Logo

UNUJA - Lembaga Pusat Layanan Masyarakat

Pelatihan Sistem Kontrol Penyiraman Tanaman Hias Otomatis Berbasis Mikrokontroler

Bagikan:

Sabtu, 23 Mei 2026

Diakses: 7 kali

Responsive image

L A P O R A N

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelatihan Sistem Kontrol Penyiraman Tanaman Hias Otomatis Berbasis Mikrokontroler

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

 

Ketua Tim

:

TIJANIYAH

NIDN. 0717059003

Anggota

:

M. SYARIF HIDATULLAH

NIM. 2321300068

Anggota

:

MOH. ABD. ROSEK

NIM. 2321300062

Anggota

:

MUHAMMAD FERDIAN

NIM. 2321300066

Anggota

:

NAUVAL SYA'BANI IBNU FAHLAN

NIM. 2321300062

 

 

Lembaga Penerbitan, Pengabdian, dan

Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M)

Universitas Nurul Jadid

Paiton Probolinggo

Tahun 2025

 

Pelatihan Sistem Kontrol Penyiraman Tanaman Hias Otomatis Berbasis Mikrokontroler

 

Abstrak. Pelatihan sistem kontrol penyiraman tanaman hias otomatis berbasis mikrokontroler dilaksanakan di Kamila Garden, yang berlokasi di Jalan Raya Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat, khususnya pelaku usaha taman dan pecinta tanaman hias, dalam memanfaatkan teknologi otomatisasi untuk mendukung perawatan tanaman yang lebih efisien dan berkelanjutan. Latar belakang pelatihan ini berangkat dari permasalahan yang sering dihadapi, yakni kesulitan dalam menjaga konsistensi penyiraman akibat keterbatasan waktu dan tenaga kerja. Materi pelatihan mencakup pengenalan mikrokontroler Arduino, sensor kelembaban tanah, serta aktuator berupa pompa air mini, yang dirangkai dalam sistem otomatis penyiraman tanaman. Metode pelatihan terdiri dari sesi teori, demonstrasi alat, serta praktik langsung perakitan dan pemrograman sistem oleh peserta. Peserta yang mengikuti pelatihan berasal dari kalangan remaja, pengelola taman, serta masyarakat umum di sekitar lokasi kegiatan. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta terhadap konsep dasar sistem otomatisasi serta kemampuan dalam merancang dan mengoperasikan alat penyiraman otomatis secara mandiri. Selain itu, kegiatan ini mendorong pemanfaatan teknologi sederhana yang aplikatif dan hemat biaya, serta memperkuat semangat inovasi di kalangan masyarakat desa. Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam penerapan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) di bidang pertanian dan lanskap taman skala kecil.

 

Kata kunci: pelatihan, penyiraman otomatis, mikrokontroler, Arduino, Kamila Garden, Karanganyar Paiton.

 

Abstract. Training on Microcontroller-Based Automatic Ornamental Plant Watering Control System was conducted at Kamila Garden, located on Jalan Raya Desa Karanganyar, Paiton District, Probolinggo Regency. This activity aimed to enhance the knowledge and skills of the community—particularly garden business actors and ornamental plant enthusiasts—in utilizing automation technology to support more efficient and sustainable plant care. The background of this training stems from common challenges, namely difficulties in maintaining consistent watering due to time and labor constraints. The training materials included an introduction to Arduino microcontrollers, soil moisture sensors, and actuators in the form of mini water pumps, all integrated into an automatic plant watering system. The training method consisted of theoretical sessions, equipment demonstrations, and hands-on practice in assembling and programming the system by the participants. Attendees came from various backgrounds, including local youth, garden managers, and the general community around the activity site. The training outcomes showed an improvement in participants' understanding of basic automation concepts and their ability to independently design and operate an automatic watering system. Furthermore, the activity encouraged the use of practical, low-cost technologies and strengthened the spirit of innovation among rural communities. This training is expected to be an initial step toward the implementation of Internet of Things (IoT)-based technology in small-scale agriculture and garden landscaping.

 

Keywords: training, automatic watering, microcontroller, Arduino, Kamila Garden, Karanganyar Paiton.

