UNUJA - Lembaga Pusat Layanan Masyarakat
Kamis, 21 Mei 2026
Diakses: 28 kali
L A P O R A N
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

PENERAPAN TEKNOLOGI IOT UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN PETANI DALAM MONITORING KUALITAS TANAH DAN NUTRISI TANAMAN MELALUI APLIKASI MOBILE
Disusun oleh:
|
Ketua Tim |
: |
Syaiful,M.Kom |
NIDN. 0720087601 |
|
Anggota |
: |
ACHMAD ZEINUL HASAN |
NIDN/NIM. 2321400037 |
|
Anggota |
: |
MUHAMMAD NAUFAL FRIADI |
NIDN/NIM. 2321400043 |
|
Anggota |
: |
MUHAMMAD HAZEL ZAHRAN SATRIONO |
NIDN/NIM. 2321400076 |
|
Anggota |
: |
MUHAMMAD HILMI NAFI' |
NIDN/NIM. 085895999375 |
Lembaga Penerbitan, Pengabdian, dan
Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M)
Universitas Nurul Jadid
Paiton Probolinggo
Tahun 2025
PENERAPAN TEKNOLOGI IOT UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN PETANI DALAM MONITORING KUALITAS TANAH DAN NUTRISI TANAMAN MELALUI APLIKASI MOBILE
Abstrak. Pertanian di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah kurangnya kesadaran petani dalam memonitor kualitas tanah dan kebutuhan nutrisi tanaman secara optimal. Hal ini menyebabkan penurunan hasil pertanian dan kurangnya efi siensi dalam penggunaan sumber daya alam. Mitra dalam pengabdian ini adalah sekelompok petani di desa yang mengalami kesulitan dalam mengelola data tentang kondisi tanah dan tanaman mereka. Bentuk pengabdian yang dilakukan adalah penerapan teknologi Internet of Things (IoT) yang dikombinasikan dengan aplikasi mobile untuk memonitor kondisi tanah secara real-time. Teknologi ini memungkinkan petani untuk memperoleh informasi yang akurat mengenai kadar kelembapan tanah, pH tanah, suhu, serta kadar nutrisi tanaman yang dapat diakses melalui aplikasi mobile yang user-friendly. Dengan solusi ini, petani dapat dengan mudah memantau kondisi pertanian mereka dan mengambil tindakan yang lebih tepat dalam pengelolaan lahan. Solusi yang ditawarkan juga dilengkapi dengan fi tur pemberitahuan atau notifi kasi jika ada parameter yang tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman, sehingga petani dapat segera melakukan perbaikan. Kesimpulannya, penerapan teknologi IoT melalui aplikasi mobile ini sangat efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan petani tentang pentingnya pemantauan kualitas tanah dan nutrisi tanaman, yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil pertanian dan keberlanjutan usaha tani mereka.
Kata kunci: aplikasi mobile; IoT; monitoring
Abstract. Agriculture in Indonesia faces various challenges, one of which is the lack of awareness of farmers in monitoring soil quality and plant nutrient needs optimally. This causes a decrease in agricultural yields and a lack of efficiency in the use of natural resources. The partners in this service are a group of farmers in a village who have difficulty managing data on the condition of their soil and plants. The form of service carried out is the application of Internet of Things (IoT) technology combined with a mobile application to monitor soil conditions in real time. This technology allows farmers to obtain accurate information on soil moisture levels, soil pH, temperature, and plant nutrient levels that can be accessed through a user-friendly mobile application. With this solution, farmers can easily monitor their agricultural conditions and take more appropriate actions in land management. The solution offered is also equipped with a notification feature if there are parameters that do not match plant needs, so that farmers can immediately make improvements. In conclusion, the application of IoT technology through this mobile application is very effective in increasing farmers' awareness and knowledge about the importance of monitoring soil quality and plant nutrients, which can ultimately increase agricultural yields and the sustainability of their farming efforts.
Keywords: mobile application; IoT; monitoring
BAB I
LATAR BELAKANG
Dengan adanya permasalahan-permasalahan tersebut, diperlukan suatu solusi teknologi yang dapat membantu petani untuk memantau kualitas tanah dan nutrisi tanaman secara lebih efi sien dan akurat. Penerapan teknologi IoT melalui aplikasi mobile diharapkan dapat menjadi solusi yang tepat untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan petani dalam pengelolaan pertanian mereka.
