Logo

UNUJA - Lembaga Pusat Layanan Masyarakat

PKM Peningkatan Kesadaran Komunitas mengenai Infeksi TORCH sebagai Faktor Risiko Abnormalitas Janin

Bagikan:

Sabtu, 23 Mei 2026

Diakses: 5 kali

Responsive image

LAPORAN KEMAJUAN

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

 

 

 

 

 

A blue and gold logo

AI-generated content may be incorrect.

 
  A blue and gold logo

AI-generated content may be incorrect.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PKM Peningkatan Kesadaran Komunitas mengenai Infeksi TORCH sebagai Faktor Risiko Abnormalitas Janin

 

 

 

 

Disusun oleh:

 

 

Ketua Tim

:

Harwin Holilah Desyanti

NIDN. 0722129101

Anggota

:

Maryama Habibillah

NIM. 2331900009

Anggota

:

Anis Latifatul Jamilah

NIM. 2331900006

Anggota

:

Ayu Zuhriyatin

NIM. 2331900012

Anggota

:

Delatul Ummah

NIM. 2331900008

Anggota

:

Sayyidah

NIM. 2331900010

Anggota

:

Dewi

NIM. 2331900001

 

 

 

 

 

 

Lembaga Penerbitan, Penelitian, dan

Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M)

Universitas Nurul Jadid

Paiton Probolinggo

Tahun 2025

 

PKM Peningkatan Kesadaran Komunitas mengenai Infeksi sebagai Faktor Risiko Abnormalitas Janin

 

Abstrak

Rendahnya pengetahuan masyarakat pesisir terhadap infeksi TORCH sebagai salah satu penyebab kelainan bawaan pada janin menjadi perhatian penting dalam upaya pencegahan gangguan kesehatan sejak masa kehamilan. Masyarakat Desa Grinting Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo sebagai mitra kegiatan pengabdian ini menghadapi keterbatasan informasi dan akses layanan kesehatan reproduksi, termasuk kurangnya pemahaman tentang infeksi TORCH, cara penularannya, serta dampaknya terhadap kehamilan. Bentuk pengabdian yang dilaksanakan adalah edukasi komunitas melalui media audiovisual, leaflet, dan diskusi kelompok. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang infeksi TORCH dan pencegahannya, serta membekali kader kesehatan desa agar mampu melanjutkan edukasi secara berkelanjutan. Solusi yang ditawarkan meliputi: penyuluhan interaktif menggunakan video edukatif, demonstrasi praktik PHBS, serta penyebaran media cetak di lokasi strategis desa. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2025 dengan melibatkan 30 peserta. Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar peserta belum memahami infeksi TORCH. Setelah edukasi, post-test menunjukkan peningkatan pemahaman pada lebih dari 85% peserta. Kesimpulannya, program edukasi berbasis media visual dan partisipatif efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Rekomendasi dari kegiatan ini adalah perlunya integrasi topik TORCH ke dalam kegiatan posyandu dan forum kesehatan desa agar edukasi dapat dilakukan secara berkesinambungan.

 

Kata kunciabnormalitas janinedukasi kesehataninfeksi TORCHkomunitas pesisirPHBS

 

Abstract (English Version)

The low awareness of coastal communities regarding TORCH infections—one of the leading causes of congenital abnormalities in infants—has become a critical public health concern. Residents of Grinting Karanganyar Village, Paiton District, Probolinggo Regency face limited access to reproductive health education and services. Most of them lack knowledge about TORCH infections, how they spread, and their impact on pregnancy. This community service program was implemented in the form of community-based education using audiovisual media, printed materials (leaflets and posters), and group discussions. The program aimed to increase community awareness and knowledge of TORCH infections and preventive measures, while also empowering local health cadres for continued education. Solutions provided included interactive sessions using educational videos, live demonstrations of healthy hygiene practices, and the distribution of printed media at public locations. The program took place on May 27, 2025, involving 30 participants. Pre-test results indicated that the majority of participants were unfamiliar with TORCH. Post-test outcomes showed a significant improvement in understanding among over 85% of participants. In conclusion, participatory education using visual media was proven effective in improving health literacy. It is recommended that TORCH-related education be integrated into routine maternal and child health programs in village health posts.