 

 

BAB I

LATAR BELAKANG

 

 

  1. Analisis Situasi

Kamila Garden merupakan salah satu sentra budidaya dan penjualan tanaman hias yang berlokasi di Jalan Raya Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Taman ini memiliki lebih dari 500 pot tanaman hias dari berbagai jenis, seperti monstera, aglaonema, calathea, philodendron, kaktus, dan sukulen. Tanaman-tanaman tersebut membutuhkan perawatan intensif, terutama dalam hal penyiraman yang teratur dan sesuai dengan karakteristik masing-masing tanaman(Tijaniyah, Deswita Laelatul Fitria, 2023). Namun, berdasarkan observasi dan wawancara dengan pengelola Kamila Garden, ditemukan beberapa permasalahan utama dalam kegiatan penyiraman tanaman, yaitu:

  1. Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) : Pengelolaan taman hanya dilakukan oleh dua orang staf tetap, dibantu oleh keluarga pengelola secara tidak rutin. Kondisi ini membuat aktivitas penyiraman tidak dapat dilakukan secara optimal setiap hari, terutama saat volume pengunjung meningkat atau saat terjadi gangguan cuaca.
  2. Penyiraman Tidak Merata dan Tidak Terjadwal : Kegiatan penyiraman dilakukan secara manual tanpa jadwal tetap. Akibatnya, ada tanaman yang mendapat air berlebih dan ada pula yang kekurangan. Hal ini berdampak pada penurunan kualitas tanaman, bahkan menyebabkan beberapa tanaman layu dan mati.
  3. Kesulitan Menyesuaikan Kebutuhan Air Tiap Jenis Tanaman : Tanaman tropis seperti calathea dan monstera membutuhkan kelembaban tinggi, sedangkan tanaman seperti kaktus dan sukulen justru rentan terhadap kelebihan air. Namun, karena keterbatasan alat dan tenaga, penyiraman dilakukan secara seragam tanpa mempertimbangkan kebutuhan spesifik tiap tanaman.
  4. Penyiraman Dilakukan di Waktu yang Kurang Tepat : Idealnya, penyiraman dilakukan pagi atau sore hari. Namun, karena kegiatan lain yang harus dikerjakan staf, penyiraman kadang dilakukan saat siang hari, ketika cuaca panas terik. Hal ini menyebabkan penguapan cepat, pemborosan air, serta risiko tanaman terbakar atau busuk akarnya.
  5. Inefisiensi dalam Penggunaan Air : Sistem penyiraman manual menyebabkan penggunaan air yang tidak efisien. Kurangnya kontrol terhadap jumlah air yang dikeluarkan meningkatkan potensi pemborosan, terutama saat musim kemarau.

Permasalahan-permasalahan tersebut secara keseluruhan menghambat proses perawatan tanaman hias di Kamila Garden dan berpotensi menurunkan nilai estetika serta nilai ekonomis tanaman. Maka dari itu, diperlukan sebuah solusi inovatif yang mampu mengatasi permasalahan ini secara efektif dan efisien(Putri et al., 2019). Salah satu solusi yang ditawarkan adalah penerapan sistem penyiraman otomatis berbasis mikrokontroler Arduino yang bekerja secara mandiri berdasarkan sensor kelembaban tanah(Sokop et al., 2016). Sistem ini diharapkan mampu menjadi teknologi tepat guna yang tidak hanya membantu pengelola dalam merawat tanaman secara optimal, tetapi juga memperkenalkan masyarakat pada pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) skala kecil yang aplikatif.(Samsugi et al., 2020)

Mitra pengabdian kepada masyarakat ini adalah bapak rohim. Pemilik stan bunga atau penjual tanaman hias “Kamila Garden” di pinggir jalan raya paiton. Lokasi desa karangnyar paiton probolinggo sangat dekat dengan kampus universitas nurul jadid. Karanganyar adalah desa yang berada di kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia. Desa ini dilalui oleh Jalan Nasional Rute 1.Jalur Jawa-Bali. Di Desa Karanganyar ada sebuah Masjid Musafir, Masjid Baitissalam. Lokasi tepat di pinggir jalan utama. Berikut link google maps https://maps.app.goo.gl/5GGpM8F6hkTD66mq8 . Desa karanganyar paiton probolinggo dapat dilihat pada Gambar 1. dibawah ini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

Gambar 1. Peta Lokasi Kamila Garden

 