Dalam rangka menjawab permasalahan rendahnya kesadaran petani terhadap pentingnya pemantauan kualitas tanah dan kebutuhan nutrisi tanaman, kegiatan pengabdian ini berfokus pada penerapan teknologi IoT yang terintegrasi dengan aplikasi mobile. Untuk itu, dirumuskan beberapa pertanyaan utama sebagai landasan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berikut ini:
Tujuan dan Manfaat Penerapan Teknologi IoT untuk Meningkatkan Kesadaran Petani dalam Monitoring Kualitas Tanah dan Nutrisi Tanaman melalui Aplikasi Mobile adalah :
Sehingga mendorong perubahan perilaku petani dalam pengambilan keputusan berbasis data untuk mendukung pertanian yang lebih presisi dan berkelanjutan.
BAB II
METODE PELAKSANAAN
Rencana solusi yang akan dilaksanakan dalam pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan petani dalam memantau kualitas tanah dan nutrisi tanaman menggunakan teknologi IoT melalui aplikasi mobile. Tahapan pelaksanaan yang sudah direncanakan akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari sosialisasi hingga pemberdayaan berkelanjutan. Berikut penjelasan lebih rinci tentang setiap tahapan dan bagaimana melaksanakannya:
Pada tahap pertama, kami akan melakukan sosialisasi kepada petani mengenai pentingnya pemantauan kualitas tanah dan nutrisi tanaman dengan teknologi modern. Dalam sosialisasi ini, kami akan menjelaskan manfaat penggunaan sistem IoT dan bagaimana hal tersebut dapat meningkatkan hasil pertanian mereka. Target luarannya adalah semua petani yang terlibat memahami teknologi yang akan diterapkan. Keberhasilan tahap ini akan diukur melalui tingkat pemahaman petani, yang akan dipantau melalui kuesioner atau diskusi langsung. Monitoring (monev) akan dilakukan dengan mengevaluasi partisipasi dan respons petani terhadap sosialisasi.
Pada tahap kedua, perangkat IoT berupa sensor tanah (untuk mengukur pH, kelembapan, suhu) akan dipasang di lokasi pertanian yang telah disepakati. Tim teknisi bersama petani akan memastikan pemasangan alat dan konektivitas dengan aplikasi mobile berjalan lancar. Target luarannya adalah pemasangan alat yang berhasil dan terhubung dengan aplikasi mobile. Pengukuran ketercapaiannya dilakukan dengan memastikan alat dapat mengirimkan data secara real-time ke aplikasi. Monev dilakukan dengan mengamati kinerja alat di lapangan, apakah sensor bekerja sesuai dengan parameter yang diinginkan.
Tahap berikutnya adalah pelatihan kepada petani untuk menggunakan aplikasi mobile yang sudah terhubung dengan perangkat IoT. Aplikasi ini memungkinkan petani untuk memonitor kondisi tanah dan tanaman secara real-time, termasuk informasi terkait kelembapan, suhu, dan pH tanah. Target luarannya adalah petani dapat mengoperasikan aplikasi dengan mudah. Keberhasilan pelatihan diukur dengan mengadakan tes praktis atau observasi langsung untuk menilai kemampuan petani dalam menggunakan aplikasi. Monitoring dilakukan melalui sesi tanya jawab untuk memastikan bahwa petani sudah menguasai aplikasi.
Setelah alat terpasang dan petani terlatih, tahap uji coba akan dilakukan. Petani akan mulai menggunakan aplikasi untuk memantau kondisi pertanian mereka. Dalam tahap ini, kami
akan memonitor penggunaan aplikasi dan memastikan alat IoT berfungsi dengan baik. Target luarannya adalah petani dapat mengakses data secara real-time dan membuat keputusan yang tepat berdasarkan data tersebut. Ketercapaian akan diukur dengan pengamatan langsung dan evaluasi terhadap perubahan keputusan pertanian yang diambil berdasarkan data yang diterima melalui aplikasi. Monitoring akan dilakukan secara intensif dalam minggu pertama uji coba.
Pada tahap ini, tim PKM akan melakukan evaluasi berkala terhadap penggunaan teknologi oleh petani. Evaluasi dilakukan untuk melihat bagaimana pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan hasil pertanian. Indikator ketercapaiannya adalah peningkatan hasil pertanian dan perubahan dalam pola pengelolaan tanah oleh petani. Monitoring dilakukan dengan wawancara dan diskusi rutin dengan petani untuk mengetahui tantangan yang mereka hadapi serta memberikan bantuan teknis jika diperlukan.
