UNUJA - Lembaga Pusat Layanan Masyarakat
Kamis, 21 Mei 2026
Diakses: 2 kali
L A P O R A N AKHIR
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

Disusun oleh:
|
Ketua Tim |
: |
Dr. Zakiyah bz, M.Pd.I |
NIDN. 0711108702 |
|
Anggota |
: |
Halimatus Sa’diyah |
NIDN/NIM. 2211000022 |
|
Anggota |
: |
ST. Romlah |
NIDN/NIM. 2211000024 |
|
Anggota |
: |
Nur Aini Sofiah Zanjabila |
NIDN/NIM. 2211000027 |
Lembaga Penerbitan, Pengabdian, dan
Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M)
Universitas Nurul Jadid
Paiton Probolinggo
Tahun 2024
PkM Optimalisasi Gaya Belajar Visual Siswa Melalui Media Non-Elektronik Metaplan di MI Nurul Mun’im Paiton
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas penggunaan media non-elektronik berbasis metaplan dalam mengoptimalkan gaya belajar visual siswa di MI Nurul Mun’im Paiton, Kabupaten Probolinggo. Latar belakang penelitian ini adalah masih rendahnya perhatian terhadap diferensiasi gaya belajar di lingkungan madrasah, khususnya gaya belajar visual, serta terbatasnya akses terhadap media pembelajaran elektronik. Sebagai alternatif, media non-elektronik seperti metaplan dinilai potensial untuk menyajikan pembelajaran visual secara sederhana namun efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap proses pembelajaran di kelas, serta dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metaplan mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa, memperjelas pemahaman konsep, serta memfasilitasi kreativitas siswa dalam menampilkan ide secara visual. Temuan ini menunjukkan bahwa metaplan merupakan solusi aplikatif bagi guru di sekolah dengan keterbatasan fasilitas teknologi. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan media pembelajaran yang ramah terhadap berbagai gaya belajar, khususnya di lingkungan pendidikan dasar berbasis madrasah.
Kata kunci: Metaplan, media non-elektronik, gaya belajar visual.
Abstract.
This research aims to examine the effectiveness of using metaplan-based non-electronic media in optimizing students' visual learning styles at MI Nurul Mun'im Paiton, Probolinggo Regency. The background to this research is that there is still low attention to the differentiation of learning styles in the madrasa environment, especially visual learning styles, as well as limited access to electronic learning media. As an alternative, non-electronic media such as metaplan is considered to have the potential to present visual learning in a simple but effective way. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data was collected through observation, interviews and documentation of the learning process in the classroom, and analyzed using data reduction, data presentation and verification techniques. The research results show that the use of metaplans is able to increase students' active participation, clarify understanding of concepts, and facilitate students' creativity in presenting ideas visually. These findings show that metaplan is an applicable solution for teachers in schools with limited technological facilities. This research provides a practical contribution to the development of learning media that is friendly to various learning styles, especially in madrasah-based basic education environments.
Keywords: Metaplan, non-electronic media, visual learning style.
BAB I
LATAR BELAKANG
Salah satu permasalahan mendasar dalam dunia pendidikan adalah belum optimalnya proses pembelajaran yang memperhatikan perbedaan gaya belajar siswa. Sebagian besar guru masih mengandalkan metode ceramah dan buku teks, yang lebih cocok untuk siswa dengan gaya belajar auditori atau verbal. Akibatnya, siswa dengan gaya belajar visual sering kali mengalami kebingungan dan kesulitan dalam memahami materi, karena materi tidak disajikan dalam bentuk visual yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Di banyak madrasah ibtidaiyah, kondisi ini menjadi lebih kompleks karena keterbatasan akses terhadap media pembelajaran elektronik seperti LCD proyektor atau komputer. Hal ini mengakibatkan ketergantungan penuh pada media konvensional, namun sayangnya media tersebut belum dioptimalkan untuk mendukung gaya belajar tertentu. Jika masalah ini terus dibiarkan, maka akan berdampak pada rendahnya partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran serta menurunnya hasil belajar, yang akhirnya turut memengaruhi kualitas lulusan secara umum. Oleh karena itu, perlu ada terobosan dalam metode dan media pembelajaran, agar setiap gaya belajar siswa bisa terfasilitasi dengan baik dan proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan bermakna.