Sistem penyiraman tanaman hias otomatis berbasis mikrokontroler adalah sebuah perangkat cerdas yang dirancang untuk menjaga kelembaban tanah tanaman hias pada tingkat optimal tanpa campur tangan manusia secara terus-menerus(Royong, 2024). Sistem ini memanfaatkan teknologi mikrokontroler sebagai "otak" utama yang mengontrol seluruh operasi, mulai dari pembacaan data sensor hingga pengaktifan aktuator(Wibowo, 2010). Tujuan utamanya adalah memastikan tanaman mendapatkan air yang cukup, mencegah kekurangan air (kekeringan) maupun kelebihan air (genangan), yang keduanya dapat merusak tanaman.(Akbar & Borman, 2021)

Mikrokontroler:sebagai pusat kendali dan pemroses data. Mikrokontroler menerima input dari sensor, memprosesnya berdasarkan program yang telah ditanamkan, dan mengirimkan sinyal output untuk mengendalikan aktuato(Robi & Khoir, 2022)r. Sensor Kelembaban Tanah sebagai mengukur tingkat kelembaban tanah di sekitar akar tanaman(Rahardjo, 2022). Sensor ini umumnya bekerja dengan mengukur konduktivitas listrik tanah; semakin tinggi kelembaban, semakin baik konduktivitasnya(Tijaniyah, Deswita Laelatul Fitria, 2023). Pompa Air Mini berfungsi sebagai mengalirkan air dari wadah penampung ke tanaman. Pompa ini biasanya berjenis submersible (terendam dalam air) atau non-submersible, dengan tegangan rendah (misalnya 3V, 5V, atau 12V) yang sesuai dengan catu daya mikrokontroler atau modul relai(Rahardjo, 2022). Modul Relai (Relay Module) berperan sebagai sakelar elektronik yang memungkinkan mikrokontroler mengontrol perangkat berdaya tinggi (seperti pompa air) yang tidak dapat diaktifkan langsung oleh pin mikrokontroler karena perbedaan tegangan atau arus (YR et al., 2021). Mikrokontroler mengirimkan sinyal kecil ke relai, yang kemudian menutup atau membuka sirkuit pompa(Sulistiyanto et al., 2023).

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka permasalahan yang ingin dijawab melalui kegiatan pelatihan ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimana merancang sistem penyiraman tanaman hias yang efektif, efisien, dan sesuai kebutuhan masing-masing tanaman di Kamila Garden
  2. Bagaimana memanfaatkan teknologi mikrokontroler (Arduino) untuk mengotomatisasi proses penyiraman tanaman berbasis kelembaban tanah
  3. Sejauh mana pelatihan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam merancang dan mengoperasikan sistem penyiraman otomatis
  4. Bagaimana solusi teknologi ini dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat, khususnya dalam konteks pertanian urban atau skala kecil

.

  1. Tujuan dan Manfaat Pengabdian

Adapun tujuan dari pelatihan sistem kontrol penyiraman otomatis berbasis mikrokontroler ini adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan pemahaman kepada peserta mengenai konsep dasar sistem penyiraman otomatis dan peran mikrokontroler dalam otomasi pertanian.
  2. Melatih peserta untuk merancang, merakit, dan memprogram sistem penyiraman tanaman hias menggunakan mikrokontroler Arduino dan sensor kelembaban tanah.
  3. Menumbuhkan keterampilan praktis dalam mengatasi permasalahan penyiraman tanaman secara efisien dan tepat guna.
  4. Mendorong penerapan teknologi sederhana namun inovatif dalam perawatan tanaman hias, khususnya di lingkungan masyarakat desa dan pelaku usaha taman.
  5. Menjadi model awal penerapan teknologi Internet of Things (IoT) di bidang pertanian dan lanskap taman skala kecil yang dapat direplikasi di lokasi lain.

 

BAB II

METODE PELAKSANAAN

 

  1. Tahapan Pelaksanaan

Metode pelaksanaan yang digunakan yaitu Metode Waterfall. Metode Waterfall merupakan suatu proses pengembangan perangkat lunak berurutan, di mana kemajuan dipandang sebagai terus mengalir ke bawah (seperti air terjun) melewati fase-fase perencanaan, pemodelan, implementasi (konstruksi) dan pengujian (Tijaniyah & Gusti, 2023). Kelebihan menggunakan metode air terjun (waterfall) adalah metode ini memungkinkan untuk departementalisasi dan kontrol. proses pengembangan model fase one by one, sehingga meminimalis kesalahan yang mungkin akan terjadi(Putri et al., 2019). Pengembangan bergerak dari konsep, yaitu melalui desain, implementasi, pengujian, instalasi, penyelesaian masalah, dan berakhir di operasi dan pemeliharaan (Rahardjo, 2022). Berikut ini adalah tahapan penelitian pada metode waterfall dapat dilihat pada Gambar 2.