 

Keywords: coastal community; congenital abnormalities; health education; hygiene practices; TORCH infection

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

    1. LATAR BELAKANG

Desa Grinting Karanganyar merupakan salah satu desa pesisir di Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan, buruh tambak, dan pekerja sektor informal. Secara sosial, masyarakat di desa ini hidup dalam ikatan kekeluargaan yang kuat dan memiliki nilai religius yang cukup tinggi, namun masih rendah dalam penerapan perilaku hidup sehat berbasis pengetahuan medis (Hidayati & Nugroho, 20219). Berdasarkan hasil wawancara dengan kader kesehatan setempat, terdapat beberapa kasus bayi yang lahir dengan kelainan bawaan, yang diduga berkaitan dengan infeksi selama masa kehamilan, meskipun belum banyak dilakukan pemeriksaan TORCH secara laboratorium karena keterbatasan akses dan biaya. Hal ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini terhadap infeksi TORCH yang berpotensi membahayakan janin (Nainggolan, Karo, & Sianturi, 2022; Zhang et al., 2022).

Dari sisi pendidikan, sebagian besar masyarakat hanya menempuh jenjang sekolah dasar hingga menengah pertama. Hal ini berdampak pada rendahnya literasi kesehatan, terutama terkait topik-topik spesifik seperti infeksi TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes Simplex Virus) yang dapat menyebabkan keguguran, kelainan bawaan, dan keterlambatan perkembangan janin (Adila, Ratnawati, & Putri, 2018). Meskipun layanan kesehatan tersedia dalam bentuk puskesmas pembantu dan posyandu, namun edukasi kesehatan yang disampaikan masih berfokus pada gizi balita dan imunisasi dasar. Materi mengenai infeksi dalam kehamilan belum menjadi agenda rutin dalam penyuluhan kesehatan di desa (Nursafitri, E, et al, 2021).

Infeksi TORCH (Toksoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes Simplex Virus) dikenal sebagai penyebab utama kelainan bawaan pada janin apabila infeksi terjadi selama kehamilan. Infeksi ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius seperti gangguan pendengaran, kebutaan, keterlambatan perkembangan, hingga keguguran dan kematian janin (Kemenkes RI, 2020). Namun, kesadaran masyarakat pedesaan, terutama yang tinggal di daerah pesisir, mengenai TORCH masih sangat rendah. Studi menunjukkan bahwa pelatihan kepada kader dan edukasi masyarakat secara terstruktur mampu meningkatkan pemahaman mengenai sindrom rubella kongenital dan infeksi lainnya yang berbahaya selama kehamilan (Herini et al., 2024 & Jain R, K, et al, 2020).

Selain itu, masyarakat juga menghadapi sejumlah permasalahan umum lain seperti keterbatasan air bersih saat musim kemarau, sanitasi lingkungan yang belum optimal di beberapa wilayah pesisir, serta minimnya akses terhadap informasi digital yang menyebabkan warga—khususnya perempuan usia subur—kurang mendapatkan edukasi dari sumber resmi dan terpercaya. Kondisi ini diperparah dengan masih adanya buta huruf fungsional pada sebagian warga lansia dan perempuan usia tua, sehingga informasi berbasis media cetak sulit menjangkau seluruh kelompok sasaran (Fathollahpour, 2021).

Permasalahan khusus yang menjadi fokus utama pengabdian ini adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan risiko infeksi TORCH terhadap janin, kurangnya edukasi kesehatan reproduksi yang terstruktur, minimnya upaya pencegahan seperti imunisasi rubella dan pemeriksaan laboratorium TORCH, serta terbatasnya media edukasi visual yang efektif dan mudah dipahami oleh masyarakat awam. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berupa edukasi berbasis audiovisual yang informatif, partisipatif, dan dikembangkan sesuai dengan karakteristik lokal agar dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pencegahan infeksi selama kehamilan untuk mencegah terjadinya abnormalitas janin (Dinkes Jatim, 2023; Nursafitri, Alamanda, & Khairinnisa, 2021).