Setelah implementasi teknologi IoT berjalan lancar, tahap terakhir adalah pemberdayaan berkelanjutan. Petani akan diberikan pelatihan lebih lanjut tentang bagaimana mengelola aplikasi dan perangkat IoT untuk mempertahankan dan meningkatkan hasil pertanian mereka. Penyuluhan juga dilakukan untuk meningkatkan kesadaran petani tentang pentingnya penggunaan data yang diperoleh melalui teknologi untuk pengambilan keputusan yang lebih baik. Keberhasilan pemberdayaan diukur dengan sejauh mana petani dapat mengelola teknologi ini secara mandiri setelah program selesai.
Rencana solusi ini berfokus pada implementasi teknologi IoT untuk meningkatkan kesadaran petani dalam memonitor kualitas tanah dan nutrisi tanaman. Dengan melibatkan petani dalam setiap tahap dan melakukan monitoring secara berkala, kami berharap dapat memberikan solusi yang efektif dan berkelanjutan bagi mereka, meningkatkan hasil pertanian, dan memberdayakan petani untuk menjadi lebih mandiri dalam pengelolaan pertanian mereka
Mitra dalam program pengabdian ini adalah kelompok tani yang berada di wilayah sasaran kegiatan. Partisipasi mitra dimulai sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan program. Pada tahap awal, mitra memberikan masukan terkait kondisi lahan pertanian, kebiasaan pemupukan, serta kendala yang mereka hadapi dalam memantau kualitas tanah dan nutrisi tanaman. Informasi tersebut sangat membantu dalam penyesuaian desain sistem dan pendekatan edukasi yang digunakan. Selama pelaksanaan kegiatan, mitra berperan aktif dalam penyediaan lokasi untuk pemasangan perangkat IoT, serta ikut serta dalam pelatihan penggunaan aplikasi mobile yang dikembangkan. Petani juga terlibat dalam uji coba sistem, memberikan umpan balik terkait kemudahan penggunaan aplikasi, serta keakuratan data yang ditampilkan. Selain itu, mitra membantu menyosialisasikan manfaat penggunaan teknologi ini kepada anggota kelompok tani lainnya, sehingga mendorong replikasi dan keberlanjutan penggunaan sistem. Dengan keterlibatan aktif mitra, diharapkan kegiatan ini tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga mampu menumbuhkan kebiasaan baru yang lebih berbasis data dan teknologi dalam praktik pertanian sehari-hari.
Dalam pelaksanaan program pengabdian ini, masing-masing pihak yang terlibat memiliki peran dan tanggung jawab sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya untuk mendukung kelancaran serta pencapaian tujuan program.
Ketua tim bertanggung jawab sebagai pengendali utama kegiatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga pelaporan. Ketua juga menjadi penghubung antara tim pelaksana dan mitra, serta memastikan bahwa seluruh tahapan kegiatan berjalan sesuai dengan jadwal dan target yang telah ditetapkan. Selain itu, ketua turut berperan dalam pelaksanaan pelatihan dan supervisi teknis penggunaan alat IoT dan aplikasi mobile.
Anggota tim mendukung kegiatan dalam aspek teknis dan edukatif, seperti perancangan sistem IoT monitoring tanah, pengembangan aplikasi mobile, serta penyusunan materi pelatihan bagi mitra. Anggota tim juga bertanggung jawab dalam pelaksanaan sosialisasi dan pendampingan langsung kepada petani, terutama saat uji coba alat dan evaluasi lapangan dilakukan.
Mitra, dalam hal ini kelompok tani, berperan sebagai pengguna utama teknologi yang diterapkan. Mitra menyediakan lokasi lahan untuk uji coba sistem, mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh tim, serta memberikan umpan balik mengenai efektivitas penggunaan alat dan aplikasi. Partisipasi aktif mitra sangat penting dalam proses adaptasi dan keberlanjutan penggunaan teknologi setelah program selesai.