 

Gambar 2. Tahapan Pelaksanaan PKM

 

  1. Survey Lokasi : tahapan awal dalam penelitian ini adalah mengunjungi Desa Karanganyar Paiton Probolinggo, menemui bapak Muhammad saikul rokim atau bapak rohim, penjual tanaman hias. Hal ini dilakukan oleh Ketua dan Anggota Peneliti. Selain itu tahapan awal ini juga terdiri dari observasi tempat penelitian, kondisi dan situasi desa,  melakukan wawancara kepada bapak rohim. Survey lokasi ini guna mendapatkan informasi letak alat penyiraman tanaman hias dan jenis Bunga nya. Tahapan awal ini dilakukan selama 1-10 hari.
  2. Perumusan Masalah : tahapan ini dikerjakan oleh ketua dan anggota peneliti. Dari hasil wawancara dan obsevasi pada penelitian awal, ada beberapa permasalahan yang harus diselesaikan dengan sistem yang terorganisir dengan baik dan terencana. Perumusan masalah nya yaitu kurangnya waktu menyiram tanaman hias sehingga tanaman banyak yang kering dan busuk. Tahapan ini dilakukan selama 1-15 hari.
  3. Pengumpulan Data : tahapan pengumpulan data ini dilakukan oleh ketua dan anggota peneliti. Pengumpulan data yaitu wawancara dan observasi pada penelitian awal, yang ditunjang dengan studi literatur. Studi  literatur untuk mempelajari dan memahami konsep alat kontrol penyiraman tanaman hias berbasis mikrokontroler. Tahapan ini dilakukan selama 1-2 bulan
  4. Perancangan Sistem : tahapan perancangan sistem ini dilakukan oleh ketua peneliti, anggota peneliti, ketua teknisi dan anggota teknisi. Perancangan sistem adalah perancangan bahan yang dibutuhkan untuk membuat alat kontrol penyiraman tanaman hias secara otomatis berbasis mikrokontroler. Estimasi bahan yang dibutuhkan yaitu  mikrokontroler arduini, sensor soil moisture, pompa 5V–12V DC kecil, 1-channel relay (5V) untuk mengontrol pompa air dari mikrokontroler, Adaptor DC 9V–12V, atau menggunakan kabel USB dari power bank jika ingin portable, pipa, resistor, LED, buzzer, panel BOX dan software arduino IDE . Tahapan ini dilakukan selama 1-2 bulan.
  5. Pengujian Sistem : tahapan Pengujian Sistem ini dilakukan oleh ketua peneliti, programer dan ketua teknisi. Tahapan ini dilakukan selama 1-3 bulan. Tahapan ini uji coba sistem yang mana sebelum tahapan implementasi sistem . pengujian sistem terdiri dari :
  1. Pengujian Sensor Kelembaban Tanah : Memastikan sensor dapat membaca tingkat kelembaban tanah dengan benar
  2. Pengujian Relay dan Pompa Air : Memastikan relay dan pompa dapat aktif atau mati dikendalikan oleh mikrokontroler.
  3. Pengujian Sistem Otomatis Keseluruhan : Memastikan sistem bisa bekerja otomatis berdasarkan kelembaban tanah.
  4. Pengujian Daya Tahan Sistem : Melihat apakah sistem bisa berjalan stabil dalam jangka waktu lebih panjang.
  1. Implementasi Rancangan.: implementasi Rancangan dilakukan oleh ketua peneliti, programer dan ketua teknisi. Tahapan ini adalah penerapan alat kontrol penyiraman tanaman hias otomatisnya di stan bunga milik bapak rohim di desa karanganyar. Yang mana lokasi penempatan alat kontrol penyiraman tanaman hiasnya sudah melalui survey terlebih dahulu. Bila ada perbaikan, maka akan ke tahap uji coba sistem kembali. Tahapan ini dilalukan selama 1-20 hari
  2. Penarikan Kesimpulan : tahapan ini adalah penarikan kesimpulan dilakukan oleh ketua dan anggota peneliti. Kesimpulan didapat dari sistem kontrol dan proses penelitian yang dilakukan dan tidak lanjut dari pengabdian kepada masyarakat (PKM) akan menjadi saran yang akan lebih dikembangkan lagi oleh PKM berikutnya. Tahapan dilakukan selama 1-10 hari
  1. Paritipasi Mitra