 

    1. RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana upaya peningkatan kesadaran masyarakat Desa Grinting Karanganyar terhadap infeksi TORCH sebagai faktor risiko terjadinya abnormalitas janin dapat dilakukan melalui edukasi kesehatan berbasis komunitas?
  2. Apakah metode edukasi berbasis audiovisual dan media cetak mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pencegahan infeksi TORCH sejak sebelum kehamilan?

 

    1. TUJUAN DAN MANFAAT PENGABDIAN
      1. Tujuan Pengabdian
  1. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat Desa Grinting Karanganyar tentang TORCH TORCH sebagai salah satu faktor risiko utama terjadinya abnormalitas janin.
  2. Memberikan edukasi kesehatan berbasis komunitas yang interaktif dan mudah dipahami melalui media audiovisual dan media cetak.
  3. Mendorong terbentuknya perilaku preventif masyarakat dalam menjaga kesehatan reproduksi melalui deteksi dini dan pencegahan TORCH selama masa prakonsepsi dan kehamilan.
      1. Manfaat Pengabdian
  1. Bagi masyarakat (mitra):
    • Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran warga terhadap pentingnya deteksi dini dan pencegahan TORCH TORCH.
    • Memberikan keterampilan dasar tentang praktik pencegahan TORCH melalui demonstrasi langsung.
    • Memberikan akses terhadap media edukatif yang dapat digunakan secara berkelanjutan.
  2. Bagi kader kesehatan desa:
    • Menjadi perpanjangan tangan dalam penyuluhan yang berkelanjutan di tingkat komunitas.
    • Meningkatkan kapasitas kader sebagai agen perubahan dalam promosi kesehatan ibu dan anak.
  3. Bagi institusi pelaksana (perguruan tinggi):
    • Memperluas jangkauan pengabdian kepada masyarakat di wilayah pesisir yang masih menghadapi tantangan kesehatan reproduksi.
    • Mendukung implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bidang pengabdian dan publikasi ilmiah.

 

 

 

BAB II

METODE PELAKSANAAN

 

2.1 TAHAPAN PELAKSANAAN

Tabel 2.1 Tahapan Pelaksanaan PKM

No

Tahapan Kegiatan

Deskripsi Kegiatan

Pihak yang Terlibat

Waktu Pelaksanaan

1

Persiapan dan Koordinasi Mitra

Audiensi dengan kepala desa, perangkat desa, dan kader kesehatan untuk menjelaskan tujuan dan teknis kegiatan.

Tim PKM, Kepala Desa, Kader Kesehatan

Minggu ke-1

2

Survei Awal (Pre-test)

Pengisian kuesioner awal untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat terkait TORCH TORCH.

Tim PKM, Masyarakat Sasaran

Minggu ke-1

3

Pengembangan & Validasi Materi Edukasi

Penyusunan materi berupa video, infografis, dan leaflet. Materi divalidasi oleh dosen ahli agar sesuai dengan kondisi masyarakat.

Tim PKM, Dosen Ahli

Minggu ke-2

4

Pelaksanaan Edukasi Komunitas

Edukasi menggunakan metode ceramah interaktif, diskusi, dan audiovisual mengenai TORCH TORCH, dampaknya, dan pencegahan.

Tim PKM, Kader, Masyarakat

Minggu ke-3

5

Distribusi Media Edukasi

Penyebaran leaflet di lokasi strategis desa untuk memperluas jangkauan informasi.

Tim PKM, Kader, Perangkat Desa

Minggu ke-3

6

Evaluasi dan Monitoring

Pelaksanaan post-test dan observasi untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterlibatan peserta dalam edukasi.

Tim PKM

Minggu ke-3

7

Penyerahan Laporan dan Rekomendasi

Penyusunan laporan akhir dan rekomendasi tindak lanjut kepada pemerintah desa dan kader sebagai bekal edukasi berkelanjutan.