Pembagian peran yang jelas ini bertujuan untuk menciptakan kolaborasi yang efektif antara tim pelaksana, mitra, dan mahasiswa agar hasil pengabdian dapat berdampak nyata dan berkelanjutan.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan program pengabdian masyarakat bertema “Penerapan Teknologi IoT untuk Meningkatkan Kesadaran Petani dalam Monitoring Kualitas Tanah dan Nutrisi Tanaman melalui Aplikasi Mobile” telah berjalan sesuai dengan tahapan yang direncanakan dalam proposal. Beberapa solusi yang ditawarkan telah mulai diimplementasikan, dan hasil sementaranya menunjukkan adanya respon positif dari mitra, terutama dalam hal peningkatan pemahaman dan adopsi teknologi. Adapun pelaksanaan dari masing-masing solusi yang telah dirancang dijelaskan sebagai berikut:
Penerapan Sistem Monitoring Kualitas Tanah Berbasis IoT
Solusi pertama yang diimplementasikan adalah pemasangan dan pengoperasian sistem monitoring kualitas tanah berbasis teknologi Internet of Things (IoT). Sistem ini terdiri atas perangkat sensor pH tanah, sensor kelembapan, serta sensor suhu lingkungan yang diintegrasikan dengan mikrokontroler ESP32. Pelaksanaan dimulai dengan survey lokasi, untuk memastikan bahwa area yang digunakan mitra cocok untuk pemasangan perangkat. Tim teknis kemudian melakukan instalasi perangkat di lahan milik mitra kelompok tani, dengan memperhatikan jarak dan cakupan sensor. Perangkat dikalibrasi terlebih dahulu untuk memastikan keakuratan pembacaan data.
Sensor-sensor ini diatur agar dapat mengirimkan data secara otomatis ke server berbasis cloud menggunakan koneksi WiFi. Data yang masuk kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik melalui antarmuka berbasis web dan aplikasi mobile. Hasil sementara menunjukkan bahwa perangkat berhasil mengirimkan data secara stabil dan akurat. Petani mulai memahami bahwa nilai pH tanah yang tidak sesuai dapat memengaruhi serapan nutrisi tanaman. Beberapa petani bahkan mulai mencatat hasil pembacaan sensor untuk dijadikan acuan dalam pemberian pupuk.
Pengembangan dan Pelatihan Penggunaan Aplikasi Mobile
Solusi kedua adalah pengembangan dan pendistribusian aplikasi mobile sederhana untuk memudahkan petani dalam memantau data hasil pembacaan sensor IoT secara real-time. Aplikasi dikembangkan secara sederhana dengan fitur utama berupa: Tampilan data sensor (pH, kelembapan, suhu) dan rekomendasi pemupukan berdasarkan nilai NPK ideal. Setelah tahap pengembangan awal selesai, dilakukan pelatihan penggunaan aplikasi kepada mitra. Pelatihan dilakukan secara langsung di lokasi pertanian, menggunakan smartphone milik petani agar mereka terbiasa dengan perangkat yang dimiliki sendiri. Hasil sementara dari solusi ini cukup menggembirakan. Sebagian besar petani dapat menggunakan aplikasi dengan bantuan pendampingan awal, dan mereka merasa terbantu karena tidak perlu lagi mengira-ngira kondisi tanah hanya berdasarkan pengalaman. Dengan adanya data yang disajikan secara visual dan mudah dipahami, mereka mulai melakukan penyesuaian dalam pola pemupukan dan penyiraman. Meskipun masih ada kendala teknis seperti keterbatasan sinyal internet di beberapa titik, solusi ini telah membuka wawasan petani terhadap manfaat penggunaan teknologi dalam mendukung produktivitas pertanian.
Peningkatan Kesadaran dan Edukasi Petani terhadap Monitoring Tanah dan Nutrisi
Solusi ketiga difokuskan pada aspek pemberdayaan pengetahuan dan perubahan perilaku petani melalui kegiatan edukasi dan penyuluhan langsung. Tim pelaksana menyusun modul singkat dan materi visual yang menjelaskan pentingnya monitoring kualitas tanah dan dampaknya terhadap pertumbuhan tanaman. Kegiatan edukasi dilakukan secara tatap muka dalam bentuk diskusi kelompok, dengan pendekatan partisipatif. Tim pengabdian menyampaikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami, disertai contoh nyata dari data yang dihasilkan sensor. Respon mitra terhadap kegiatan ini sangat baik. Petani mulai menyadari bahwa pemupukan berlebih tidak hanya boros, tetapi juga bisa merusak struktur tanah dalam jangka panjang. Dalam beberapa sesi diskusi, muncul keinginan dari petani untuk menerapkan pemupukan berimbang dan memanfaatkan data dari sensor secara rutin.