Kegiatan pelatihan ini melibatkan Kamila Garden sebagai mitra utama yang berperan aktif dalam mendukung perencanaan hingga pelaksanaan program. Partisipasi mitra sangat penting dalam memastikan bahwa kegiatan berjalan sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan serta tepat sasaran. Bentuk partisipasi mitra dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Penyediaan Lokasi dan Fasilitas : Kamila Garden menyediakan tempat pelatihan yang digunakan untuk sesi teori, praktik perakitan alat, dan uji coba sistem di lapangan. Area taman digunakan sebagai objek nyata untuk demonstrasi sistem penyiraman otomatis, sehingga peserta dapat langsung melihat dan memahami penerapan teknologinya dalam konteks sebenarnya.
  2. Identifikasi Permasalahan Lapangan : Pengelola Kamila Garden turut membantu tim pelatih dalam mengidentifikasi permasalahan spesifik yang terjadi dalam penyiraman tanaman hias. Informasi ini menjadi dasar perancangan materi pelatihan yang relevan dan aplikatif.
  3. Mobilisasi Peserta : Mitra berperan dalam menginformasikan dan mengajak masyarakat sekitar, pengelola taman lain, pemuda desa, serta pelaku UMKM tanaman hias untuk berpartisipasi dalam kegiatan. Dengan jaringan lokal yang dimiliki Kamila Garden, pelatihan berhasil menjaring peserta dari berbagai latar belakang yang memiliki minat dalam bidang pertanian dan teknologi.
  4. Penyediaan Tanaman dan Media Uji Coba : Tanaman hias yang tersedia di Kamila Garden digunakan sebagai media uji coba penyiraman otomatis. Hal ini sangat membantu dalam memberikan pengalaman langsung kepada peserta, serta mengevaluasi kinerja alat secara praktis.
  5. Komitmen untuk Implementasi Hasil Pelatihan : Mitra menyatakan komitmennya untuk mengimplementasikan sistem penyiraman otomatis hasil pelatihan sebagai solusi jangka panjang di Kamila Garden. Selain itu, pengelola juga berencana melakukan modifikasi dan pengembangan lebih lanjut untuk meningkatkan efisiensi perawatan taman secara keseluruhan.
  6. Dukungan Dokumentasi dan Publikasi : Kamila Garden membantu proses dokumentasi kegiatan, baik berupa foto, video, maupun testimoni peserta. Selain sebagai arsip kegiatan, dokumentasi ini juga bermanfaat dalam publikasi keberhasilan program kepada masyarakat luas dan sebagai bahan promosi kolaboratif.

Partisipasi aktif dari Kamila Garden sebagai mitra membuktikan bahwa kolaborasi antara komunitas, pelaku usaha lokal, dan tim pelatih sangat penting untuk keberhasilan kegiatan berbasis teknologi tepat guna. Kolaborasi ini juga memperkuat potensi replikasi program serupa di lokasi lain yang menghadapi permasalahan serupa..

 

 

 

  1. Pembagian Peran

Kegiatan pelatihan dapat berjalan dengan lancar, efektif, dan sesuai tujuan maka perlu dilakukan pembagian peran yang jelas antara mitra (Kamila Garden) dan tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Pembagian peran ini disusun berdasarkan kapasitas, kompetensi, dan peran masing-masing pihak sebagai berikut:

  1. Peran Mitra (Kamila Garden)
  1. Penyediaan Lokasi Kegiatan : Kamila Garden menyediakan tempat pelaksanaan pelatihan, termasuk ruang terbuka untuk praktik lapangan serta area demonstrasi alat.
  2. Identifikasi Permasalahan Lapangan : Mitra memberikan data dan informasi mengenai permasalahan yang dihadapi dalam proses penyiraman tanaman hias, sebagai dasar penyusunan materi pelatihan.
  3. Rekrutmen dan Mobilisasi Peserta : Mitra turut mengajak masyarakat sekitar, pelaku usaha tanaman hias, pemuda, serta pihak lain yang relevan untuk mengikuti pelatihan.
  4. Penyediaan Sarana Uji Coba : Mitra menyediakan tanaman, pot, serta area yang dijadikan media uji coba penerapan sistem penyiraman otomatis.
  5. Dukungan Logistik dan Dokumentasi : Mitra mendukung penyediaan konsumsi ringan, dokumentasi foto dan video, serta membantu kelancaran teknis pelaksanaan kegiatan di lokasi.: Komitmen Implementasi dan Tindak Lanjut