Tim PKM, Kepala Desa, Kader

Minggu ke-4

 

2.2 PARTISIPASI MITRA

Partisipasi mitra dalam pelaksanaan program PKM ini melibatkan berbagai elemen masyarakat di Desa Grinting Karanganyar. Bentuk partisipasi mereka dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Kepala Desa dan Perangkat Desa:
    • Memberikan dukungan administratif dan moral terhadap pelaksanaan program.
    • Memfasilitasi tempat pelaksanaan kegiatan seperti balai desa atau posyandu.
    • Membantu menyebarluaskan informasi kegiatan kepada warga.
  • Kader Kesehatan Desa:
    • Mendampingi tim pengabdian dalam pendataan peserta sasaran.
    • Membantu pelaksanaan pre-test dan post-test untuk evaluasi pengetahuan peserta.
    • Turut serta dalam mendampingi edukasi, simulasi praktik PHBS, serta diskusi kelompok.
    • Membantu penyebaran dan pemasangan media edukasi seperti leaflet dan poster.
  • Warga Masyarakat (Perempuan Usia Subur dan Keluarga Muda):
    • Mengikuti kegiatan edukasi secara aktif, mulai dari mendengarkan materi hingga terlibat dalam diskusi.
    • Berpartisipasi dalam praktik pencegahan infeksi seperti cuci tangan dan menjaga sanitasi.
    • Mengisi kuesioner pre-test dan post-test sebagai bagian dari evaluasi program.
    • Memberikan umpan balik dan testimoni yang menjadi bahan evaluasi kualitatif.

Dengan keterlibatan mitra pada setiap tahapan pelaksanaan, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan rasa memiliki dan memastikan keberlanjutan edukasi kesehatan secara mandiri di tingkat komunitas.

 

2.3 PERAN DAN TUGAS MASING-MASING ANGGOTA

Tabel 2.2 Peran dan Tugas Tim

No

Nama dan Jabatan

Peran dalam Kegiatan

Tugas Utama

1

Ketua Tim (Dosen Pengabdi)

Koordinator dan penanggung jawab utama program

  • Menyusun perencanaan program
  • Berkoordinasi dengan mitra
  • Menyusun dan memvalidasi materi
  • Memonitor dan mengevaluasi kegiatan
  • Menyusun laporan akhir dan publikasi

2

Mahasiswa (Tim Pelaksana Lapangan)

Pelaksana teknis kegiatan di lapangan dan dokumentator

  • Melakukan pre-test dan post-test
  • Mendampingi peserta edukasi dan praktik
  • Mendokumentasikan kegiatan
  • Membantu distribusi media edukatif

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan pada tanggal 24 Juni 2025 bertempat di Balai Desa Grinting Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Sasaran kegiatan adalah 40 orang peserta yang terdiri atas perempuan usia subur, ibu rumah tangga, dan keluarga muda. Mitra ini dipilih berdasarkan identifikasi awal bahwa masyarakat desa pesisir tersebut memiliki pengetahuan yang sangat rendah mengenai infeksi TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex) sebagai salah satu penyebab utama kelainan janin.

Berdasarkan proposal yang telah disusun, solusi utama yang ditawarkan dalam program ini adalah edukasi komunitas berbasis audiovisual yang didukung oleh materi cetak, diskusi kelompok, dan demonstrasi praktik pencegahan infeksi melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif yang mengedepankan keterlibatan langsung masyarakat dan kader kesehatan desa.

Kegiatan diawali dengan koordinasi teknis dan sosialisasi, dilanjutkan dengan pembukaan resmi oleh kepala desa. Tim pengabdi kemudian menyampaikan materi edukasi mengenai infeksi TORCH, jalur penularan, dampaknya terhadap kehamilan, dan cara pencegahannya. Materi disampaikan melalui video animasi edukatif, infografis visual, serta leaflet sederhana yang memudahkan pemahaman.

Setelah penyampaian materi, peserta diajak untuk berdiskusi aktif, menyampaikan pengalaman pribadi. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dan antusias dari peserta.

 

3.1 Hasil Pengabdian

Untuk mengukur keberhasilan edukasi, dilakukan evaluasi kuantitatif melalui pre-test sebelum kegiatan dan post-test sesudah kegiatan dengan instrumen kuesioner sederhana yang telah divalidasi oleh tim pengabdi.