Di MI Nurul Mun’im Paiton, Kabupaten Probolinggo, fenomena ketidaksesuaian metode pembelajaran dengan gaya belajar siswa menjadi kenyataan yang sering ditemukan. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki kecenderungan belajar visual, namun metode pembelajaran yang digunakan guru masih bersifat konvensional dan cenderung monoton. Guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dan membaca buku pelajaran, tanpa banyak memanfaatkan media visual yang bisa mendukung pemahaman siswa. Kondisi ruang kelas yang minim fasilitas teknologi juga memperkuat ketergantungan terhadap metode pembelajaran non-elektronik. Namun sayangnya, media non-elektronik yang digunakan belum variatif dan belum diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gaya belajar visual. Hal ini berdampak langsung pada antusiasme dan partisipasi siswa selama proses pembelajaran. Beberapa siswa terlihat cepat bosan, tidak fokus, bahkan kurang memahami materi pelajaran. Padahal, jika potensi gaya belajar visual mereka difasilitasi dengan baik, mereka dapat menunjukkan hasil belajar yang jauh lebih optimal. Situasi ini menunjukkan pentingnya pengembangan dan penerapan metode pembelajaran yang efektif namun sederhana, seperti penggunaan metaplan, agar guru bisa menyajikan materi secara visual tanpa bergantung pada teknologi canggih.
Berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa gaya belajar siswa memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil belajar. Misalnya, studi oleh Fleming (2011) tentang model VARK (Visual, Auditory, Reading, Kinesthetic) menyebutkan bahwa siswa visual lebih mampu memahami materi ketika disajikan dalam bentuk visualisasi. Penelitian lokal di tingkat madrasah juga menunjukkan bahwa metode pembelajaran berbasis media visual dapat meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar siswa. Namun, sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada penggunaan media elektronik seperti video pembelajaran, animasi digital, atau presentasi berbasis PowerPoint. Padahal, di banyak sekolah, terutama di daerah, akses terhadap media elektronik masih sangat terbatas. Oleh karena itu, ada kebutuhan untuk mengeksplorasi penggunaan media non-elektronik sebagai alternatif yang tidak kalah efektif, terutama yang bersifat partisipatif dan kolaboratif, seperti metaplan.
Meskipun sudah banyak studi terkait media pembelajaran dan gaya belajar, masih sedikit yang secara spesifik membahas efektivitas metaplan dalam mengakomodasi gaya belajar visual, terutama di lingkungan pendidikan dasar dan madrasah. Penelitian yang mengangkat metaplan umumnya lebih banyak dilakukan di konteks pelatihan orang dewasa atau diskusi kelompok, bukan dalam pembelajaran kelas anak-anak. Di sinilah letak research gap dari penelitian ini: bagaimana metaplan yang selama ini dikenal dalam dunia pelatihan, bisa diadaptasi menjadi metode yang menyenangkan dan mendukung gaya belajar visual siswa madrasah. Penelitian ini tidak hanya mengisi kekosongan kajian tersebut, tetapi juga memberikan kontribusi praktis bagi guru-guru di sekolah dengan fasilitas terbatas, agar tetap bisa menciptakan pembelajaran visual yang efektif tanpa harus tergantung pada teknologi tinggi.
Pada prinsipnya, tujuan pengabdian adalah untuk menjawab rumusan masalah. Sementara itu, manfaat pengabdian adalah keuntungan atau potensi yang bisa diperoleh oleh pihak-pihak tertentu setelah pengabdian ini selesai dilakukan. Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagainama berikut:
Sedangkan manfaat pengabdian umumnya bersifat praktis, misalnya untuk peningkatan keterampilan mitra, peningkatan distribusi usaha mitra, peningkatan modal pengetahuan mitra, dan lain-lain. Adapun manfaat pengabdian dalam artikel ini yaitu:
BAB II
METODE PELAKSANAAN
Media metaplan dapat menjadi alternatif efektif untuk mengoptimalkan gaya belajar visual siswa, terutama di lingkungan madrasah yang memiliki keterbatasan fasilitas teknologi. Dalam konteks pembelajaran visual, siswa sangat terbantu dengan bentuk penyajian materi yang melibatkan warna, gambar, dan keterlibatan langsung dalam menyusun konsep. Hal ini sesuai dengan pendapat Fleming (2011) bahwa gaya belajar visual sangat terbantu oleh representasi visual yang jelas dan terstruktur. Penggunaan media non elektronik kertas dan papan metaplan memperkuat dimensi pembelajaran partisipatif, di mana siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga membangun pengetahuannya secara aktif melalui diskusi dan penyusunan konsep. Peningkatan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran dan penggunaan media yang merangsang keterlibatan fisik dan kognitif siswa mampu meningkatkan pemahaman dan retensi materi.