 

  1. Peran Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM)
  1. Perencanaan dan Penyusunan Program : Tim PKM menyusun rencana kegiatan, termasuk tujuan, sasaran, metode pelatihan, serta materi yang akan disampaikan.
  2. Penyediaan Materi dan Alat Peraga : Tim menyiapkan modul pelatihan, perangkat mikrokontroler (Arduino), sensor, pompa air, dan komponen lainnya untuk praktik.
  3. Fasilitasi Pelatihan : Tim bertanggung jawab sebagai narasumber, fasilitator, dan instruktur dalam seluruh rangkaian pelatihan, mulai dari teori hingga praktik langsung.
  4. Pendampingan Teknis : Selama kegiatan, tim memberikan pendampingan teknis secara langsung kepada peserta dalam perakitan, pemrograman, serta pengujian sistem.
  5. Evaluasi dan Monitoring : Tim melakukan evaluasi hasil pelatihan melalui pre-test dan post-test, serta mengamati kemampuan peserta dalam mengaplikasikan sistem yang telah dibuat.
  6. Penyusunan Laporan dan Dokumentasi Ilmiah : Tim menyusun laporan akhir kegiatan, termasuk dokumentasi hasil pelatihan dan potensi pengembangan program di masa mendatang.

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pelatihan sistem penyiraman tanaman hias otomatis berbasis mikrokontroler yang dilaksanakan di Kamila Garden, Jalan Raya Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, telah berjalan dengan baik dan mencapai hasil yang signifikan, baik dari aspek pengetahuan peserta, keterampilan teknis, maupun implementasi teknologi di lapangan. Hasil pelatihan dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Peningkatan Pengetahuan PesertaPeserta yang terdiri dari pengelola taman, pemuda desa, dan masyarakat umum menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan mengenai:Konsep dasar mikrokontroler dan sistem otomatisasi. Fungsi dan cara kerja sensor kelembaban tanah, Peran aktuator (pompa air) dalam sistem kontrol penyiraman, Prinsip kerja sistem berbasis data sensor untuk pengambilan keputusan otomatis, Peningkatan ini dibuktikan melalui sesi diskusi, tanya jawab, serta post-test yang menunjukkan perbedaan skor positif dibandingkan dengan hasil pre-test.
  2. Penguasaan Keterampilan Praktis. Seluruh peserta mengikuti praktik langsung mulai dari: Perakitan sistem elektronik berbasis Arduino.Pemasangan sensor kelembaban tanah.Pemrograman mikrokontroler dengan software Arduino IDE. Uji coba penyiraman otomatis berdasarkan kadar kelembaban yang terbaca oleh sensor.Peserta mampu menyelesaikan rangkaian sistem penyiraman otomatis secara mandiri dengan bimbingan tim pelatih. Beberapa peserta bahkan berhasil melakukan modifikasi sederhana, seperti menambah indikator LED dan mengatur ambang batas kelembaban.
  3. Penerapan Langsung di Kamila Garden. Hasil pelatihan langsung diuji coba di area taman Kamila Garden. Sistem penyiraman otomatis dipasang pada sejumlah pot tanaman hias, dan hasilnya menunjukkan: Penyiraman berlangsung otomatis saat kelembaban tanah berada di bawah ambang batas yang ditentukan. Sistem mampu menghemat waktu dan air dibandingkan dengan metode manual. Pengelola taman menyatakan bahwa sistem ini akan digunakan secara rutin dan diperluas ke area lain di taman.
  4. Tumbuhnya Antusiasme dan Komitmen. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi terhadap teknologi tepat guna ini. Banyak peserta menyatakan minat untuk menerapkan sistem serupa di rumah atau usaha mereka sendiri. Selain itu, mitra (Kamila Garden) berkomitmen untuk mengembangkan sistem ini sebagai bagian dari inovasi layanan taman dan edukasi pengunjung.
  5. Potensi Replikasi dan Pengembangan. Dengan desain sistem yang sederhana, biaya terjangkau, dan materi pelatihan yang mudah dipahami, sistem ini memiliki potensi tinggi untuk direplikasi di taman, sekolah, atau kebun rumah tangga lainnya di wilayah sekitar.