3.1.1 Edukasi Audiovisual Interaktif

Solusi pertama yang dilaksanakan adalah penyampaian materi edukatif mengenai infeksi TORCH melalui media audiovisual. Kegiatan diawali dengan penayangan video berdurasi 8 menit yang menjelaskan definisi TORCH, cara penularan, dampaknya terhadap janin, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan oleh perempuan sebelum dan selama masa kehamilan.

Media ini dikembangkan dengan gaya bahasa yang sederhana dan dilengkapi ilustrasi visual sehingga dapat dipahami oleh peserta dengan latar belakang pendidikan rendah. Setelah video ditayangkan, fasilitator membuka sesi diskusi dengan menanyakan pengalaman peserta terkait kehamilan sebelumnya, serta persepsi mereka tentang penyakit menular pada ibu hamil.

Hasilnya, mayoritas peserta baru pertama kali mendengar istilah TORCH, meskipun beberapa di antaranya pernah mengalami keguguran berulang tanpa mengetahui penyebab pastinya. Diskusi berjalan interaktif dan membuka ruang kesadaran baru bagi peserta bahwa infeksi ringan sekalipun dapat berdampak besar bagi janin jika terjadi selama kehamilan.

Media audiovisual terbukti efektif menarik perhatian peserta, memudahkan mereka memahami konsep yang sebelumnya dianggap asing, serta menjadi pemicu diskusi yang lebih dalam.

 

3.1.2 Penyebaran Leaflet

Solusi kedua adalah penyebaran media edukatif cetak berupa leaflet dan infografis. Materi ini mencakup:

  • Pengertian infeksi TORCH dan gejalanya,
  • Cara penularan,
  • Waktu ideal pemeriksaan TORCH (pra-konsepsi),
  • Langkah pencegahan sehari-hari.

Leaflet dibagikan langsung kepada seluruh peserta. Desain media cetak ini menekankan aspek visual: penggunaan warna cerah, ilustrasi ibu hamil, dan tabel ringkas agar bisa dibaca dengan mudah. Informasi disampaikan dalam bahasa Indonesia sederhana, serta disesuaikan dengan konteks masyarakat lokal (misalnya menyebutkan makanan mentah laut yang sering dikonsumsi sebagai risiko toksoplasma).

Media ini tidak hanya berfungsi saat kegiatan berlangsung, tetapi menjadi alat edukasi yang bisa terus diakses oleh warga bahkan setelah kegiatan PKM selesai. Beberapa peserta menyampaikan bahwa mereka akan menempelkan leaflet di rumah untuk dibaca oleh anggota keluarga lainnya.

 

3.1.3 Demonstrasi Praktik Pencegahan Infeksi TORCH

Solusi ketiga adalah demonstrasi praktik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang relevan dengan pencegahan infeksi TORCH. Praktik yang dilakukan antara lain:

  • Cara mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik,
  • Menjaga kebersihan peralatan makan dan memasak,
  • Cara mengolah makanan laut dan daging agar matang sempurna,
  • Menghindari konsumsi buah/sayur mentah tanpa dicuci bersih.

Demonstrasi dilakukan secara berkelompok. Peserta diminta langsung mempraktikkan setelah menonton simulasi, dan fasilitator memberikan umpan balik. Tujuan dari sesi ini adalah menginternalisasi informasi dalam bentuk keterampilan praktis. Dari pengamatan di lapangan, para peserta terlihat antusias dan aktif, terutama saat mempraktikkan cuci tangan dan memilah makanan mentah. Sesi ini melengkapi pendekatan teori sebelumnya dan membantu menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan nyata.

 

3.2 Evaluasi Program

Evaluasi dilakukan melalui:

  • Pre-test dan post-test kuantitatif (10 soal pilihan ganda),
  • Observasi langsung keterlibatan peserta, dan
  • Wawancara tidak terstruktur singkat di akhir kegiatan.