Keunggulan lain dari metaplan adalah kesederhanaannya. Guru tidak perlu bergantung pada perangkat digital untuk menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan visual. Ini menjadi solusi nyata bagi sekolah-sekolah di daerah yang mengalami keterbatasan sarana teknologi. Dengan demikian, inovasi seperti metaplan dapat menjadi bagian dari strategi peningkatan mutu pendidikan berbasis sumber daya lokal. penerapan metaplan sebagai media non-elektronik yang dirancang khusus untuk mengoptimalkan gaya belajar visual siswa di tingkat madrasah ibtidaiyah. Belum banyak studi yang secara eksplisit mengaitkan metaplan dengan kebutuhan belajar visual anak-anak dalam konteks pendidikan dasar, apalagi di lingkungan dengan keterbatasan teknologi seperti di MI Nurul Mun’im.
Selain itu, pendekatan ini bersifat low-cost, mudah diterapkan oleh guru, dan sangat fleksibel karena dapat disesuaikan dengan berbagai mata pelajaran. Penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu memerlukan teknologi canggih; cukup dengan kreativitas guru dalam mengolah media sederhana seperti kertas warna, spidol, dan peta konsep, proses belajar bisa dibuat lebih efektif dan menyenangkan. Hal ini berpotensi mengubah paradigma guru tentang media pembelajaran dan memberikan alternatif baru yang aplikatif dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerah.
Penggunaan media metaplan sebagai alternatif pembelajaran visual di madrasah ibtidaiyah perlu dilakukan melalui tahapan pelaksanaan yang sistematis dan terarah. Langkah pertama dimulai dari beberapa tahapan . Pertama analisis kebutuhan dan perencanaan. Guru melakukan identifikasi terhadap gaya belajar siswa, khususnya siswa dengan kecenderungan visual. Di tahap ini pula dilakukan evaluasi terhadap kondisi sarana dan prasarana sekolah, terutama yang berkaitan dengan keterbatasan teknologi. Berdasarkan hasil analisis tersebut, guru merancang pembelajaran berbasis metaplan yang disesuaikan dengan karakteristik siswa dan tujuan pembelajaran. Kedua persiapan media dan alat. Guru menyiapkan berbagai bahan sederhana namun fungsional, seperti kertas warna, spidol, papan karton, dan alat bantu lain yang mendukung visualisasi konsep. Bahan-bahan ini dirancang menjadi template peta konsep, diagram, atau kategori informasi yang akan digunakan siswa saat proses pembelajaran berlangsung.
Pada tahap ketiga yaitu pelaksanaan pembelajaran, kegiatan dibuka dengan orientasi awal oleh guru, di mana siswa diperkenalkan pada tujuan pembelajaran dan cara penggunaan media metaplan. Dalam kegiatan inti, guru menyampaikan materi dengan pendekatan visual, kemudian siswa diajak secara aktif menyusun ide atau konsep dengan menuliskannya di kertas warna dan menempelkannya di papan metaplan. Proses ini dilakukan secara individu atau kelompok, mendorong siswa untuk berpikir kritis dan terlibat langsung dalam membangun pemahaman mereka terhadap materi. Diskusi berlangsung secara terbuka, memungkinkan siswa merevisi atau menyusun ulang konsep bersama-sama. Di akhir pembelajaran, guru bersama siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilakukan, menyimpulkan materi, dan memberikan umpan balik atas partisipasi siswa.
Keempat evaluasi dan refleksi. Guru menilai keterlibatan siswa selama proses pembelajaran, kejelasan visualisasi konsep, dan pemahaman terhadap materi yang diajarkan. Penilaian dilakukan secara formatif, baik melalui observasi maupun rubrik yang telah disiapkan. Selain itu, siswa diberi kesempatan untuk merefleksikan pengalaman belajarnya, baik secara lisan maupun tertulis. Sebagai penutup, guru melakukan dokumentasi dan pengembangan lanjutan. Hasil karya siswa dan proses pembelajaran diabadikan sebagai bahan refleksi dan pengembangan metode di masa mendatang. Dokumentasi ini juga dapat dibagikan dalam forum diskusi antar guru untuk memperluas dampak praktik baik ini. Dengan tahapan pelaksanaan yang terstruktur, penggunaan media metaplan bukan hanya menjadi alternatif dari keterbatasan teknologi, tetapi juga berfungsi sebagai inovasi pembelajaran yang murah, mudah diterapkan, dan mampu meningkatkan partisipasi aktif serta pemahaman siswa, khususnya yang memiliki gaya belajar visual.