 

Berikut Tabel 1 yang merangkum jenis tanaman hias yang memerlukan penyiraman intensif, lengkap dengan ciri daun, kebutuhan air, dan frekuensi penyiraman yang disarankan:

Tabel 1. Jenis Tanaman Hias Yang Memerlukan Penyiraman Intensif

No

Nsms Tanaman

Ciri Daun

Kebutuhan Air

Frekuensi Penyiraman

1

Calathea (Maranta)

Daun berwarna-warni dengan pola mencolok

Sangat tinggi

Setiap hari atau tanah selalu lembap

2

Monstera Deliciosa

Daun besar dengan sobekan alami

Tinggi

3-4 kali per minggu, sesuaikan kelembaban tanah

3

Peace Lily (Spathiphyllum)

Daun hijau dengan bunga putih menyerupai kelopak

Tinggi

3-4 kali per minggu, siram saat permukaan tanah mulai kering

4

Pakis (Bosto Fern)

Daun kecil, lebat,

Tinggi

Setiap hari atau jaga kelembapan tinggi di udara dan tanah

5

Begonia Rex

Daun bertekstur dan warna mencolok

Tinggi

3-4 kali per minggu, hindari genangan air

6

Syngonium

Daun berbentuk panah, warna bervariasi

Sedang hingga tinggi

2-3 kali per minggu, saat tanah kering 1-2 cm di permukaan

7

Aglaonema

Daun lebar dengan pola warna-warni

Sedang hingga tinggi

2-3 kali per minggu, tanah harus tetap lembap

8

Anggrek (Orchidaceae)

Daun memanjang, oval, bulat telur,berbentuk hati.

Sedang hingga tinggi

2-3 kali per minggu, tanah harus tetap lembap

9

Lidah Mertua (Sansevieria)

Keras, sukulen (berdaging tebal), tegak, panjang, dan

Sedang hingga tinggi

2-3 kali per minggu, tanah harus tetap lembap

 

Tanaman hias adalah segala jenis tumbuhan yang ditanam dan dipelihara dengan tujuan utama untuk dinikmati keindahan, keunikan, atau daya tariknya. Berbeda dengan tanaman pangan atau obat yang dibudidayakan untuk konsumsi atau manfaat fungsional, tanaman hias difokuskan pada nilai estetika yang mereka berikan. Estetika dan Dekorasi: Ini adalah fungsi utamanya, yaitu memperindah rumah, kantor, taman, atau ruang publik, menciptakan suasana yang lebih hidup dan asri. Peningkat Kelembaban Udara: Tanaman mengeluarkan uap air melalui proses transpirasi, yang dapat membantu meningkatkan kelembaban di dalam ruangan. Penarik Serangga (atau Pengusir Serangga): ekspor.Berikut ini Tabel 2. Jenis Tanaman hias beserta gambar nya.

 

Tabel 2. Jenis Tanaman Hias

No

Nama Tanaman Hias

Gambar

1

Calathea (Maranta)

2

Monstera Deliciosa

3

Peace Lily (Spathiphyllum)

4

Pakis (Bosto Fern)

5

Begonia Rex

6

Syngonium

7

Aglaonema

8

Anggrek (Orchidaceae)

9

Lidah Mertua (Sansevieria)

 

Berikut ini proses persiapan pelatihan sistem kontrol penyiraman tanaman hias otomatis bersama bapak rohim di stan kamila garden. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu 18 Juni 2025.  Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Kegiatan Bersih-Bersih Stan Bunga Kamila Garden

 

BAB IV

PENUTUP

 

Pengabdian kepada masyarakat ini memiliki kesimpulan sebagaimana yang telah dilaksanakan kegiatan pel;atihan sistem kontrol penyiraman tanaman hias otomatis berbasis mikrokontroler yaitu kegiatan pelatihan dilaksanakan di Kamila Garden, yang berlokasi di Jalan Raya Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Adapun tujuan kegiatan pelatihan ini adalah :