3.2.1 Hasil Evaluasi Pre–Post Test

Tabel 3.1 Hasil Pre Test dan Post Test PKM

Indikator

Pre-test

Post-test

Mengetahui apa itu TORCH

8 (20%)

38 (95%)

Menyebutkan minimal dua jenis infeksi TORCH

4 (10%)

36 (90%)

Menyebutkan dua cara pencegahan infeksi TORCH

3 (7.5%)

35 (87.5%)

Termotivasi periksa sebelum hamil

38 (95%)

Terdapat kenaikan rata-rata skor sebesar 1,4 poin (dari 6,8 menjadi 8,2). Hal ini menunjukkan efektivitas media dan metode yang digunakan. Peserta yang semula tidak tahu sama sekali mengenai TORCH, kini mampu mengidentifikasi jenis-jenis infeksi serta langkah preventifnya.

3.2.2 Observasi Lapangan

  • 90% peserta aktif bertanya selama diskusi.
  • 100% peserta mengikuti praktik PHBS.
  • Leaflet dibawa pulang dan diminta tambahan oleh sebagian peserta untuk disebar ke keluarga.

3.2.3 Keberlanjutan Program

Setelah kegiatan PKM selesai, kader kesehatan dan perangkat desa berkomitmen untuk:

  • Melanjutkan edukasi TORCH pada forum posyandu, terutama kelompok ibu hamil dan menyusui.
  • Menggunakan leaflet sebagai materi tetap yang disampaikan kepada pasangan usia subur saat konseling KB.

 

3.3 Pembahasan

Pelaksanaan tiga solusi utama—edukasi audiovisual, penyebaran leaflet dan infografis, serta demonstrasi praktik PHBS—terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap infeksi TORCH sebagai salah satu faktor risiko terjadinya kelainan janin. Peningkatan rata-rata skor post-test sebesar 14% menunjukkan bahwa metode edukasi yang bersifat partisipatif dan visual mampu menjangkau komunitas dengan latar belakang pendidikan rendah, terutama di wilayah pesisir (Adila, Ratnawati, & Putri, 2018).

Keberhasilan ini juga menguatkan temuan dari Zhang et al. (2022) yang menunjukkan bahwa keterlambatan deteksi infeksi TORCH pada ibu hamil sering disebabkan oleh kurangnya edukasi masyarakat, terbatasnya akses pemeriksaan laboratorium, serta rendahnya literasi kesehatan. Dengan pendekatan yang berbasis komunitas dan melibatkan kader sebagai fasilitator lokal, program edukasi ini memiliki potensi keberlanjutan yang tinggi.

Keterlibatan kader desa dalam mendampingi peserta, menyampaikan materi ulang, serta menjangkau peserta yang tidak hadir menjadi kekuatan tersendiri. Hal ini sejalan dengan pendekatan WHO dalam promosi kesehatan berbasis masyarakat, di mana kader lokal dianggap lebih efektif dalam menjembatani informasi kesehatan kepada masyarakat dibanding tenaga profesional yang datang dari luar komunitas (World Health Organization, 2020).

Lebih lanjut, pendekatan edukasi berbasis audiovisual dan partisipatif juga diperkuat oleh penelitian Jain et al. (2020), yang menyatakan bahwa edukasi tentang TORCH yang disampaikan dengan media visual dan interaktif terbukti meningkatkan kepatuhan ibu terhadap pemeriksaan infeksi saat kehamilan. Sementara itu, studi oleh Hidayati dan Nugroho (2019) menekankan pentingnya peran keluarga dan komunitas lokal dalam keberhasilan promosi kesehatan, terutama pada komunitas pesisir yang cenderung memiliki kebiasaan turun-temurun dan keterbatasan akses informasi digital.

Sebagai tindak lanjut, program ini telah dirancang untuk dilanjutkan tahun berikutnya melalui integrasi topik TORCH ke agenda posyandu dan PKK, pelatihan kader desa secara berkala, serta penyebaran video edukatif pendek melalui kanal WhatsApp dan media sosial desa. Tim pengabdian juga telah menjajaki kerja sama dengan Puskesmas setempat untuk membuka akses pemeriksaan TORCH murah berbasis komunitas. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya menciptakan peningkatan literasi, tetapi juga mendorong pembentukan perilaku preventif yang berkelanjutan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Adila, W., Ratnawati, R., & Putri, E. N. (2018). Gambaran Pengetahuan dan Motivasi Ibu Hamil Tentang Pemeriksaan TORCH. Jurnal Ilmu Kebidanan, 8(1).