Bentuk partisipasi ini penting untuk memastikan bahwa inovasi pembelajaran seperti metaplan tidak hanya menjadi proyek sesaat, tetapi mampu terintegrasi secara berkelanjutan dalam sistem pembelajaran madrasah dengan dukungan aktif dari berbagai pihak. Adapun bentuk partisipasi mitra dala proses pengabdian ini yaitu: Pertama, guru madrasah berperan sebagai aktor utama dalam proses implementasi media metaplan. Mereka berpartisipasi aktif dalam kegiatan pelatihan penggunaan media, menyusun materi ajar berbasis visual, serta menerapkannya dalam proses pembelajaran sehari-hari. Guru juga memiliki peran sebagai fasilitator yang menciptakan suasana belajar partisipatif dan visual, sekaligus sebagai evaluator untuk menilai sejauh mana efektivitas media metaplan dalam meningkatkan pemahaman siswa.
Kedua, kepala madrasah memberikan dukungan kebijakan, termasuk pengalokasian waktu dan sumber daya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program. Kepala madrasah juga berperan sebagai penjamin keberlanjutan program, mendorong inovasi pembelajaran, serta menciptakan iklim yang kondusif bagi guru untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran kreatif berbasis sumber daya lokal. Ketiga, partisipasi komite madrasah dan orang tua siswa sangat penting dalam mendukung aspek logistik dan moral. Mereka dapat membantu pengadaan alat dan bahan sederhana seperti kertas warna, spidol, serta papan metaplan. Selain itu, dukungan orang tua dalam memberikan izin dan semangat kepada anak untuk aktif berpartisipasi juga turut mendorong terciptanya lingkungan belajar yang suportif di rumah.
Keempat, dosen dan mahasiswa atau peneliti yang terlibat dalam program ini berkontribusi sebagai fasilitator pelatihan bagi guru, pendamping saat proses implementasi di kelas, serta pengumpul data dan pelaksana evaluasi. Mereka berperan sebagai jembatan antara teori pendidikan dan praktik di lapangan, sekaligus memperkaya pendekatan pembelajaran melalui observasi dan refleksi. Kelima, dukungan dari lembaga mitra seperti perguruan tinggi atau LSM pendidikan juga sangat penting. Lembaga ini dapat menyediakan narasumber pelatihan, modul pembelajaran, serta melakukan monitoring dan evaluasi program secara menyeluruh. Peran mereka sebagai pendukung teknis dan akademik menjadikan pelaksanaan program lebih terarah dan berbasis bukti. Dengan kolaborasi lintas peran ini, penerapan media metaplan tidak hanya menjadi alternatif pembelajaran visual yang efektif, tetapi juga menjadi contoh konkret bagaimana inovasi berbasis sumber daya lokal dapat dikembangkan dan diterapkan secara berkelanjutan di madrasah.
Keberhasilan penerapan media metaplan dalam pembelajaran sangat bergantung pada keterlibatan aktif berbagai pihak sebagai mitra. Masing-masing mitra memiliki bentuk partisipasi dan peran yang saling melengkapi untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan, khususnya bagi siswa dengan gaya belajar visual di madrasah. Berikut pembagian peran dan partisipasi dari masing-masing mitra yang terlibat dalam proses pengabdian ini bisa dilihat melaluitabel berikut:
|
No |
Mitra |
Bentuk Partisipasi |
Peran |
|
1 |
Guru Madrasah |
- Mengikuti pelatihan penggunaan media metaplan |
- Fasilitator pembelajaran berbasis visual |
|
2 |
Kepala Madrasah |
- Memberikan dukungan kebijakan dan waktu |
- Pengambil keputusan |
|
3 |
Komite Madrasah / Orang Tua |
- Mendukung pengadaan alat sederhana seperti kertas warna, spidol, dan papan |
- Pendukung logistik dan moral |
|
4 |
Dosen/Mahasiswa / Peneliti |
- Melatih guru dalam penggunaan media metaplan |
- Fasilitator peningkatan kapasitas guru |
|
5 |
Lembaga Mitra (PT/LSM) |
- Menyediakan narasumber dan pelatihan |
- Pendukung teknis dan akademik |
BAB III
HASIL SEMENTARA
Pelatihan Guru dan Penerapan Media Metaplan di Kelas
Solusi pertama yang ditawarkan dalam pengabdian ini adalah pelatihan guru madrasah dalam penggunaan media metaplan sebagai strategi pembelajaran visual yang partisipatif. Solusi ini berangkat dari kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kapasitas guru dalam menciptakan suasana belajar yang interaktif, terutama di lingkungan madrasah dengan keterbatasan teknologi. Pelaksanaan program dimulai dengan kegiatan pelatihan atau workshop yang difokuskan pada pengenalan gaya belajar visual, prinsip dasar penggunaan media metaplan, dan praktik penyusunan materi ajar berbasis visual. Dalam sesi ini, guru dilatih untuk menyusun peta konsep, grafik, dan alat bantu visual lain menggunakan bahan sederhana seperti kertas warna, spidol, dan papan metaplan.
