jurnal FORTECH, 4(1), 20–26. https://doi.org/10.56795/fortech.v4i1.4103
Alauddin, Y., Suwardoyo, U., Jasmawati, & Wirawan, R. (2025). Implementasi smart farming pada budidaya jamur tiram. Jurnal MOSFET, 5(1), 119–126. https://doi.org/10.31850/jmosfet.v5i1.3166
Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291
Lembaga Pusat Layanan Masyarakat