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. (2023). Profil Kesehatan Jawa Timur Tahun 2023.

Fathollahpour, A., Karbassi, G., Roshani, D., & Farahani, S. (2021). Sero-epidemiological study of TORCH infection in women of childbearing age in west Iran. Journal of Bacteriology & Mycology: Open Access, 10(1), 1–6.
https://doi.org/10.15406/jbmoa.2021.10.00325

Herini, E. S., Triono, A., Iskandar, K., Prasetyo, K., Nuady, A., Hadiyanto, M. L., ... & Paramastuti, A. (2024). Increasing knowledge and awareness of health workers and health cadres regarding congenital rubella syndrome in Imogiri II Bantul Primary Health Centre. Journal of Community Empowerment for Health, 7(3), 141–146. https://jurnal.ugm.ac.id/jcoemph/article/download/94085/40609

Hidayati, L., & Nugroho, H. S. (2019). Pendidikan kesehatan sebagai strategi promosi kesehatan di komunitas pesisir. Jurnal Promkes, 7(1), 1–9.
https://journal.unair.ac.id/JPK@promkes-journal.html

Hidayati, L., & Nugroho, H. S. (2019). Pendidikan kesehatan sebagai strategi promosi kesehatan di komunitas pesisir. Jurnal Promkes, 7(1), 1–9.
https://journal.unair.ac.id/JPK@promkes-journal.html

Jain, R. K., Shukla, R., Singh, P., & Kumar, R. (2020). Prevalence of TORCH infections and its associated poor outcome in high-risk pregnant women of central India: Time to think for prevention strategies. Indian Journal of Medical Microbiology, 38(3–4), 379–384.
https://www.ijmm.org/article.asp?issn=0255-0857;year=2020;volume=38;issue=3;spage=379

Jain, R. K., Shukla, R., Singh, P., & Kumar, R. (2020). Prevalence of TORCH infections and its associated poor outcomes in high-risk pregnant women of Central India: Time to think for prevention strategies. Indian Journal of Medical Microbiology, 38(3–4), 379–384.
https://www.ijmm.org/article.asp?issn=0255-0857;year=2020;volume=38;issue=3;spage=379

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Modul Pelatihan Bagi Pelatih Kader Kesehatan. Jakarta: Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan. https://repositori-ditjen-nakes.kemkes.go.id/441/

Nainggolan, N., Karo, H. Y. K., & Sianturi, M. I. B. (2022). Sosialisasi Penguatan Literasi Risiko Infeksi TORCH Pada Ibu Hamil di Klinik Harapan Bunda 2 Medan. Jurnal Abdimas Mutiara, 3(1), 445–448.

Nursafitri, E., Alamanda, C. N. C., & Khairinnisa, G. (2021). Gambaran Pemeriksaan Infeksi TORCH Pada Ibu Hamil. Technology of Medical Laboratory, 2(1), 1–6.

World Health Organization. (2020). Health Promotion and Disease Prevention through Population-Based Interventions.
https://www.who.int/activities/health-promotion

World Health Organization. (2020). Infectious diseases and maternal health.
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/infectious-diseases-and-maternal-health

Zhang, L., Wang, X., Liu, M., Feng, G., Zeng, Y., Wang, R., & Xie, Z. (2022). The epidemiology and disease burden of congenital TORCH infections among hospitalized children in China: A national cross-sectional study. PLOS Neglected Tropical Diseases, 16(10), e0010861. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0010861

Berita Terkait

PKM Edukasi Seksualitas Holistik sebagai Strategi Pencegahan Pernikahan Dini: Pendekatan Partisipatif pada Kelompok Pembinaan Kesehjateraan Keluarga (

Sabtu, 23 Mei 2026

PKM Peningkatan Kesadaran Komunitas mengenai Infeksi TORCH sebagai Faktor Risiko Abnormalitas Janin

Sabtu, 23 Mei 2026

Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor, Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291

Lembaga Pusat Layanan Masyarakat

© 2023 Universitas Nurul Jadid