Setelah pelatihan, guru didampingi secara langsung dalam proses implementasi media metaplan di kelas. Kegiatan ini menjadi bagian dari rutinitas pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran yang menuntut pemahaman konsep seperti IPA, IPS, atau Bahasa Indonesia. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya menyerap materi secara pasif, tetapi turut aktif menyusun dan mempresentasikan konsep yang dipelajarinya secara visual. Program ini juga mencakup kegiatan monitoring dan evaluasi yang melibatkan observasi kelas dan wawancara singkat, guna menilai efektivitas penggunaan media terhadap partisipasi dan pemahaman siswa. Hasil evaluasi ini dapat menjadi dasar untuk pengembangan lebih lanjut di masa mendatang.
Program “Metaplan Corner” di Madrasah
Sebagai alternatif lanjutan atau pelengkap dari pelatihan guru, solusi kedua yang ditawarkan adalah pengembangan “Metaplan Corner” di lingkungan madrasah. Metaplan Corner adalah sudut belajar visual yang dirancang secara khusus sebagai ruang bagi siswa untuk menuangkan ide, berdiskusi, dan memvisualisasikan konsep pelajaran secara kreatif. Langkah awal dari solusi ini adalah penyediaan sarana sederhana namun fungsional, seperti papan tempel, kertas warna, spidol, pin, dan alat bantu visual lainnya yang ditempatkan di sudut ruang kelas atau ruang belajar. Area ini menjadi ruang terbuka bagi siswa untuk membuat peta konsep, menggambar alur cerita, menulis ide, atau menampilkan hasil diskusi kelompok.
Selain penyediaan sarana, program ini juga mencakup pelatihan singkat bagi guru dan siswa mengenai pemanfaatan sudut tersebut dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Setiap minggunya, siswa dapat bergiliran menggunakan Metaplan Corner untuk menyusun dan mempresentasikan konsep materi secara mandiri atau berkelompok. Hasil karya mereka dipajang dan diapresiasi, menciptakan suasana belajar yang memotivasi, menyenangkan, dan berorientasi pada kreativitas. Melalui program ini, siswa tidak hanya terlibat secara kognitif tetapi juga secara fisik dan emosional dalam pembelajaran. Metaplan Corner menjadi simbol dari pembelajaran partisipatif dan berbasis visual yang dapat diterapkan secara berkelanjutan, bahkan tanpa dukungan teknologi canggih.
Solusi ketiga dalam program pengabdian ini adalah penyusunan dan pengembangan modul pembelajaran visual berbasis metaplan. Solusi ini bertujuan untuk menyediakan panduan praktis yang dapat digunakan oleh guru sebagai acuan dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran menggunakan media metaplan, secara sistematis dan terstruktur. Pengembangan modul ini dilakukan melalui kerja sama antara tim pengabdian, guru, dan pihak akademik. Modul dirancang agar kontekstual dengan kebutuhan madrasah dan disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku di tingkat Madrasah Ibtidaiyah. Kontennya mencakup:
Selain untuk mempermudah guru dalam menerapkan metode ini secara mandiri, modul ini juga berfungsi sebagai bahan ajar dalam pelatihan guru atau workshop internal madrasah, sehingga keberlanjutan program dapat lebih terjamin. Modul ini akan dicetak dan didistribusikan kepada mitra madrasah, serta disediakan dalam bentuk digital agar dapat diakses secara luas oleh madrasah lain dengan keterbatasan fasilitas. Solusi ini merupakan bentuk dokumentasi dan transfer pengetahuan yang penting agar inovasi pembelajaran tidak hanya berhenti pada praktik di lapangan, tetapi juga dapat direplikasi dan dikembangkan oleh guru-guru lain di berbagai daerah. Dengan demikian, program pengabdian ini dirancang dalam tiga solusi yang saling melengkapi:
Ketiga solusi ini bersama-sama diharapkan mampu memperkuat praktik pembelajaran visual berbasis partisipasi aktif, yang kontekstual dengan kondisi madrasah dan sumber daya yang tersedia.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilakukan di MI Nurul Mun’im Paiton berhasil menunjukkan bahwa media non-elektronik Metaplan efektif dalam mengoptimalkan gaya belajar visual siswa. Melalui pendekatan partisipatif dan berbasis praktik, siswa lebih mudah memahami materi pelajaran dengan bantuan tampilan visual seperti kertas warna, bagan, dan sistem kartu ide. Aktivitas ini mampu meningkatkan fokus, keterlibatan aktif, serta pemahaman konseptual siswa, khususnya yang memiliki kecenderungan belajar secara visual.