Secara umum, pelaksanaan program pengabdian masyarakat yang berfokus pada penerapan teknologi IoT dalam monitoring kualitas tanah dan nutrisi tanaman telah berjalan dengan baik dan mencapai sebagian besar target yang direncanakan. Evaluasi terhadap masing-masing solusi menunjukkan keberhasilan dalam aspek teknis, partisipasi mitra, serta peningkatan pemahaman petani terhadap pentingnya pengelolaan tanah berbasis data. Instalasi perangkat IoT berjalan lancar dan memberikan data yang akurat, yang selanjutnya dimanfaatkan oleh petani dalam pengambilan keputusan pemupukan. Aplikasi mobile yang dikembangkan juga diterima dengan baik oleh mitra, meskipun terdapat tantangan terkait keterbatasan jaringan di beberapa lokasi. Pelatihan yang diberikan telah meningkatkan kemampuan petani dalam menggunakan aplikasi dan memahami data digital, dengan bukti adanya perubahan perilaku dalam praktik pertanian mereka.
Keberhasilan program ini juga ditunjukkan dari munculnya kesadaran kolektif di antara anggota kelompok tani untuk menjaga kondisi lahan dan menyesuaikan strategi pemupukan berdasarkan data yang diperoleh. Namun demikian, keberlanjutan program ini masih bergantung pada dukungan teknis dan pemeliharaan perangkat. Oleh karena itu, dalam sesi akhir program, tim pengabdian telah melibatkan perwakilan kelompok tani untuk dilatih sebagai operator lokal guna memastikan kemampuan mereka dalam melakukan perawatan perangkat serta troubleshooting dasar. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan sistem secara mandiri setelah kegiatan PKM selesai.
Pelaksanaan ketiga solusi yang saling terintegrasi menunjukkan bahwa pendekatan teknologi yang dikombinasikan dengan edukasi partisipatif mampu mendorong transformasi pertanian konvensional menuju pertanian berbasis data. Pemanfaatan IoT tidak hanya menghadirkan inovasi teknis, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir petani terhadap pentingnya data dalam proses budidaya. Implementasi aplikasi mobile terbukti efektif dalam menyederhanakan akses informasi bagi petani, terutama karena disesuaikan dengan perangkat yang sudah mereka miliki. Sementara itu, program edukasi yang dilaksanakan secara langsung membangun kesadaran kritis akan pentingnya pemupukan berimbang, yang pada gilirannya mendukung keberlanjutan lingkungan.
Sebagai tindak lanjut program, beberapa agenda pengembangan telah dirancang untuk tahun mendatang. Pertama, perluasan cakupan sensor untuk mencakup parameter tambahan seperti kadar nitrogen tanah dan kelembaban daun, guna mendukung pengambilan keputusan yang lebih komprehensif. Kedua, pengembangan fitur aplikasi berbasis prediksi cuaca dan notifikasi otomatis untuk jadwal pemupukan dan penyiraman akan sangat bermanfaat. Ketiga, perlu dilakukan kolaborasi lanjutan dengan instansi terkait seperti penyuluh pertanian dan dinas pertanian daerah untuk memperluas adopsi teknologi ini ke kelompok tani lainnya. Selain itu, program pelatihan lanjutan dan sertifikasi kompetensi digital bagi petani dapat menjadi strategi berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas lokal dalam menghadapi tantangan pertanian modern.