  1. Meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat, khususnya pelaku usaha taman dan pecinta tanaman hias, dalam memanfaatkan teknologi otomatisasi untuk mendukung perawatan tanaman yang lebih efisien dan berkelanjutan.
  2. Pengenalan mikrokontroler Arduino, sensor kelembaban tanah, serta aktuator berupa pompa air mini, yang dirangkai dalam sistem otomatis penyiraman tanaman.
  3. Pelatihan terdiri dari sesi teori, demonstrasi alat, serta praktik langsung perakitan dan pemrograman sistem oleh peserta.
  4. Peserta yang mengikuti pelatihan berasal dari kalangan remaja, pengelola taman, serta masyarakat umum di sekitar lokasi kegiatan.
  5. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta terhadap konsep dasar sistem otomatisasi serta kemampuan dalam merancang dan mengoperasikan alat penyiraman otomatis secara mandiri.
  6. Mendorong pemanfaatan teknologi sederhana yang aplikatif dan hemat biaya, serta memperkuat semangat inovasi di kalangan masyarakat desa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Akbar, M., & Borman, R. I. (2021). Otomatisasi Pemupukan Sayuran Pada. Jurnal Teknik Dan Sistem Komputer (JTIKOM), 2(2), 15–28.

Putri, A. R., Suroso, & Nasron. (2019). Perancangan Alat Penyiram Tanaman Otomatis. Seminar Nasional Inovasi Dan Aplikasi Teknologi Di Industri (SENIATI), 5(2), 155–159.

Rahardjo, P. (2022). Sistem Penyiraman Otomatis Menggunakan Sensor Kelembaban Tanah Berbasis Mikrokontroler Arduino Mega 2560 Pada Tanaman Mangga Harum Manis Buleleng Bali. Majalah Ilmiah Teknologi Elektro, 21(1), 31. https://doi.org/10.24843/mite.2022.v21i01.p05

Robi, A. N., & Khoir, A. S. (2022). 202-Article Text-558-2-10-20230922. 96–101.

Royong, G. (2024). Sosialisasi Lampu Penerang Jalan Berbasis Panel Surya Di Desa Karanganyar Paiton. 1(3), 141–150.

Samsugi, S., Mardiyansyah, Z., & Nurkholis, A. (2020). Sistem Pengontrol Irigasi Otomatis Menggunakan Mikrokontroler Arduino Uno. Jurnal Teknologi Dan Sistem Tertanam, 1(1), 17. https://doi.org/10.33365/jtst.v1i1.719

Sokop, S. J., Mamahit, D. J., Eng, M., & Sompie, S. R. U. A. (2016). Trainer Periferal Antarmuka Berbasis Mikrokontroler Arduino Uno. Jurnal Teknik Elektro Dan Komputer, 5(3), 13–23. h

Sulistiyanto, Setyobudi, R., & Tijaniyah. (2023). Utilization of Tds Sensors for Water Quality Monitoring and Water Filtering of Carp Pools Using Iot. EUREKA, Physics and Engineering, 2023(6), 69–77. https://doi.org/10.21303/2461-4262.2023.002865

Tijaniyah, Deswita Laelatul Fitria, P. M. (2023). Implementasi Sistem Kontrol Dan Metode Simple Additive Weighting (SAW) Pada Smart Akuaponik Untuk. Alinier Jurnal, 4(2). www.elektro.itn.ac.id

Tijaniyah, N. A., & Gusti, M. E. (2023). Pelatihan Penerapan Sistem Kontrol Pengering Ikan Asin Berbasis Multi Attribute Decision Making (MADM) dan Photovoltaic. 2(2), 251–262. https://journal.insankreasimedia.ac.id/index.php/JILPI

Wibowo, H. (2010). Madm-Tool : Aplikasi Uji Sensitivitas Untuk Model Madm Menggunakan Metode Saw Dan Topsis. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi, 2010(Snati), 1907–5022.

YR, K. P., Suppa, R., & Muhallim, M. (2021). Sistem Penyiraman Tanaman Otomatis Berbasis Arduino. Jurasik (Jurnal Riset Sistem Informasi Dan Teknik Informatika), 6(1), 1. https://doi.org/10.30645/jurasik.v6i1.266

 

Berita Terkait

Pelatihan Sistem Kontrol Penyiraman Tanaman Hias Otomatis Berbasis Mikrokontroler

Sabtu, 23 Mei 2026

PKM Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah Berbasis AI untuk Mahasiswa MPI Universitas Nurul Jadid

Kamis, 21 Mei 2026

Pendampingan Integrasi Single Sign-On (SSO) dan Single Logout (SLO) pada Sistem Akademik Universitas Nurul Jadid

Kamis, 21 Mei 2026

PKM Pelatihan Sistem Informasi Berbasis Website untuk Pendataan Barang di Biro Kepesantrenan Nurul Jadid

Kamis, 21 Mei 2026

Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291

Lembaga Pusat Layanan Masyarakat

© 2023 Universitas Nurul Jadid