Penggunaan media Metaplan sebagai alat bantu visual membuktikan bahwa teknologi tinggi bukan satu-satunya solusi dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran. Justru, dengan pendekatan sederhana dan kontekstual seperti Metaplan, guru dapat menciptakan suasana belajar yang kreatif, interaktif, dan inklusif, tanpa bergantung pada perangkat digital yang belum tentu tersedia di semua satuan pendidikan. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan yang adaptif terhadap kondisi lokal serta kebutuhan belajar siswa secara individual.
Sebagai implikasi, guru di tingkat MI dan pendidikan dasar secara umum perlu lebih mengenali dan mengakomodasi gaya belajar siswa, termasuk gaya visual, kinestetik, dan auditori. Pelatihan dan pendampingan guru dalam penggunaan media pembelajaran sederhana seperti Metaplan perlu dilanjutkan dan diperluas. Selain itu, pihak sekolah dan dinas pendidikan dapat menjadikan hasil PkM ini sebagai dasar untuk mengembangkan modul pembelajaran visual yang berbasis sumber daya lokal, serta mendukung pembelajaran yang tidak bergantung pada teknologi digital semata.
DAFTAR PUSTAKA
Afriana, I., & Mulyawati, I. (2020). Analisis Gaya Belajar Visual Berbasis Model Pembelajaran Picture and Picture pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar. Media Bina Ilmiah, 18(5), 514–521.
Hulu, D. M., Pasaribu, K., Simamora, E., Waruwu, S. Y., & Bety, C. F. (2022). Pengaruh Penggunaan Media Visual Terhadap Hasil Belajar Siswa. Jurnal Kewarganegaraan, 6(2), 3056–3062.
Azizah, N. A., & Widyartono, D. (2024). Gaya Belajar Visual, Auditorial, dan Kinestetik: Temuan dari Siswa Kelas VII. Journal of Language Literature and Arts, 4(11), 1117–1123.
Hae, Y., Tantu, R. P., & Widiastuti, W. (2020). Penerapan Media Pembelajaran Visual dalam Membangun Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar. EDUKATIF: Jurnal Ilmu Pendidikan, 2(5), 522–528.
Rojanah, R. (2021). Penggunaan Media Visual terhadap Motivasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Fikih di Madrasah Ibtidaiyah. Journal of Elementary Educational Research, 1(1), 43–50.
Agustina, L. (2020). Pengaruh Penggunaan Media Visual dan Minat Belajar Siswa terhadap Hasil Belajar Matematika. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 10(2), 74–80.
Surwantini, E. (2016). Efektivitas Penggunaan Media Visual terhadap Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Siswa Kelas III SD Gugus 01 Imogiri, Bantul. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, 8(2), 8273–8282.
Al Wasyi, W. I. H., Sukmanasa, E., & Irdiyansyah, I. (2020). Analisis Gaya Belajar Visual pada Siswa Tunagrahita Kategori Sedang. Jurnal Pendidikan Kebutuhan Khusus, 7(2), 797–804.
Saputra, J. A. R., Listiani, I., & Walpaijin, G. I. (2022). Penggunaan Media Visual dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Sekolah Dasar. JPG: Jurnal Pendidikan Guru, 5(4), 15102–15109.
Sofiana, R. A., Fajrie, N., & Hilyana, F. S. (2023). Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual Terhadap Motivasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPA Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 7(5), 3027–3034.
Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291
Lembaga Pusat Layanan Masyarakat