BAB IV
PENUTUP
Berdasarkan hasil pelaksanaan dan capaian program pengabdian masyarakat, dapat disimpulkan bahwa penerapan teknologi IoT dan aplikasi mobile dalam monitoring kualitas tanah memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan perilaku petani, sekaligus menjawab permasalahan utama dalam pengelolaan lahan secara lebih terukur dan berbasis data. Program pengabdian ini telah berhasil membuktikan bahwa integrasi teknologi Internet of Things (IoT) dengan aplikasi mobile dapat meningkatkan kesadaran petani dalam memonitor kualitas tanah dan nutrisi tanaman secara real-time. Solusi yang diberikan mampu menjawab rumusan masalah terkait rendahnya akses dan pemanfaatan data oleh petani dalam pengambilan keputusan pemupukan. Indikator keberhasilan berupa keterlibatan aktif petani, penggunaan aplikasi, dan perubahan pola tanam menunjukkan bahwa tujuan pengabdian telah tercapai secara signifikan. Implikasi hasil program ini memberikan gambaran bahwa digitalisasi dalam bidang pertanian tidak hanya memungkinkan efisiensi teknis, tetapi juga membangun literasi digital di kalangan petani. Pendekatan edukatif yang disandingkan dengan perangkat teknologi menciptakan ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang dapat meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan pertanian, serta menjadi model pendampingan yang relevan untuk diterapkan pada kelompok tani lainnya di daerah berbeda. Keterbatasan / Rekomendasi beberapa kendala seperti keterbatasan jaringan internet dan kemampuan teknis petani dalam mengelola perangkat IoT menjadi tantangan yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu, direkomendasikan agar program lanjutan mencakup pelatihan intensif, penyediaan perangkat berbasis low-power wide-area network (LPWAN), serta kolaborasi dengan dinas pertanian guna memastikan replikasi dan keberlanjutan program secara lebih luas dan sistematis.
Dengan mempertimbangkan keberhasilan dan tantangan yang dihadapi, diperlukan penguatan pendampingan teknis, peningkatan kapasitas petani, serta dukungan dari stakeholder terkait agar inisiatif serupa dapat dilanjutkan, diperluas, dan berkontribusi secara berkelanjutan terhadap transformasi pertanian digital di tingkat akar rumput.
DAFTAR PUSTAKA
Khan, M. S., & Ali, A. (2018). IoT-based smart agriculture: Development and challenges. Journal of Computer Science and Technology, 33(2), 263-276.
Ghimire, S., & Zhang, X. (2019). A review on Internet of Things (IoT) applications in agriculture: Technologies, challenges, and future directions. Agricultural Systems, 172, 86-95.
Al-Kodmany, K. (2018). Smart cities and IoT in agriculture: Innovations for sustainable farming practices. Urban Science, 2(3), 1-17.
Li, Y., & Zhang, J. (2017). Design and implementation of a mobile app for IoT-based smart farming. Computers and Electronics in Agriculture, 141, 145-156.
Acosta-Coll, M., Anaya, D., Ojeda-Field, L., & Zamora-Musa, R. (2021). Low-Cost Smart Indoor Greenhouse for Urban Farming (pp. 120–132).
Elangovan, U. (2019). Smart Automation to Smart Manufacturing: Industrial Internet of Things. Momentum Press. Global Food Security Index. (2022). Country report: Indonesia.
Hati, A. J., & Singh, R. R. (2021). Smart Indoor Farms: Leveraging Technological Advancements to Power a Sustainable Agricultural Revolution. AgriEngineering, 3(4), 728–767.
Kementan. (2022). Hidroponik di Pekarangan: Mandiri Pangan, Keluarga Sejahtera. Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Kristianto, A., Chai, C. A., Chainatra, D., Onggie, K., & Alexander, W. J. (2023). Penerapan Smart Greenhouse Untuk Optimalisasi Hasil Pertanian Hidroponik dengan Implementasi IoT dan Machine Learning di Syifa Hidroponik. Dedikasi Sains Dan Teknologi Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(2), 225–233.
Paradiso, R., & Proietti, S. (2022). Light-Quality Manipulation to Control Plant Growth and Photomorphogenesis in Greenhouse Horticulture: The State of the Art and the Opportunities of Modern LED Systems. Journal of Plant Growth Regulation, 41(2), 742–780.
PMI. (2021). A Guide to the Project Management Body of Knowledge (PMBOK® Guide) – Seventh Edition and The Standard for Project Management.
Stein, E. W. (2021). The Transformative Environmental Effects Large-Scale Indoor Farming May Have On Air, Water, and Soil. Air, Soil and Water Research, 14, 1–8.
Tune, A. S. A. S., Hartaman, A., & Irawati, I. D. (2023). Rancang Bangun Sistem Penerima Visible Light Communication Dan Gateway Ip Pada Smart Indoor Farming Berbasis Internet of Things Sebagai Bagian Dari Penelitian Internasional Universitas Telkom Dan Multimedia University. E-Proceeding of Applied Science, 9(3), 1192–1199.Lampiran Jurnal








Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291
Lembaga Pusat Layanan Masyarakat